
Dua bulan kemudian, hari ini adalah acara resepsi pernikahan Yola dan Rayyan. Mereka sudah mencari gedung yang sangat mewah dan elegan. Ray ingin pernikahannya terkesan bermakna karena menikah hanya satu kali seumur hidup. Itulah prinsip seorang Rayyan William.
Beberapa karyawan sempat heran dan kaget mendapat undangan pernikahan yang bertuliskan Rayyan William dan Yolanda Maharani. Mereka tidak menyangka jika Yolanda adalah calon istri dari pemilik RN Group.
Setelah melakukan beberapa prosesi, saat ini adalah waktunya pelemparan bunga. Reva ikut andil dalam hal itu, dia berdiri ditengah-tengah kerumunan para gadis dan pemuda lainnya. Hitungan ketiga, Ray dan Yola langsung melemparkan bunga itu. Lalu, bunga tersebut tiba-tiba jatuh ke tangan seorang pria dan tanpa sengaja Reva pun memegangnya.
Semua bergeser melihat Reva yang memegang bunga bersama dengan seorang pria. Ya, ternyata dia adalah Kimmy Albert. Duda tampan beranak satu.
Reva dengan cepat melepaskan tangannya, dia sedikit canggung ketika mata semua orang menatap ke arahnya.
"Wah, sepertinya sebentar lagi adikmu akan menyusul, kak Ray." ucap Edwin bersorak.
Reva terlihat malu, dia berlalu pergi dari sana. Lalu, Kimmy mengikuti Reva dari belakang.
"Ini untukmu."
Reva menoleh dan dia melihat bunga yang ada di dekatnya. "Tidak, terima kasih. Itu untuk Anda saja."
"Baiklah, jika kau tidak mau, maka saya akan membuangnya." Kimmy ingin melemparkan bunga itu tetapi di cegah oleh Reva.
"Tunggu!" Reva beranjak dari kursi. Dia mengambil bunga itu tanpa mengatakan terima kasih. Dirinya pun pergi berlalu dari sana membuat Kimmy menggelengkan kepala.
Di dalam gedung, Keluarga Sam datang dan pria paruh baya itu berjalan mendekati sang mempelai. Dia menatap wajah Yola, dia seperti mengingat wajah itu.
Yola heran karena pria yang seumuran dengan Ayahnya itu menatap tanpa berkedip. Dia berpikir jika pria tersebut akan marah padanya karena sudah berani membuat Ray menolak perjodohan dengan Beyza. Namun, semuanya di luar dugaan. Sam malah bertanya tentang orang tua Yola.
Ibu pun berjalan mendekati Yola, dia menatap pria yang ada di hadapannya dengan rasa terkejut.
__ADS_1
"T—tuan Sam?"
Sam menatap Ibu lalu Yola. "Kau—"
Ibu merasa sedih, dia berpikir jika ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan pada Yola siapa dia sebenarnya.
"Bu, ada apa ini?" Yola menjadi bingung.
"D—dia putriku? Valeria Albert?"
Yola melongo. ''Bu apa yang dia katakan? Tuan, saya ini Yolanda, bukan Valeria.''
"Yola, ada hal penting yang ingin ibu bicarakan padamu. Dan ibu rasa ini adalah waktu yang tepat untuk kamu mengetahui semuanya."
"Apa maksud Ibu?"
Perusahaan keluarga Albert dinyatakan gulung tikar, disatu sisi mereka harus memiliki dua orang putri yang baru saja lahir, dan disisi lain mereka harus menjual semua aset-aset berharga hingga tidak ada yang tersisa satu pun. Hidup mereka jatuh miskin, dan Sam Albert memberikan salah satu putrinya pada sang asisten rumah tangga yaitu Ibu Marwah.
"Bi, tolong jaga putri kami dengan baik. Saat ini kami sudah bangkrut dan jatuh miskin. Kami tidak sanggup mengurus dua orang anak sekaligus, kami tidak tahu jika semua ini akan terjadi." Sam berkata dengan nada sedih, begitupun sang istri.
"Tuan, saya akan menjaga Nona Vale dengan baik dan seperti anak kandung saya sendiri."
"Terima kasih, Bi. Tapi jika suatu saat perusahaan kami sudah berkembang kembali, apakah kami boleh bertemu dengan Valeria?"
"Tentu saja, Tuan. Nona adalah putri kandung Anda, kalian juga berhak atas dirinya."
Begitulah sekiranya saat Sam menyerahkan Yolanda pada Ibu Marwah. Tetapi, sejak Yolanda kecil hingga usianya menginjak dua puluh lima tahun, keluarga kandungnya tidak ada yang menjenguk ataupun bertanya kabar tentang Yolanda.
__ADS_1
Ibu tidak mempermasalahkan hal itu karena dia dan suaminya masih sanggup mengurus Yolanda, menyekolahkannya, dan memberikan apa yang Yolanda mau.
Flashback on:
Yolanda terkejut mendengar cerita itu. "Jadi, selama ini Yola tidak tinggal bersama dengan orang tua kandung?"
"Benar, Nak. Kamu boleh membenci Ibu karena Ibu tidak mengatakan hal yang sebenarnya."
Yolanda memeluk tubuh ibunya, dia terisak mengingat betapa besarnya perjuangan sang ibu yang membesarkan dirinya hingga seperti saat ini.
"Bu, bagaimana bisa Yola membenci ibu? Sementara Ibu adalah sosok wanita hebat yang selalu ada untuk Yola, selalu mencurahkan cinta kasihnya ke Yola, tidak pernah membandingkan Yola dengan siapapun. Yola malah sedih, mengapa tidak terlahir dari rahim ibu?"
Para tamu undangan bersedih menyaksikan kebenaran itu, mereka ada yang menangis mengingat kehidupan Yolanda.
"Nak, maafkan papa. Papa tidak bisa adil, kamu hidup penuh kekurangan sementara Beyza, dia hidup bergelimang harta."
"Tuan Albert, bagaimana bisa Anda mengatakan saya hidup kekurangan? Bahkan hidup saya sangat beruntung karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayangi saya, memiliki orang tua yang mencurahkan segala kasih sayangnya kepada saya, lalu dimana kurangnya? Saya tidak iri sama sekali dengan kak Beyza."
Sam meneteskan air mata, dia bersimpuh di hadapan Yola.
"Maafkan papa, Nak. Maafkan papa yang selama ini tidak pernah mencarimu dan malah sibuk mengembangkan bisnis."
"Bangunlah, Tuan." Yola membantu Sam. ''Orang yang lebih tua, dilarang bersimpuh seperti itu. Anda tidak perlu meminta maaf, disini tidak ada yang salah. Saya malah ingin berterima kasih kepada Anda, karena jika Anda tidak menitipkan saya ke orang lain maka saya tidak akan pernah tahu rasanya dihina, dicaci, difitnah, dan bekerja mati-matian demi membelikan obat untuk orang tua. Saya bersyukur bisa merasakan usaha sendiri tanpa bantuan dari orang tua, tanpa ketergantungan dengan orang tua."
Rayyan memeluk tubuh Yola, dia paham sekali bagaimana perasaan istrinya itu saat ini. Ray berjanji akan membahagiakan Yola dan Ibu, dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya.
Ibu menangis, Kiara mengelus pundak sang ibu sekaligus memenangkan beliau. Sementara suasana kini berubah menjadi haru.
__ADS_1
{**Bersambung**}