
Dua hari kemudian, Ray dan Yola sudah berada dirumah sang Ibu. Rayyan berniat membangun rumah Ibunya agar bisa semakin besar dan lebar. Meskipun tidak enak hati, tetapi Ibu pun akhirnya mau jika rumahnya di renovasi.
Begitu banyak tetangga yang iri dengan kehidupan Yola, gadis yang dulunya miskin kini berubah menjadi orang kaya raya. Bahan bangunan pun tiba, bahkan barang lainnya seperti kulkas, televisi, meja makan, lemari pakaian, sofa, dan spring bed juga ikut tiba di rumah Yolanda.
Bu Salwa, warga yang merasa paling kaya di komplek itu hanya mampu melongo. Dia menghitung berapa banyak pengeluaran untuk barang-barang tersebut.
"Setidaknya itu menghabiskan ratusan juta, aku pikir aku paling kaya, ternyata ada orang yang lebih kaya di banding diriku." ucap Bu Salwa salut dengan Yola.
"Bu Marwah pasti sangat bahagia karena putrinya mendapatkan orang kaya seperti Rayyan."
"Iya, bahkan suami Yola itu adalah seorang pengusaha, the real sultan."
Beberapa ibu-ibu berbisik ria, bener saja roda itu berputar. Dulu Yola berada di bawah sampai memiliki hutang, sekarang dirinya berada di atas, bisa membeli apa yang diinginkan.
Yola membagikan sembako untuk orang yang tidak mampu, itu semua bukan karena dia sombong tetapi karena rasa syukurnya kepada Allah. Dia telah mendapatkan suami yang baik dan juga keluarga yang menerima dia apa adanya.
Ray yang memilih untuk makan siang di rumah heran melihat begitu banyak ibu-ibu di depan rumah Yola. Dia masuk ke dalam dan ternyata Yola sudah menyiapkan makan siang.
"Sayang, ada apa diluar sana?"
"Ada apa, Mas?" Yola berjalan mendekati pintu, dirinya mengintip dari jendela apa yang terjadi diluar sana. Seketika tawa Yola terdengar dan itu membuat Ibu heran.
"Ada apa, Nak?"
"Beberapa tetangga mengintip kita dari luar sana, Bu. Mungkin mereka heran karena kita membeli begitu banyak barang barang perabot." ucap Yola lalu mengambil makan untuk Ray.
"Apa disini memang seperti itu? Berbeda dengan tempatku tinggal.''
"Tentu saja beda, Mas. Disini warganya sangat penasaran dengan kehidupan orang lain."
Ray hanya mengangguk.
Setelah selesai makan siang, Ray berada di dalam kamar bersama dengan Yola.
__ADS_1
"Sayang, aku berniat untuk mengajak ibu pergi berlibur. Bagaimana menurut kamu? Ya, sekaligus kita berbulan madu."
"Ide bagus, Mas."
"Baiklah, aku akan mengatur waktunya. Kamu bisa mengatakan pada Ibu, aku harap ibu tidak menolaknya."
"Aku pasti akan membujuk Ibu."
"Besok para pekerja datang untuk merenovasi rumah, kita akan menginap di hotel untuk sementara waktu. Kamu tidak keberatan?"
Yola menggeleng. Dia memeluk tubuh Rayyan. "Mas, aku tidak menyangka kita bisa hidup bersama seperti ini.''
"Bukankah sudah dikatakan jika jodoh, maut dan rezeki adalah sebuah takdir yang sulit untuk ditebak."
''Kenapa kamu bisa mencintaiku? Kenapa kamu memilihku sebagai istrimu?"
"Haruskah aku menjawabnya?"
"Ya, tentu saja. Aku sangat penasaran, Mas."
"Kamu mau punya anak berapa, Mas?" Yola bergurau dan hidungnya ditarik pelan oleh Ray.
"Tiga,"
Yola pun menyanggupi permintaan Ray yang ingin memiliki anak tiga.
****
Satu Minggu kemudian, rumah Ibu Marwah pun sudah selesai di renovasi. Ray memperkerjakan banyak orang supaya rumah itu bisa cepat selesai.
Ibu terharu melihat rumahnya yang dulu sangat kecil kini berubah menjadi mewah dan megah bak istana. Bahkan, rumah Ibu Yola yang terbesar di komplek itu.
Mereka masuk ke dalam rumah, Ibu terperangah melihat betapa indahnya setiap sudut rumah itu.
__ADS_1
"Nak, apa bener ini rumah kita?"
"Iya, Bu. Ibu menyukainya tidak?"
"Sangat suka, Nak. Untuk merenovasi rumah sebesar ini pasti membutuhkan biaya yang sangat banyak."
"Ibu jangan memikirkan biaya, sudah tanggungjawab Ray mengurus ibu dan Yola."
Ibu mengucapkan terima kasih pada Rayyan. 'Lihatlah, Mas. Kamu pasti bahagia menyaksikan kehidupan anakmu sekarang ini. Dia sudah tidak lagi merasakan kesusahan, dia telah menemukan cinta sejatinya dan bisa membahagiakannya.' batin Ibu dalam hati.
Ray sengaja hanya membuat satu tangga, dia takut jika ibunya akan sulit berjalan menaiki anak tangga.
Mereka semua sudah ada di kamar masing-masing.
Tepat pukul satu dini hari, Yola merasakan perutnya yang sangat lapar. Dia membangunkan Rayyan, tetapi pria itu tidak ingin bangun.
"Mas, mas bangun! Aku lapar. Mas Ray!" Yola terus berusaha menggoyangkan tubuh Rayyan.
Ray menggeliat, dia terbangun dan mengapa wajah Yola yang sendu. "Ada apa, Sayang?"
"Mas, aku lapar."
"Hm, lapar? Kamu ingin makan apa? Aku akan membuatkannya untukmu."
"Kamu cukup temani aku masak saja,"
Ray mengangguk, dia menguap lalu bangkit dari ranjang. Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga. Sesampainya di dapur, Yola langsung melihat isi kulkas. Ternyata Ray sudah mengisi kulkas itu dengan berbagai macam sayur mayur, buah, ikan, daging, telur, dan susu.
"Mas, ini kamu semua yang membelinya?"
Ray memangku tangan diatas meja, dia menganggukkan kepalanya.
Yola mulai membuat omelette daging, perutnya sudah keroncongan mencium aroma daging. Selesai memasak, mereka berdua makan bersama sambil menonton televisi.
__ADS_1
{**Bersambung**}