
Tepat pukul sebelas siang, Jimmy dan Elsa berpamitan untuk pulang. Saat baru saja keluar dari rumah Raymond, Jimmy langsung menyapa Elsa secara langsung.
"Nona, apa kau ingin langsung kembali ke kantor ?" tanyanya mencoba berani.
Elsa melirik tanpa menjawab. Dia bergegas masuk ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan dari Jimmy.
Setelah mobil Elsa melaju pergi, Jimmy hanya mampu menghela napas berat. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah jutek Elsa.
Di dalam rumah, Raymond terus menatap Kiara tanpa berkedip hingga membuat Kia terheran.
"Mas, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kiara, saat ini mereka sudah berada di dalam kamar sedangkan Rayyan beristirahat di kamarnya sendiri.
"Pantas saja pria itu sulit melupakanmu." ucap Ray tiba-tiba dan berhasil membuat dahi Kiara mengerut.
"Maksud kamu pria siapa?"
"Itu, Tuan Jimmy. Kamu sangat cantik hingga dia sulit untuk melupakanmu."
Kiara terkekeh pelan. "Mas, kamu terlalu berlebihan. Dengerkan aku, bagaimanapun pendapat orang tentangku, aku tidak peduli. Intinya, aku sangat mencintaimu dan hanya menginginkan kamu." Kiara menggenggam jemari Ray.
Raymond terharu mendengar perkataan istrinya. "Aku tau itu."
"Oh ya, kenapa kamu pulang dari kantor? Bukankah kamu mengatakan jika siang ini ada meeting dengan klien dari Jepang?"
"Ya, aku sangat merindukanmu dan mengkhawatirkan keadaan putraku."
"Ck, kau menggodaku?" decak Kiara hingga pipinya bersemu merah.
__ADS_1
"Hei, aku serius. Em, berhubung Ray sudah tidur, bagaimana jika kita membuatkan adik untuknya?"
Kiara mendelik lalu dia tertawa lebar. "Aku sudah tahu jika pada akhirnya akan ada sesuatu yang kamu minta."
"Ayolah." Ray memasang puppy eyes.
"Mas, tap—"
Raymond membungkam mulut kita menggunakan bibirnya hingga wanita cantik itu kesulitan bernapas. Dia menepuk pundak Ray berulangkali dan pria itu melepaskan ciumannya.
"Uhuk. Mas, apa kamu ingin membunuhku?" Kiara terbatuk pelan.
Tanpa rasa bersalah, Raymond tertawa lebar. Dia mengelus kepala Kiara dan meminta maaf. Saat mereka ingin melakukannya lagi, tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka.
"Mas, itu—"
Kiara bergegas turun dari ranjang dan dia berlari menuju pintu. Setelah pintu dibuka, dirinya dapat melihat Rayyan yang berada di kursi roda.
''Sayang, kamu udah bangun?" Kiara bertanya sambil berjongkok dan menangkup wajah Ray.
Ray mengangguk. "Ma, Ray lapar."
Kiara menepuk dahinya. "Ya ampun, maafkan Mama , Sayang. Ini sudah waktunya jam makan siang, Mama sampai lupa untuk membangunkanmu.''
Raymond menghampiri istri dan putranya. "Kenapa, Sayang?"
"Mas, aku harus menyiapkan makan siang untuk Ray." Kiara berdiri dan dia bergegas keluar dari kamar.
__ADS_1
"Baiklah, Putraku. Apa kegiatan yang akan kita lakukan sembari menunggu Mamamu?" Raymond bertanya seperti seorang sahabat.
"Ray ingin bermain bola."
"Baiklah, ayo kita bermain bola!" Raymond mendorong kursi roda milik Rayyan masuk ke dalam kamar dan mereka mulai bermain.
Raymond melemparkan bola lalu Rayyan menangkap bola itu.
****
Malam harinya.
Elsa baru saja pulang dari kantor, dia diperintahkan lembur karena izin pergi disaat jam kerja. Bagaimana lagi, sebagai karyawan dia tidak bisa menolak perintah lembur dari atasannya. Hingga pukul sebelas pun dia belum juga sampai di apartemen.
Di pertengahan jalan, Elsa bingung karena mobilnya tiba-tiba berhenti. Dia berdecak kesal melihat keadaan mobilnya.
"Aku yakin pasti mobil ini ngambek lagi, setiap bulan sudah diservis tetapi masih saja seperti ini. Lama-lama aku akan menjualmu dan mencari yang baru.'' Elsa terus mengoceh sendirian sambil memegang ponsel. Dia memesan taksi online dan menghubungi bengkel agar mobilnya segera di derek.
Elsa menunggu taksi online pesanannya, dia keluar dari mobil dan menyandarkan tubuh di badan mobil tersebut. Ketika sedang asyik melihat ponsel, tiba-tiba dua orang pria yang kala itu menaiki motor berhenti tepat di depan Elsa.
Kedua pria tersebut sangat menyeramkan, sementara jalanan cukup sepi membuat Elsa sangat ketakutan.
•
•
Tbc
__ADS_1