
Dua hari kemudian, Ray menjemput Yola untuk ke rumahnya. Kiara merasa sepi dan dia menginginkan gadis itu menemaninya. Tentu saja Ray tidak keberatan, dan dia sekarang mempekerjakan Yola menjadi seorang baby sitter untuk Kiara. Tetapi, baby sitter kali ini tidak mengurus apa pun, Yola hanya perlu menemani Kiara saja.
Yola sendiri merasa senang dengan pekerjaan barunya, Kiara adalah sosok Ibu yang baik dan humoris. Sifat mereka hampir sama, tetapi Yola lebih bar bar dibandingkan Kiara.
Jam makan siang pun tiba, Kiara meminta pada Yola agar mengantarkan bekal ke kantor Rayyan. Yola pun pergi dengan di antara oleh sopir pribadi Kiara. Setelah sampai di kantor, Yola langsung bergegas menemui Ray. Dia mengetuk pintu dan dijawab oleh Ray yang masih sibuk mengurus berkas penting.
"Selamat siang, Tuan."
Ray langsung menoleh karena mendengar suara Yola. "Kau datang ke kantor? Ada apa?"
"Tante meminta saya untuk mengantarkan ini." Yola meletakkan bekal di meja Ray.
"Tumben sekali?"
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah saja. Apa Anda sedang sibuk? Jangan lupa makan dan saya permisi."
"Tunggu, Yola!"
Yola menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Ray.
"Apa kau sudah makan?"
Yola menggeleng jujur.
"Sebaiknya kau makan siang disini saja bersama dengan saya. Sepertinya Mama juga membawakan makanan lebih."
Yola merasa canggung. "Tidak, Tuan! Saya makan dirumah saja. Saya tidak ingin mengganggu Anda."
"Yola, ini perintah. Duduklah dan makan bersama saya."
Yola pasrah, beginilah nasib sebagai bawahan. Selalu mendengarkan apa yang atasannya katakan. Mau tidak mau Yola pun memutuskan untuk duduk, dia membuka bekal itu dan ternyata memang isinya cukup banyak.
Mereka makan bersama, juga di satu tempat yang sama. Kecanggungan muncul di hati Yola, tetapi berbeda dengan Ray. Pria itu terlihat biasa saja, dia malah sangat menikmati makanan itu tanpa malu sedikitpun.
Setelah selesai, Yola pun membereskan bekalnya.
"Tuan, apa Anda ingin minum kopi? Atau lainnya?"
''Boleh, buatkan saya kopi susu."
Yola langsung bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan apa yang Ray inginkan. Beberapa saat kemudian, gadis itu membawa nampan berisi Kopi susu ke ruangan Ray.
"Tuan, saya pamit pulang, ya? Tidak ada yang menemani Tante dirumah."
Ray mengangguk dan tetap fokus mengerjakan tugasnya. Dia melihat kepergian Yola, entah mengapa hatinya terasa tenang jika gadis itu berada di dekatnya.
"Perasaan aneh! Mengapa bisa sama seperti bersama dengan Almarhumah?" Ray tidak ingin ambil pusing, dia melanjutkan pekerjaannya.
****
__ADS_1
Tak terasa hari sudah malam, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ray pulang ke rumah dan ternyata disana masih ada Yola.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Kiara menghampiri Rayyan.
"Ma, kenapa Yola belum pulang? Ini sudah malam. Bukankah dia membawa motor?"
"Motornya mogok, Nak. Dan Mama meminta pak Sobri untuk membawanya ke bengkel. Jadi, kamu harus mengantarkan Yola pulang ke rumah."
"Tapi Ray baru pulang dari kantor, Ma."
"Sayang, kamu tidak kasihan jika Yola —"
"Tante, saya akan memesan taksi online saja. Tuan Ray pasti lelah, jangan khawatirkan saya." putus Yola tidak ingin melihat ibu dan anak itu berdebat.
Yola ingin melangkah pergi setelah berpamitan, tetapi suara Ray menghentikan langkahnya.
"Yola! Biarkan saya mengantarkanmu pulang. Ini sudah malam, tidak baik seorang gadis pulang sendiri di malam hari seperti ini."
"Jika Anda tidak keberatan, Tuan. Maka saya ikut saja."
Ray keluar terlebih dahulu dan disusul oleh Yola. Mereka masuk ke dalam mobil, Kiara melambaikan tangan ketika kendaraan itu melaju pergi.
"Huh, akhirnya rencanaku untuk mendekatkan mereka sedikit berjalan lancar. Aku berharap Ray bisa membuka hatinya untuk Yola. Jarang ada gadis seperti dia, sederhana, baik, dan penyayang." ucap Kiara lalu masuk ke dalam rumah. Dia sengaja membuat motor Yola mogok agar gadis itu bisa pulang bersama dengan Rayyan.
Di perjalanan, Yola merasa perutnya lapar. Tetapi dia diam saja dan menahannya, padahal tadi Kiara sudah menawari makan tetapi Yola menolak. Perut Yola berbunyi, dan Ray langsung melirik gadis itu. Dia tiba-tiba tertawa, hal itu membuat Yola heran. Dia tidak sadar jika Ray menertawakan dirinya.
"Tidak," jawab Yola singkat.
