
Rara memuntahkan kembali makanan yang berada didalam mulutnya dan itu membuat mereka yang ada di meja makan terkejut.
"Ma, apa-apaan sih kamu?" tegur Bimo sembari menyenggol lengan Rara.
Rara meneguk air putih yang ada di depannya. "Nasi goreng macam apa ini?" bentak Rara dengan menatap tajam Kiara.
Kiara hanya kaget dan bingung.
"Ada apa sih, Ma?" Bimo menyenggol lengan Rara.
"Coba kamu rasain deh, Pa. Nasi goreng nya asin banget, masa kalian semua gak bisa merasakannya sih." Rara menyingkirkan nasi goreng yang ada depannya.
"Gak mungkin, Ma. Nasi goreng Papa enak kok, lidah kamu aja kali yang sedang dalam masalah." sahut Papa menelan nasi goreng yang sudah dia kunyah.
"Salah gimana? Coba Mama rasain nasi goreng punya Papa."
Bimo menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut Rara.
"Gimana?" Bimo bertanya dengan menatap wajah Rara yang tidak beraksi.
"Punya Papa enak," ucap Rara menelan makanannya.
"Punya Mel juga enak kok, Ma." sahut Amel.
__ADS_1
"Nasi goreng Mey juga enak, Kiara benar-benar seperti koki yang handal. Iya'kan Mel?"
Amel mengangguk setuju. "Sini coba, Mel cicip nasi goreng punya Mama." Amel menarik piring milik sang Mama.
Amel pun mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya lalu tak lama kemudian dia langsung memuntahkan nasi goreng itu dan meneguk air putih.
"Benar kata Mama, nasi goreng nya gak enak. Asin banget," Amel meneguk kembali air putihnya.
"Tapi, tapi bagaimana mungkin? Aku tidak menambahkan apapun ke dalam nasi goreng milik Tante." ucap Kia terbata.
"Kamu nuduh saya bohong? Amel udah mencicip rasanya, dan Amel bilang asin seperti nyatanya. Kalau kamu tidak percaya, kamu makan nasi goreng itu!" Rara menunjuk mangkuk yang ada di depannya.
Kiara yang memang penasaran langsung memakan nasi goreng yang ada di mangkuk itu dan beberapa saat kemudian Kia langsung memuntahkan kembali nasi goreng yang ada di mulutnya.
"Bagaimana rasanya, hm? Enak?" ucap Rara dengan tatapan tajam dan beranjak dari duduknya. "Aku sudah tidak berselera untuk sarapan. Amel, kalau kamu masih mau melanjutkan sarapan mu, Mama akan menunggu di mobil." Rara melangkah pergi dari meja makan.
"Mel juga udah kelar, keburu Mama ngambek." Amel berlari kecil pergi meninggalkan meja makan.
Sekarang tinggallah Ray, Kiara dan Meysa yang ada di meja makan.
"Em, Ray! Aku berangkat ke kantor dulu, senang bisa sarapan bersama. Dan Kia, saya akui masakan kamu enak." Mey beranjak dari kursi. "Kalau gitu aku permisi, mari." Mey berpura-pura sopan agar Ray tidak menjauhinya.
Setelah semuanya pergi dan hanya tinggal Ray, Kia menatap nanar nasi goreng yang sangat asin itu.
__ADS_1
"Kia, kamu gak perlu memikirkan hal itu lagi." Ray memegang pundak Kia.
"Tapi, Mas.. Aku benar-benar tidak mencampurkan apapun ke dalam nasi goreng itu, mengapa rasanya bisa berbeda?" Kia meneteskan air mata.
"Hei, kamu menangis? Hapus air matamu, jangan tunjukkan wajah jelek ini di depanku." Ray mengusap air mata Kia dengan lembut menggunakan Ibu jarinya.
"Mas, aku cuma bingung aja kenapa nasi goreng itu bisa berbeda rasanya? Aku memasak sekaligus danβ" Kia memeluk tubuh Ray.
"Sst.. Sudahlah, mungkin kamu tadi menambahkan begitu banyak garam sehingga nasi goreng yang terakhir dan kamu letakkan di mangkuk itu berbeda dari yang satunya." Ray mencoba menenangkan Kiara.
"Gak mungkin, Mas.." lirih Kiara dengan air kata yang menetes di pipi.
'Mengapa semuanya bisa seperti ini? Aku malu, padahal aku ingin mengambil hati Mama Ray tetapi ternyata usahaku gagal.' batin Kia bersedih.
FLASHBACK OFF.
β’
β’
β’
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH BANYAK ππ**