
Satu Minggu kemudian.
Pagi ini Sahara seperti biasanya, dia bangun pagi dan bergegas membantu Bibi untuk melakukan tugas rumah. Berhubung weekend, dirinya tidak perlu terburu-buru membuat sarapan. Ketika dirinya sedang membersihkan gudang yang terletak di kamar paling ujung, dia membuka tirai jendela agar udara masuk ke dalam sana. Namun, ketika Sahara berhasil membukanya, dia melihat pemandangan yang sangat mengagumkan.
Bagaimana tidak, Ray berenang di pagi hari. Pria itu asyik menikmati air kolam tanpa menghiraukan orang disekitarnya. Tubuh atletis, wajah tampan, di tambah rambutnya yang basah membuat Sahara tidak ingin berhenti menatap.
"Ya Tuhan, dia sangat tampan. Tapi sayang, dia tidak menyukaiku." Sahara bergumam, dia kemudian sadar dan dengan cepat pergi dari jendela itu.
"Apa yang kau pikirkan Sahara? Bagaimana bisa kau haus akan kasih sayang seperti ini?" Sahara menggelengkan kepala lalu dia mulai membersihkan gudang.
Tak lama kemudian, Ray sudah selesai berenang. Dia berjalan menuju kamarnya dengan hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Handuk yang di bawa dia gunakan untuk mengeringkan rambut.
Saat Ray lewat dari depan Sahara yang kala itu sedang membersihkan debu di Gucci, dirinya terlihat santai. Berbeda dengan Sahara, gadis itu malu dan dia mengalihkan pandangan. Ketika Ray menjauh, barulah Sahara menatap punggung belakang pria itu yang terlihat kekar.
"Dia tampak santai dan tidak memikirkan perasaan orang lain." decak Sahara menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Dia melanjutkan tugasnya yaitu membersihkan debu.
****
Pukul sepuluh, Reva sudah bersiap untuk pergi ke villa bersama dengan Arron. Ya, weekend ini mereka merencanakan liburan bersama, dan tentu saja Reva mengajak Sahara karena dia tidak ingin temannya itu kesepian.
__ADS_1
Sahara terkejut mendengar ajakan dari Reva, entah mengapa dia masih terasa canggung ketika mengingat kejadian bersama dengan Arron malam itu. Namun, akibat desakan dan paksaan dari Reva, akhirnya Sahara mengalah.
Waktu berjalan dengan singkat, kini mereka bertiga sudah berada di dalam satu mobil yang sama. Sahara hanya menatap dari kaca spion ketika melihat kemesraan Arron dan Reva. Tanpa disadari, Arron pun mencuri pandang menatap Sahara yang tampak lesu.
Beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya mereka bertiga sampai di villa indah milik keluarga Arron. Sahara berjalan di belakang dengan membawa tasnya, sementara Reva dan Arron sudah mendahuluinya.
Tiba-tiba Sahara merasakan kepalanya begitu berat dan matanya berkunang-kunang.
"Aw, kepalaku pusing sekali." Sahara mencoba menahan rasa itu hingga di kamar. Tetapi, baru saja ingin membuka pintu, tubuhnya terjatuh ke lantai.
Arron yang memang kebetulan lewat untuk mengambil minuman terkejut ketika melihat Sahara yang tergeletak di atas lantai. Dia menghampiri gadis itu dan menepuk pipi Sahara dengan pelan.
"Sa, Sahara bangun!" ucap Arron pelan, dia pun akhirnya menggendong Sahara dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Beberapa menit kemudian Sahara pun sadar, Arron kembali menepuk pipi gadis itu sambil memanggil namanya.
"Sa, Sahara?" panggil Arron ketika jari tangan Sahara bergerak pelan.
Sahara membuka kelopak matanya, dia menatap ke sekeliling lalu berhenti tepat di wajah tampan Arron.
"T—tuan, kenapa Anda bisa berada disini?" Sahara bertanya dengan nada lemah.
__ADS_1
"Kau sakit?'' Arron bertanya lalu dia mendapatkan jawaban dari Sahara. Gadis itu menggeleng pelan.
"Saya baik-baik saja, Tuan. Hanya kepala yang sedikit pusing tiba-tiba."
''Kau sepertinya kelelahan, istirahatlah dan aku akan meminta penjaga disini untuk membelikan sesuatu agar sakit kepalamu bisa sedikit reda."
Sahara tersenyum manis, dia mengucapkan terima kasih lalu Arron pergi dari kamar itu sebelum Reva mencurigainya.
Ketika Arron keluar dari dari kamar Sahara, ternyata Reva sudah berada di luar kamar. Gadis itu mencari Arron karena dia ingin memakan sesuatu untuk mengganjal perutnya yang sedikit lapar.
"Sayang?'' Reva menghampiri Arron yang masih berdiri di depan pintu kamar Sahara.
"Sayang, kamu sudah selesai membereskan barang bawaanmu?"
"Ya!" Reva melirik ke arah pintu. "Kenapa kamu masuk ke dalam kamar Sahara?"
"Kamu jangan salah paham dulu, biar aku jelaskan. Gadis itu tadi pingsan dan aku membawanya masuk ke dalam kamar."
"Kenapa kamu tidak memanggil aku?"
"Aku tau kamu sibuk, Sayang. Lagipula, dia cuma pingsan biasa. Jika kamu tidak percaya, maka sebaiknya kamu masuk sendiri dan lihat keadaan temenmu itu." Arron berkata lembut.
__ADS_1
Reva yang penasaran langsung masuk ke dalam sana.
{Bersambung}