
Jimmy yang tidak melihat jalan tanpa sengaja menabrak Kiara.
Brugh!
"Aw," Kia memegang pundaknya lalu bergegas memunguti paper bag milik Meysa yang jatuh ke lantai.
"ASTAGA KIA! GIMANA SIH JALAN GAK LIHAT-LIHAT!" Mey membentak Kia dengan mada tinggi tanpa memperdulikan sekitar.
Jimmy membantu Kia dan mereka berdua berdiri seraya Jimmy yang memberikan paper bag milik Kia, matanya membola ketika dia teringat dengan sosok gadis di cafe tempo hari.
"Kau—?" ucapan Jimmy terpotong karena Mey dengan cepat menarik lengan Kia.
"Ayo kita pergi! Bikin malu aja bawa barang segitu bisanya jatuh." Mey berjalan cepat di depan Kiara.
"Nona! Kalung—" perkataan itu mengambang di udara ketika punggung belakang Kia sudah menghilang di balik tembok.
"Padahal aku ingin mengatakan jika kalung nya ada bersamaku, dua kali aku bertemu dengan gadis itu tetapi dia terus saja diam tanpa berbicara apapun. Dan itu tadi, wanita yang bersama gadis itu adalah Meysa mantan kekasih Raymond. Apa gadis itu adalah seorang pembantu?" Jimmy berbicara sendiri.
Pasalnya Jimmy memang tidak ingin tahu berita tentang Raymond sang musuh, bahkan Jimmy tidak peduli dengan siapa Ray menikah dan bagaimana kabarnya setelah kecelakaan maut yang menimpa Raymond.
"Tuan!" Bella menepuk pundak Jimmy dari belakang.
Jimmy yang sedang melamun langsung terkejut dan menoleh.
"Kau—" Jimmy mengusap wajahnya dengan kasar. "Sudah selesai? Ayo kita pergi,"
"Tuan tunggu!" cegah Bella.
Langkah Jimmy pun terhenti karena panggilan dari Bella.
"Aku ingin makan terlebih dahulu sebelum kita ke apartemen anda. Anda tahukah, jika bercinta juga membutuhkan asupan untuk tenaga supaya ekstra." ucap Bella jujur.
Jimny hanya tersenyum tipis dan berlalu ke tempat makan.
Beberapa jam kemudian.
Setelah selesai makan, Jimmy dan Bella memutuskan untuk langsung ke apartemen milik Jimmy.
Jimmy membuka pintu kamar apartemen dan menguncinya, dengan sedikit agresif Bella mendorong tubuh Jimmy agar tertidur di atas ranjang. Setelah Jimmy terlentang di atas ranjang, Bella mulai merangkak di atas tubuh Jimmy dan dia menggoda Jimmy dengan goyangan mautnya.
Sesudah sesi pemanasan mereka langsung masuk ke sesi bercocok tanam.
__ADS_1
"Ugh.." lenguhan terdengar keluar dari bibir masing-masing.
Jimmy terus memompa Bella dan terkadang Bella juga mengambil alih, hingga satu jam sudah permainan belum ada tanda-tanda Jimmy akan mengeluarkan lahar panasnya.
Nafas Jimmy terengah di atas buah melon yang super milik Bella.
"Tuan bagaimana?" Bella bertanya dengan lembut.
Jimmy mencabut senjatanya dan berbaring disebelah Bella.
"Entah mengapa saat ini aku tidak berselera untuk bercinta denganmu." ucapnya pasrah.
Bella melongo. 'Apa bagi Tuan Jimmy aku tidak lagi liar dalam bercinta?' batin Bella menduga.
"Apa yang sedang anda pikirkan?"
"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya ragaku disini sementara jiwaku entah pergi kemana." Jimmy meraup wajah.
"Apa kita akan melanjutkannya kembali?"
Jimmy menggeleng. "Kau bisa pergi, aku ingin sendiri."
Bella segera mengangguk dan memakai pakaiannya lalu pergi dari harapan apartemen Jimmy dengan membawa semua pakaian miliknya yang tadi dia beli di Mall.
"Kenapa aku malah kepikiran dengan pembantu itu?" gumam Jimmy memikirkan Kiara sembari menatap dirinya dari pantulan cermin.
•
•
•
Pukul 22.00WIB.
Di kamar milik Raymond
Ray memasukkan pakaiannya di dalam koper.
"Ray, kamu mau kemana?" Meysa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lingerie berwarna biru yang tadi dia beli.
Raymond hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
"Ray, aku bertanya padamu!" Meysa menarik lengan Mey hingga akhirnya mata mereka saling bertubrukan .
"Aku ingin tinggal di rumah Kiara selama dua minggu." ucap Ray datar.
Mey menggeleng. "Kamu harus disini aja. Ray, berapa tahun kita berpacaran dan ini balasan kamu untukku?" Mey menitikkan air mata.
Ray hanya memalingkan wajah dan menghembuskan nafas pelan.
"Maafkan aku, Mey. Semenjak mengenal Kiara dan ketika aku amnesia, entah mengapa cintaku untukmu bisa mati begitu saja." jelas Ray dengan tenang
"Kamu lihat, lihat aku! Aku sudah memakai pakaian ini agar membuatmu senang dan betah tinggal bersamaku, tetapi ternyata semua dugaan ku salah." Meysa terisak.
Ray hanya memejamkan mata sembari menunduk. "Sekali lagi maafkan aku," ucapnya dan langsung melangkah pergi sembari menggeret koper.
Saat ingin membuka pintu, langkah kaki Ray terhenti dan dia memegangi ujung meja karena kakinya seperti tidak sanggup untuk menumpu tubuhnya.
•
•
LAGI MIKIRIN BINI ORANG YA BANG? 🙄
**BELLA
•
•
TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA.
TERIMAKASIH BANYAK**
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
__ADS_1
SEMBARI MENUNGGU UP KIARA DAN RAYMOND, MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK ❤