Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #113


__ADS_3

Siang harinya, Reva mendapat telepon dari sang kekasih. Dia menjawabnya dan menyapa dengan penuh semangat.


"Selamat siang, Tuan Arron."


Terdengar kekehan kecil dari seberang sana.


📱"Selamat siang, Bidadariku. Apa yang sedang kamu lakukan? Aku menganggumu?"


"Aku baru selesai membereskan desain. Kamu ingin mengajakku makan siang 'kan?"


📱"Kamu sangat peka, Sayang. Aku akan ke butik dan menjemputmu sekarang juga." ucap Arron.


Reva terdiam sejenak, dia lupa jika ada Sahara bersamanya. Gadis itu menepuk dahi, dia membatalkan niatnya untuk makan siang diluar bersama dengan Arron.


"Sayang, apa kita tidak bisa makan di butik siang?''


📱"Memangnya kenapa?"


"Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya padamu nanti. Intinya, kamu bawa saja makan siang kita ke butik."


Arron menyetujui perkataan Reva, dirinya akan menuruti permintaan Reva selagi itu bisa membuat Reva bahagia.


Arron Anderson, putra tunggal dari pasangan Robert Anderson dan Kaily. Dia juga pemilik perusahaan Ander Group. Wajahnya yang sangat tampan, tubuh gagah berwibawa, dan ekspresi datarnya mampu membuat kaum wanita terpesona.


Arron dan Reva sudah menjalin hubungan selama dua tahun, saat Reva masih kuliah dulu. Saat ini, keduanya pun ingin berkomitmen serius yaitu menjalin hubungan ke jenjang pernikahan. Bahkan, Arron sudah mengambil ancang-ancang untuk melamar Reva.


Begitu banyak para gadis yang rela mengorbankan kehormatan mereka demi Arron, tetapi pria itu selalu menolaknya karena dia sangat mencintai Reva. Gadis dengan sikap manja, kekanak-kanakan, dan selalu berpikir positif itu mampu membuat seorang Arron tidak bisa berpaling ke lain hati.


****

__ADS_1


Di butik, Sahara hanya berdiam diri di dalam ruangan kerja milik Reva. Dia terus memperhatikan Reva yang sibuk membuat desain. Dirinya berkhayal, jika dia yang menjadi Reva, maka dirinya pasti akan sangat beruntung.


"Nona, saya permisi keluar sebentar. Apa boleh?"


Reva yang sedang memeriksa hasil desainnya langsung menoleh ke arah Sahara.


"Kenapa harus meminta izin? Tentu saja boleh, tapi Anda jangan kabur, Nona."


"Saya tidak mungkin kabur, Nona. Nona Reva sangat baik dan bersedia menolong saya serta memberikan pekerjaan."


Ya, Reva menjadikan Sahara sebagai pegawai di butiknya. Tentu saja hal itu membuat Sahara bahagia karena pada akhirnya dia bisa mendapatkan gaji. Bahkan, Reva mengajak Sahara untuk tinggal dirumahnya. Sahara sempat menolak, tetapi Reva sedikit memaksanya.


Setelah mendapat izin dari Reva, Sahara berjalan keluar dari ruangan. Dia melihat berbagai macam pakaian hasil rancangan Reva.


"Nona Reva memang sempurna, sudah cantik, orang kaya, kreatif lagi. Berpendidikan, lihat saja hasil rancangannya sangat bagus dan mewah. Bahkan, harganya terbilang murah untuk semua kelas.''


Sahara terus berjalan hingga dia tidak melihat ada orang yang ingin lewat dari sampingnya. Gadis itu berbalik badan dan menubruk seseorang.


Sahara terjatuh di dalam pelukan seorang pria yang tak lain adalah Arron. Tanpa sengaja mata mereka bersitubruk, dan membuat Sahara hampir saja tersenyum melihat ketampanan Arron.


Arron langsung menarik tangannya dan membuat Sahara terjatuh ke lantai. Gadis itu meringis kesakitan lalu dia beranjak dari memegang b*k*ngnya.


"Kau mencari kesempatan?"


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu, tadi saya tidak tahu jika ada orang di belakang saya."


''Kau pegawai baru disini?"


Sahara mengangguk.

__ADS_1


"Pantas saja." Arron tersenyum remeh.


Berhubung jam makan siang, butik itu pun tutup dan para pegawai lainnya sedang makan di ruang khusus istirahat.


Saat Arron ingin kembali membuka mulutnya, terdengar suara Reva yang memanggil.


"Sayang!" Reva melambaikan tangan dan gadis manja itu berjalan anggun ke arah Arron.


Sahara mengerutkan dahi, dia sedang mencerna panggilan dari Reva barusan.


Sepasang kekasih itu saling berpelukan, Arron mengelus pucuk kepala Reva dengan lembut. Dia bahkan tidak peduli masih ada Sahara disana.


"Sayang, apa kamu sudah sampai dari tadi?"


Arron menggeleng. "Tadi ada sedikit masalah, maka dari itu aku tidak langsung ke ruanganmu." ucapnya seraya melirik Sahara yang hanya menunduk.


Reva paham maksud dari kekasihnya. "Oh, ya. Dia Sahara, temanku sekaligus pegawai baru disini."


"I know. Baiklah, ayo kita makan siang sekarang.''


"Sahara, ayo ikut makan bersama kami."


Sahara tidak ingin menganggu keduanya, dia menolak dengan halus meskipun ada sedikit paksaan dari Reva.


"Ya sudah, jika kau tidak mau makan bersama kami—" Reva mengambil satu kotak makan dan memberikannya pada Sahara. "Ini untukmu, makanlah. Di ujung, kau bisa berbelok kanan dan pegawai lainnya sedang beristirahat disana." ucap Reva menunjukkan tempat.


Sahara mengangguk. "Saya permisi, Nona, Tuan." dia berjalan meninggalkan Arron dan Reva.


Sementara Arron dan Reva, keduanya berjalan ke ruangan kerja milik Reva.

__ADS_1


{Bersambung}



__ADS_2