
---------4 TAHUN KEMUDIAN----------
Seorang balita berusia empat tahun tengah bermain bola di taman samping rumah.
Sementara wanita berusia dua puluh enam tahun berjalan ke arah sang bocah dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk.
Dugh!
Bola yang balita itu tendang hampir saja mengenai wanita berusia dua puluh enam tahun tadi, untung saja seorang pria dengan wajah tampan berhasil menghalangi bola agar tidak mengenai nampan.
"Astaga anak itu." ucap sang pria terlihat frustasi.
"Sudahlah, Mas. Harap maklum namanya juga anak-anak.." sahut sang wanita.
"Mama.." balita tersebut berlari untuk menghampiri sang Mama.
Brugh!
"Hua... Hua... Kaki Ray sakit..." balita tersebut merengek kesakitan karena terjatuh.
"Ya ampun sayang... Udah Mama bilang jangan suka lari-lari." wanita itu menghampiri sang putra.
Setelah sampai di samping sang putra, dirinya berjongkok dan melihat luka goresan yang ada di lutut putranya.
"Apa terasa sakit?" wanita tersebut menatap wajah sang putra.
Balita itupun hanya menggeleng.
__ADS_1
"Hah, dasar jagoan payah." ucap pria yang kala itu berjalan menghampiri ibu dan anak itu.
"Siapa bilang Ray payah." balita bernama Ray tersebut berdiri dengan angkuh.
Sementara pria tadi hanya tersenyum mengejek.
"Papa mengejek Ray?" balita itu marah dengan bibir mengerucut dan dahi mengerut.
"Tidak, siapa bilang Papa mengejek kamu?'' kilah sang pria.
"Itu buktinya tadi Papa mau ketawa'in Ray."
Sang pria hanya tertawa lebar ketika melihat sang putra marah, bukannya takut atau kesal tapi sang Papa malah gemas melihat wajah imut putranya yang sedang marah seperti itu.
"Mama... Lihat Papa..." Ray mengadu pada sang Mama.
"Udah, udah... Kenapa kalian berdua malah bertengkar sih? Mas Jimmy, udah dong jangan bikin Rayyan kesal." Kiara berjalan ke bangku.
"Dasar anak nakal." Jimmy menangkap Ray dan menciumi pipinya.
Rayyan pun tertawa akibat gelitikan dari Jimmy, hingga mereka berdua terguling-guling di atas rumput dengan tawa yang lebar.
"Ampun Pa... Geli..." Ray tak kuasa menahan tawa dan bersiap untuk mengeluarkan jurus andalannya. "Mama, lihat Papa... Ray gak tahan, geli... Hahaha,"
"Mas Jimmy, udah dong... Lepaskan Ray dan biarkan dia bermain lagi." Kiara tidak tega mengabaikan permintaan sang putra.
Jimmy akhirnya melepaskan Ray dan mereka berjalan duduk di sebelah Kiara.
__ADS_1
Sekarang posisi Kiara di tengah, dia diapit antara Jimmy dan Rayyan sang putra.
"Apa kalian tidak haus? Mama membawakan jus jeruk untuk kalian berdua." Kia menyodorkan gelas kepada Jimmy dan Ray.
"Terima kasih, Mama..." sahut keduanya dengan serempak.
Kiara hanya tersenyum tipis, dia menatap bola mata Rayyan yang sangat mirip dengan Raymond. Ada rasa rindu yang mendalam ketika dia mengingat Raymond kembali, tapi Kiara bingung harus berbuat apa.
"Sayang, kamu main bola dulu ya? Papa sama Mama mau ngobrol sebentar." Jimmy mengelus pucuk kepala Rayyan.
Ray mengangguk dan pergi bermain bola.
"Kia, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Jimmy langsung memulai pembicaraan ketika Ray sudah pergi menjauh membawa bola.
"Ada apa, Mas?" Kia bertanya dengan nada penasaran.
"Beberapa minggu lagi aku akan kembali ke Indonesia, kamu pasti ikut'kan karena kamu akan meresmikan cabang ARA GLOW yang baru berdiri di kota J."
Kiara menghela nafas berat, dia masih bimbang harus ikut atau tidak.
•
•
•
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**