Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab #41


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Suasana berduka masih menyelimuti seluruh keluarga William, mereka belum bisa menerima jika sang Papa meninggalkan mereka semua dengan begitu cepat.


"Ma, Mama makan ya?" Amel terus mencoba membujuk sang Mama untuk makan, sebab akhir-akhir ini pola makan Rara tidak teratur.


Rara menggeleng. "Mama gak mau," air mata kembali menetes di pipi Rara, suami tercintanya kini tidak ada lagi disampingnya untuk menemani harinya, dan mengajaknya bersenda gurau seperti biasa.


"Ma, Mama jangan nangis lagi dong.." Amel memeluk tubuh sang Mama dari samping.


"Hiks.. Mama masih belum bisa menerima atas kepergian Papa kamu, Mel.." lirih Rara dengan terisak.


"Mama harus kuat, apa Mama gak kasihan sama Amel? Amel juga ikut sedih kalau melihat Mama menangis seperti ini.."


Rara segera menghapus air matanya dan menarik nafas untuk menetralkan detak jantung.


"Kamu gak pergi ke butik?" Rara mengelus rambut Amel.


Amel mengurai pelukan dan menatap wajah sembab milik sang Mama, dirinya menggeleng menjawab pertanyaan Rara.


"Besok aja, Mel hari ini belum fokus."


Rara memberikan senyum tipis kepada Amel, dia harus kuat dan tabah atas mematikan sang suami. Rara tidak ingin sang Putri bungsu ikut terpuruk jika dia menangis setiap hari.


"Mama makan ya?" bujuk Amel untuk kesekian kalinya.


Rara mengangguk dan membuka mulut untuk menerima suapan dari Amel.





Jimmy telah sampai di kantor dan dia langsung mendudukkan diri di kursi kebesarannya.


"Datang ke ruangan ku sekarang." ucap Jimmy lewat sambungan telepon.


Tok tok


Pintu ruangan diketuk.


"Masuk!" teriak Jimmy yang sedang mengecek laporan.


"Permisi, Tuan." pria berusia dua puluh lima tahun itu menunduk sopan.

__ADS_1


"Hm, apa kau sudah mengetahui pasaran tentang perusahaan RND?" Jimmy meletakkan map yang tadi dia pegang.


"Sudah, Tuan. Saya dengar jika perusahaan RND memang membeli saham dengan harga rendah tetapi mereka menyewakan kembali properti seperti Villa, tanah dan lainnya dengan harga rendah juga." ucap pria itu yang tak lain adalah tangan kanan Jimmy.


Jimmy hanya mengangguk. "Jadi itu yang membuat perusahaan mereka menanjak pesat. Apa Informasi ini sudah akurat?"


"Tentu, Tuan. Orang dalam perusahaan telah saya bayar untuk mencari informasi ini, jadi anda tidak perlu khawatir akan kejelasan info dari saya."


"Bagus, kau bisa pergi! Aku akan memikirkan rencana selanjutnya untuk mengalahkan RND Group."


"Saya permisi, Tuan." sang tangan kanan pergi dari ruangan Jimmy.


"Raymond Raymond Raymond... Aku tidak akan membiarkan perusahaan kalian lebih unggul dariku," Jimmy tersenyum licik.


****


Malam harinya.


Meysa sedang berada di kediaman William, dia sedang mencari perhatian agar terlihat sebagai wanita yang tulus meskipun tidak berjodoh dengan Ray, Mey juga akan terus berusaha untuk mendapatkan Ray kembali.


"Tante, Mey pamit pulang ya?" Mey beranjak dari sofa.


"Kamu mau pulang sendirian? Biar Ray antar saja ya, ini sudah hampir larut malam." pinta Rara dengan rencana tersendiri.


Mey hanya diam saja sembari tersenyum.


Raymond yang kala itu sedang berada di dalam kamar dan tengah ber-manja dengan Kiara akhirnya merasa kesal karena mendengar panggilan dari sang Mama.


"Mas, Mama manggil kamu itu." Ray terus menyembunyikan wajahnya di perut Kiara.


"Biarin ajalah, sayang. Aku lagi males keluar,"


"Tapi—" belum selesai berbicara, suara Rara terdengar memanggil Ray kembali.


Raymond menghela nafas kasar. "Mama ganggu aja, gak tau anaknya lagi pengen di manja apa." mau tidak mau Ray beranjak dari ranjang dan menarik tangan Kia.


"Aku dikamar aja," pinta Kia tidak ingin ikut.


Tanpa menghiraukan ucapan Kia, Ray langsung menarik tangan Kiara hingga Kiara akhirnya ikut keluar dari kamar.


Sesampainya di lantai bawah.


"Nah itu Raymond,"


Ray berjalan menghampiri sang Mama dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?"


"Meysa mau pulang, Mama minta kamu antar dia karena hari sudah hampir larut malam." Rara melirik sinis ke arah Kiara.


"Tapi, Ma—" Ray ingin menolak tetapi Rara dengan cepat menyela ucapan yang akan Ray katakan.


"Tidak ada tapi-tapi, kamu gak mau nurutin permintaan kecil Mama ini? Orang tua kamu tinggal Mama Ray, tolong kamu pahami sedikit saja." gertak Rara dengan suara sendu.


Ray melirik Kia sekilas dan terlihat Kia mengangguk pelan, lalu dengan pasrah Ray berjalan pergi dari ruang tamu.


Meysa tersenyum menang dalam hati.


"Mey pamit ya, Tante." Mey berpelukan dan cipika cipiki dengan Rara.


"Kia, saya pinjam suaminya sebentar ya?" Mey tersenyum remeh dan langsung pergi.


Kiara membalikkan badan guna kembali ke kamar.


"Tunggu!" teriak Rara mencegah langkah Kiara.


"Ini baru permulaan, gadis kampungan! Kau akan merasakan hal yang lebih dari ini jika masih tetap bertahan dengan Raymond, sampai kapanpun saya tidak akan merestui hubunganmu dengan Raymond. Kau harus banyak ngaca dan sadar diri!" setelah mengatakan kata kasar itu, Rara langsung pergi dari hadapan Kiara.


Kiara menatap punggung belakang Rara dengan nanar.


"Seburuk itukah aku hingga tidak pantas mendapatkan restu dari Tante Rara? Aku sadar aku hanya orang miskin, tetapi aku sangat tulus mencintai Raymond. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Terkadang aku berpikir, aku takut rumah tanggaku dan Ray akan hancur karena Tante Rara yang selalu ingin memisahkan kami berdua."


Kiara menitikkan air mata untuk kesekian kalinya.






**SEMOGA SEMUANYA CEPAT MEMBAIK KIA 💪



TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 😘

__ADS_1


MOHON MAAF BARU UP SORE INI 🙏🏻**


__ADS_2