
Tepat hari ini Reva berulang tahun, berhubung weekend dirinya ingin merayakan hari spesialnya itu bersama dengan sang kekasih. Tetapi, hal yang biasa Reva dapatkan saat dirinya berulang tahun kini belum dia dapatkan dari Arron. Reva tidak ingin mengambil pusing, dia bergegas bersiap untuk pergi ke apartemen milik Arron.
Gadis itu sudah mengirimi pesan, dia berkata pada kekasihnya akan datang berkunjung ke apartemen. Tetapi, belum ada jawaban dari Arron. Reva berpikir jika pria itu mungkin masih tidur.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Reva sampai di apartemen itu. Dia berjalan mendekati pintu sambil membawa satu kotak kue.
"Sayang, sayang!" Reva memanggil sambil mengetuk pintu, sama sekali tidak ada jawaban.
Reva yang memiliki kunci cadangan langsung membuka pintu, saat berada di dalam sana, Reva mendengar suara seseorang sedang mengobrol. Dia sengaja tidak memanggil Arron karena merasa curiga. Dirinya melangkah dengan pelan seperti maling, ketika melewati sofa, Reva melotot. Dia melihat ada tas seorang wanita disana.
"Arron," gumamnya pelan dan bergegas menuju ke kamar.
Reva tidak langsung masuk ke dalam kamar itu, dia menempelkan telinganya di daun pintu. Terdengar suara desa*h*an dari dalam sana. Napas Reva mulai tidak beraturan, dia memejamkan mata sejenak. Tangannya terulur memegang handel pintu, tubuhnya gemetaran saat suara des*h*an itu tak kunjung berhenti.
Pintu berhasil dibuka, dan betapa sakitnya hati Reva ketika melihat dua orang manusia berbeda gender itu sedang melakukan hal tidak senonoh di atas ranjang.
Tubuh Reva bergetar, kue yang dia pegang hampir saja jatuh ke lantai. Kakinya seperti enggan untuk melangkah, lidahnya kelu seakan membeku. Perlahan air mata menetes. Sementara Arron, pria itu tidak menyadari kedatangan Reva karena dia sedang dilanda kenikmatan.
"BIADAB KALIAN!" teriak Reva membuat kedua orang yang berada di atas ranjang itu menghentikan aktifitas mereka.
__ADS_1
Keduanya terkejut, Arron langsung menyudahi permainannya dan dia bergegas meraih celana lalu memakainya. Reva berjalan cepat ke arah ranjang, dia menatap Arron dengan benci dan Sahara dengan jijik.
"Sayang, aku—"
Reva mengangkat sebelah tangan. "Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Hah! Kenapa kau tega melakukan hal seperti ini padaku, Arron? Apa salahku? Kenapa kalian tega menyakiti aku?'' Reva terisak, air mata mengalir deras di pipinya.
"Re, sebenarnya —"
"Sudah berapa lama?" Reva menyeka air mata lalu dia menatap manik mata milik pria yang dia cintai itu.
Arron menarik napas. "Tiga bulan."
Reva tersenyum miris. "Tiga bulan? Tiga bulan kalian mengkhianati aku? Dimana letak hati nurani kalian?"
Reva mengangguk. "Mas Arron? Wow! Aku tidak menyangka jika kau—" Reva menunjuk wajah Sahara. "Perempuan yang ku pungut dari jalanan bisa menjadi duri di dalam hubunganku. Apa selama ini aku kurang baik? Kenapa kau harus merebut kekasihku? Kenapa kau harus mengambil pria yang aku cintai, hah!" teriaknya ingin menjambak rambut Sahara tetapi dicegah oleh Arron.
"Reva cukup Re!" Arron menahan tubuh Reva hingga gadis itu tidak mampu menggapai Sahara.
Reva yang sudah emosi melemparkan kue tepat di wajah Arron. "Pantas saja kau melupakan hari ulang tahunku, ternyata karena dia! Wanita ja*lan*g ini!"
__ADS_1
"Re, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena kau selalu sibuk dengan pekerjaan. Kau tidak mempunyai waktu untukku! Apa kau tidak sadar akan hal itu?"
Reva terdiam, tetapi air mata terus mengalir di pipinya. "Itu menjadi alasanmu untuk selingkuh? Seharusnya kau katakan padaku, Arron. Kau bisa mengatakan hal apa yang membuatmu tidak suka! Aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu. Selama ini aku sangat bodoh karena sudah mempercayai kalian berdua."
Sahara hanya diam saja di atas ranjang, dia membelit tubuhnya menggunakan selimut.
"Maafkan aku, Re. Aku akan segera menikahi Sahara."
Dada Reva terasa sangat sesak, inilah yang dinamakan sakit tak berdarah. Dia ingin berteriak sekencang mungkin dan menangis sejadi-jadinya.
"Menikah? Semudah itu? Kita menjalin hubungan selama tiga tahun, dan kau memilih untuk menikahi wanita yang baru beberapa bulan kau kenal?" Reva tidak mampu berkata-kata lagi, dia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan.
"Baiklah, aku bersyukur karena Tuhan sudah membukakan jalannya hingga aku mengetahui kebusukan kalian berdua." Reva melirik Sahara dengan tajam. "Dan kau! Wanita yang tidak tahu terima kasih, aku pastikan hidupmu akan menderita dan tidak bahagia." ujar Reva lalu dia bergegas pergi dari kamar itu, dirinya tidak ingin berbuat lebih karena dia bukanlah perempuan biasa.
Setelah berada di luar apartemen, Reva menangis sejadi-jadinya. Dia memukul dadanya yang terasa sangat sesak. Kejadian tadi masih terlintas di benaknya, Reva tidak menyangka pria yang selama ini selalu ada untuknya akan pergi meninggalkan dia.
Tiga tahun bukanlah hal yang mudah untuk mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Sangat banyak godaan dan kecekcokan tetapi keduanya tetap bisa mengatasi dengan tenang. Namun, hari ini hati Reva benar-benar hancur.
"Mama," Isak Reva bersandar di badan mobil. Dia tidak tahu bagaimana reaksi keluarganya jika mengetahui hal ini.
__ADS_1
{**Bersambung**}