"Kau jangan berbohong, Yola. Saya tadi mendengar suara perutmu. Jika kau lapar, katakan saja. Kita bisa mencari tempat makan terlebih dahulu. Mamaku sungguh tega, kenapa dia membiarkan pengasuhnya kelaparan seperti ini?"
"Tuan jangan menyalahkan Tante, tadi Tante sudah meminta agar saya makan terlebih dahulu sebelum pulang. Tapi, saya merasa tidak enak. Maka dari itu, saya menahan rasa lapar."
"Kau ini aneh, Yola. Kenapa harus tidak enak? Anggap saja rumah itu seperti rumahmu sendiri. Bukankah Mamaku sangat menyayangimu?"
Yola menggigit bibir bawahnya, dia merasa malu sekaligus bahagia.
"Lalu, kita akan makan dimana?"
"Terserah Anda, Tuan."
Ray mencari tempat makan, di jam segini tentu saja masih banyak restoran yang buka. Dia menghentikan mobilnya di restoran D&H. Mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
Setelah empat puluh menit berlalu, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Yola menguap, sepertinya dia cukup kelelahan hari ini. Kiara mengajaknya berkeliling di mall, mereka shopping dan bahkan Kiara mengajak Yola ke taman.
Tanpa sadar, Yola memejamkan mata dan dia tertidur.
"Oh, ya, Yola. Kenapa di usiamu yang sudah menginjak dua puluh lima tahun kau belum juga menikah? Kau itu gadis yang baik, cantik, lemah lembut dan saya yakin pasti banyak pria yang tertarik padamu." Ray bertanya dan dia fokus pada jalanan.
Tidak ada jawaban dari bibir Yola, Ray penasaran kenapa gadis itu hanya diam saja.
__ADS_1
"Kau tersinggung dengan pertanyaan saya tadi? Baiklah tidak perlu dijawab." ucap Ray dan melirik Yola sekejap, dia menurunkan kilometer mobilnya lalu menatap Yola yang ternyata sudah tidur pulas. Napas gadis itu sangat beraturan.
Ray tertawa kecil, berarti tadi dirinya bicara sendirian.
"Astaga, dia tertidur." ucap Ray menyelipkan anak rambut Yola di telinga karena menutupi wajah cantiknya.
Tak terasa mereka sudah sampai dirumah Yola, Ray menepuk pipi Yola untuk membangunkannya.
"Yo, bangun! Kita sudah sampai."
Yola menggeliatkan tubuhnya. "Yola masih mengantuk, Bu." gumamnya pelan.
Ray menggeleng, dia keluar dari mobil dan melihat ke sekeliling. Keadaan cukup aman, tidak siapa pun diluar sana. Ray membuka pintu mobil lalu dia menggendong Yola masuk ke dalam rumah.
Ibu membuka pintu dan dia kaget karena putrinya berada di dalam gendongan Rayyan.
"Nak, ada apa dengan Yola?" Ibu bertanya ketika Ray sudah berhasil masuk ke dalam.
"Dia baik-baik saja, Bu. Mungkin dia kelelahan hingga tertidur di dalam perjalanan. Boleh saya antarkan Yola ke dalam kamarnya?"
"Masuk saja, Nak. Kasihan sekali putriku." ucap Ibu.
Ray membawa Yola masuk ke dalam kamar, dia meletakkan gadis itu di atas kasur. Ray menatap wajah cantik Yola, tanpa sadar dia tersenyum tipis.
Rayyan melihat isi kamar Yola, sangat kecil tetapi rapi. Gadis itu benar-benar rajin. Tak ingin berlama-lama, Ray pun langsung keluar dari sana. Dia berjalan menghampiri Ibu yang sedang duduk di sofa.
"Nak, kenapa kamu yang mengantarkan Yola pulang? Bukankah Yola membawa motor?"
"Motor Yola mogok, Bu. Dan tadi sedang berada di bengkel. Kemungkinan besok baru selesai."
Ibu mengangguk. "Terima kasih karena sudah mengantarkan Yola pulang, Nak."
"Sama-sama, Bu. Saya juga tidak tega melihat Yola pulang sendirian, apalagi harus sudah malam."
"Nak, apa Ibu boleh tahu sesuatu? Kamu sudah menikah? Atau memiliki seorang kekasih?"
"Saya masih sendiri, Bu. Saya belum berniat untuk menikah."
'Andaikan saja Yola bisa mendapatkan suami seperti Nak Ray, baik hati, ramah, sopan, dan bonusnya tampan.' batin sang Ibu.
Beberapa menit kemudian, Yola menggeliatkan tubuhnya, dia merasakan tidur yang sangat nyaman. Perlahan kedua matanya berkedut, dia melihat ke sekeliling. Seketika Yola langsung menegakkan badan. Dia meraup wajahnya.
"Aku sudah berada di kamarku? Astaga, bagaimana mungkin bisa?" Yola mendengar suara Ray yang masih berada dirumahnya, gadis itu segera turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.
Yola mengintip, ternyata Ray sedang berbincang dengan sang Ibu. Mereka tertawa dan terlihat sangat akrab. Ada perasaan bahagia dihati Yola, dirinya tersenyum tetapi seketika senyuman itu pun perlahan surut setelah dia menyadari status mereka.
"Jangan mengkhayal terlalu jauh, Yola. Jika kau jatuh, maka akan terasa sangat sakit." ucap Yola menyadarkan dirinya sendiri.
{**Bersambung**}
__ADS_1