Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #97


__ADS_3

Jimmy berusaha membujuk Elsa, dia menggenggam jemari kekasih hatinya itu dengan sangat lembut.


"El, kamu mau mendengarkan penjelasan dariku 'kan?"


"Apa lagi yang harus dijelaskan? Semuanya sudah terbukti, kau bermain dibelakangku sedangkan aku, aku setia dan tidak pernah berhubungan dengan pria manapun. Demi apa? Demi dirimu, demi menjaga kepercayaanmu! Tapi, sekarang kau yang menghancurkan perasaan dan harapanku. Kenapa? Apa salahku?" Elsa berkata dengan nada sedih.


''Sayang, aku mohon jangan bersedih. Maafkan aku, aku sama sekali tidak tahu jika dia ada di dalam apartemenku." Jimmy menatap Elsa dengan tulus. "El, tidak semua yang kamu lihat sama seperti yang kamu pikirkan. Aku mohon percayalah padaku."


Elsa meneteskan air mata, baru kali ini dia merasa sangat rapuh. Mungkin saja karena dirinya sudah sangat mencintai Jimmy dan takut kehilangan.


"Sayang, aku mohon jangan menangis. Cuma kamu satu-satunya dihatiku, aku hanya menginginkan kamu yang menjadi pendamping hidupku."


"Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam apartemenmu, hm?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


Elsa melepaskan pelukan Jimmy, dia menjaga jarak dan menghapus air matanya dengan kasar. Jimmy yang melihat ada kemarahan di mata Elsa hanya mampu terdiam.


"Biarkan aku sendiri, aku mohon jangan menggangguku terlebih dahulu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan merilekskan pikiranku.''

__ADS_1


Jimmy mengangguk paham, dia sudah tahu jika Elsa akan membaik dengan sendirinya. Dia hanya perlu bersabar dan terus membujuk serta memanjakan Elsa.


"Aku pamit pulang." Elsa pergi dari hadapan Jimmy, dia menangis di sepanjang jalan menuju mobilnya.


"Aku harap kamu tidak akan mengambil keputusan yang bisa menghancurkan harapanku, Elsa." ucap Jimmy berdoa sambil menatap kepergian Elsa. Dia menghembuskan napas berat lalu menoleh ke arah apartemen dengan tatapan tajam.


"Alena! Dia harus bertanggungjawab untuk hal ini." geram Jimmy penuh penekanan.


Jimmy berlari masuk ke dalam apartemen, dia membuka pintu dengan kasar hingga berbunyi dentuman di dinding. Alena yang kala itu sedang duduk di cermin hias langsung menoleh, sejujurnya dia sangat terkejut akan ke datangan Jimmy yang tiba-tiba.


"Jim, kau sudah kembali?" Alena tetap berusaha setenang mungkin.


"Apa urat malumu sudah putus? Hah!" teriak Jimmy tepat di depan wajah Alena.


"Jim, apa yang kau katakan? Apa salahku? Kenapa kau membentakku? Aku disini karena ingin menemanimu, tapi bukannya berterima kasih kau malah memarahiku." ujar Alena berusaha tetap sopan.


Jimmy benci melihat gelagat itu, dia berdecih dan tersenyum sinis. "Kau pura-pura bodoh atau memang bodoh, Alena? Kau sadar 'kan jika kelakuanmu membuatku dan Elsa bertengkar?"


"Hei itu bukan salahku! Kekasihmu saja yang terlalu overthinking.

__ADS_1


"Dia tidak overthinking! Kau yang membuatnya menjadi seperti itu! Aku heran, kenapa kau bisa berada di dalam apartemenku dan siapa yang sudah memberimu izin? Dengarkan aku, Alena. Kau itu hanya teman masa kecilku, tidak lebih! Jadi, jangan bersikap gegabah atau kau akan hancur!" ancam Jimmy membuat Alena menelan ludah.


"Jim, kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Heh, aku tau kau hanya menggertakku saja." Alena meraba dada Jimmy dan membuat sang empunya menangkap tangan itu lalu mencengkeramnya dengan erat.


"Jangan bersikap sok manis, Alena. Aku tidak akan tergoda dengan wanita murahan sepertimu! Keluar dari apartemenku atau aku yang harus menyeretmu?" Jimmy berkata dengan penuh penekanan.


Alena geram melihat sikap Jimmy, dia berdecak kesal lalu melepaskan tangannya dari genggaman Jimmy. Dirinya menghentakkan kaki dan menutup pintu dengan kencang.


Setelah Alena pergi, Jimmy memukul udara dengan emosi yang hampir meledak. Dirinya sangat lelah karena baru pulang bekerja, dan sesampainya di apartemen dia malah dihadiahkan dengan masalah seperti saat ini.


"Huft, sungguh melelahkan. Sepertinya aku harus segera menikahi Elsa agar tidak ada kesalahpahaman apa pun lagi." gumam Jimmy berpikir, dia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berisitirahat agar otaknya bisa fresh dan rileks. Dia harus membujuk Elsa lagi dan memanjakan pujaan hatinya itu.


Di luar apartemen, Alena menatap lurus ke depan. Dia tidak tahu harus dengan jalur apalagi untuk mengambil hati Jimmy.


"Apa aku harus menjebaknya dan membuat dia menghamili aku? Heh, sangat memusingkan." Alena terus berpikir keras untuk rencana selanjutnya. "Jika Jimmy tidak bisa menjadi milikku, maka dia juga tidak bisa menjadi milik wanita lain. Aku tidak mungkin menyingkirkan pria yang ku cintai, berarti aku harus menyingkirkan duri penghalangnya yaitu Elsa." lanjutnya seraya tersenyum jahat.


Alena pergi menuju mobilnya dan dia akan kembali ke hotel.


{Bersambung}

__ADS_1



__ADS_2