
Malam hari pun tiba, Jimmy masih sibuk memantau penampilannya lewat cermin. Dia terlihat sangat tampan dengan kemeja berwarna hitam dipadu dengan jeans berwarna senada dan sepatu penthofel. Jimmy membenahi rambutnya hingga suara ponsel berdering menyadarkan dia.
Jimmy mengambil ponsel dan dia melihat siapa seseorang yang menghubungi dirinya. Seketika senyum Jimmy pun terbit, dia bergegas menjawab panggilan telepon.
"Halo, Elsa." sapa Jimmy bernada lembut.
📱"Kak Jim, apa Anda sudah bersiap? Saya sedari tadi menunggu pesan dari Anda yang mengatakan ingin mengirim lokasi cafe nya."
Jimmy menepuk dahinya. "Maafkan aku, El. Aku benar-benar lupa. Kamu sendiri, apa sudah bersiap?"
📱"Ya, aku tinggal meluncur ke tempat tujuan." jawab Elsa jujur.
"Baiklah, biarkan aku menjemputmu sekalian."
📱"Tapi—" Ucapan Elsa terpotong karena Jimmy menyelanya dengan cepat.
"Tidak ada kata tapi, El. Tunggulah, aku akan menjemputmu." putus Jimmy tidak ingin berdebat membuat Elsa akhirnya pasrah dan mengiyakan.
Jimmy dengan bersemangat keluar dari kamarnya membawa kunci mobil, dia bersenandung ria karena ingin bertemu dengan sang pujaan hati. Tak lupa Jimmy membawa sesuatu yang ingin dia berikan pada Elsa.
Melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, akhirnya Jimmy sampai di apartemen milik Elsa. Dia turun dari mobil dan kemudian berjalan mendekati pintu apartemen.
Tak lama, Elsa pun membuka pintu tersebut. Dia menyuguhkan senyum manisnya untuk Jimmy membuat pria itu ingin pingsan melihat senyuman Elsa.
"Hai." Jimmy menyapa dengan datar.
"Hai," jawab Elsa tetap tersenyum.
"Apa kita akan pergi sekarang?"
"Ya, tentu saja."
Keduanya berjalan bersamaan menuju mobil, Jimmy dengan segera membukakan pintu untuk Elsa. Setelah mereka sudah ada di dalam, kendaraan itu pun langsung meluncur ke tempat tujuan.
Memakan waktu dua puluh lima menit, sampailah mereka dia cafe Asteroid. Elsa cukup heran ketika dia melihat ke sekeliling.
"Kenapa tempatnya sepi?" Elsa bertanya penuh keraguan.
"Kamu tidak perlu takut, ada aku disini dan aku tidak akan berbuat macam-macam." Jimmy mencoba menyakinkan Elsa.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi, Jimmy menggenggam jemari Elsa dan mereka masuk ke dalam cafe. Tidak ada penolakan dari Elsa, dan hal itu membuat bingung.
Sesampainya di dalam, sama sekali tidak ada pengunjung dan cafe tersebut terlihat seperti sudah dihias begitu rupa.
"Apa kita tidak salah tempat? Kenapa suasananya seperti ada acara makan malam romantis?"
"Ikut saja, Elsa. Aku punya kejutan untukmu." Jimmy mengajak Elsa ke suatu arah hingga sampailah mereka di tempat tersebut.
Elsa terkejut sekaligus kagum melihat keindahan dekorasi yang ada di hadapannya saat ini. Dia tercengang sambil menatap ke sekeliling.
"Kak, Anda—"
Jimmy mengangguk, dia seakan paham dengan apa yang ingin Elsa tanyakan.
"Duduklah." Jimmy menggeserkan kursi untuk Elsa duduk.
"Ini sangat indah." ucap Elsa memberikan pujian.
"Kamu menyukainya?"
"Heum, sangat."
Elsa semakin bingung dengan kejadian saat ini tetapi dia hanya mampu mematung dalam diam.
''Kak, apa ini?"
Jimmy mengambil kotak cincin dan dia berjongkok di depan Elsa.
"Kak, apa yang Anda lakukan?" Elsa ingin membantu Jimmy berdiri tetapi pria itu tetap bersikukuh untuk berjongkok.
"El, pertemuan pertama kita sangat menarik menurutku. Dimana kamu mencintai seseorang dan orang itu ternyata sudah menjadi milik yang lain. Aku merasakan hal itu, dan aku tahu jika kamu juga merasakannya." Jimmy menjeda ucapan.
"Mungkin benar kata Tuhan jika jodoh pasti akan bertemu, seperti halnya kita berdua."
Elsa mengerutkan dahinya heran, dia bingung dengan semua ini.
"Aku yakin kamu pasti bingung kenapa aku berbicara panjang lebar. Baiklah, maafkan aku." Jimmy tersenyum lucu mengingat dirinya sendiri. "Jika kita mengikhlaskan kepergian seseorang yang kita cintai, maka Tuhan pasti akan menurunkan orang yang lebih patut mendapatkan cinta tulus dari kita."
"Kak, aku masih mencoba untuk mencerna semuanya. Anda bisa langsung mengatakan pada intinya saja."
__ADS_1
"Pertemuan pertama kita membuatku tertarik padamu, ku pikir awalnya itu semua hanya sebuah kekaguman, tetapi makin hari aku merasakan ada hal aneh dalam hatiku. Setiap bertemu denganmu jantungku berdegup tidak karuan, hatiku merasa tenang, pikiranku merasa damai, dan ragaku terasa nyaman ketika berada di sampingmu. Aku merasa ini cinta, Elsa. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mencintaimu meskipun kita baru saja berkenalan."
Elsa terdiam, jujur selama ini dia juga merasakan hal yang sama seperti Jimmy.
"Will you marry me, Elsa? Siapkah kamu mendampingi aku di segala suka dan dukaku? Siapkah kamu menjadi tulang rusukku untuk selamanya? Menjadi Mami dari anak-anakku kelak?"
Elsa melongo, ini sangat diluar ekspektasinya. Dia mengira malam ini hanya akan makan biasa tetapi nyatanya sangat sangat spesial.
"A—aku," Elsa terlihat gugup.
"Maaf jika aku terlihat terburu-buru. Aku tidak ingin kehilangan cintaku untuk kedua kalinya." ujar Jimmy jujur.
"Tapi, aku ini banyak kekurangan, kak Jimmy."
"Kita dipersatukan untuk saling melengkapi karena diantara kita pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Tidak perlu menjadi sempurna karena kita berdua akan saling menyempurnakan satu sama lain."
Elsa menggigit bibir bawahnya, dia terharu dengan perkataan Jimmy barusan.
"El, terima buket yang ada di tangan kananku jika kamu menerima lamaran dariku, dan terima buket di sebelah kiriku jika kamu menolakku."
Elsa masih tidak bergeming, tentu saja dia bingung harus menjawab apa. Dirinya dan Jimmy baru saja berkenalan beberapa Minggu yang lalu, mereka belum mengetahui sifat satu sama lain dan Jimmy sudah mau melamarnya.
"Tapi aku butuh waktu, kita baru saja kenal dan bahkan belum mengetahui watak satu sama lain."
"Aku tidak memaksamu, El. Kita bisa menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih terlebih dahulu, lalu jika kamu sudah siap maka aku akan datang untuk melamarmu."
Elsa menatap kedua bunga yang ada di tangan Jimmy, dia menarik napas dalam-dalam dan berdoa semoga saja pilihannya tidak salah. Dirinya mengambil buket yang ada di genggaman sebelah kanan Jimmy. Itu berarti, Elsa menerima hubungan spesial ini.
Jimmy tersenyum bahagia, dia menatap Elsa yang juga ikut tersenyum.
"Kamu tidak terpaksa 'kan, El?"
Elsa menggeleng. "Aku yakin kamu bisa membuatku bahagia." ucap Elsa yang juga tidak ingin kehilangan cinta untuk kedua kalinya.
Jimmy menyematkan cincin di jari manis Elsa, dia berdiri dan mengelus pucuk kepala gadis jutek kesayangannya. Musik biola mengalun sangat merdu membuat suasana menjadi romantis.
{Bersambung}
__ADS_1