
Reva ingin bertanya lebih tentang penampilan wanita itu, tetapi dia urungkan karena dirinya tidak mau membuat wanita tersebut salah paham.
Wanita tersebut menegakkan tubuhnya, dia menunduk sambil berkata maaf. Reva yang peka akan sesuatu mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Nona, Anda mau kemana? Maaf, saya melihat Anda seperti sedang kebingungan."
Wanita itu menatap Reva, dia bingung harus jujur atau tidak.
"Saya, saya tidak tahu harus kemana, Nona. Saya tidak punya tujuan," Ucapnya melas membuat Reva merasa iba.
"Apa saya boleh tau siapa nama Anda? Dan mengapa Anda tidak punya tujuan?"
"Nama saya Sahara, Nona. Rumah saya baru saja disita karena almarhum orang tua saya meninggalkan banyak hutang, bahkan rumah itu saja belum cukup untuk melunasi hutang mereka." wanita itu bercerita, tak terasa air matanya menetes begitu saja.
"Saya turut berdukacita, lalu kenapa penampilan Anda—" Reva tidak melanjutkan ucapannya karena dia yakin jika wanita itu pasti mengetahui maksud pertanyaan Reva.
"Saya dijual, Nona. Mereka menjual saya pada pria tua yang sudah bau tanah. Dan saya memberontak. Awalnya saya pikir saya tidak bisa kabur dari mereka, tapi puji Tuhan saya bisa melarikan diri." jawabnya menangis, Sahara yakin jika gadis di depannya itu pasti orang baik.
"Kasihan sekali." Reva berpikir jika dia akan mengajak Sahara ke rumahnya.
"Bagaimana jika Anda ikut saja dengan saya? Saya bukan orang jahat, saya akan menolong Anda dan memberikan Anda tempat tinggal. Mau, ya?" Reva mencoba membujuk.
__ADS_1
Sahara yang memang tidak memiliki tujuan langsung mengangguk setuju. Reva sangat senang mendapat jawaban itu, dia mengajak Sahara masuk ke dalam mobilnya. Kendaraan roda empat itu mulai melaju menuju butik.
Dua puluh lima menit kemudian, sampailah mereka di butik milik Reva.
"Ayo, Sahara! Ini butik milik saya," Reva menarik tangan Sahara dengan pelan dan mereka masuk ke dalam butik yang bertuliskan VA COLLECTION.
"Nona, Anda yang mengurus tempat ini?''
''Benar, saya owner disini."
Setelah mereka berada di dalam, para pegawai butik menyapa Reva dengan ramah dan sopan. Tak sedikit dari pegawai itu yang berbisik melihat bos mereka datang membawa seseorang.
"Siapa dia?"
"Tapi, kenapa penampilannya seperti itu, ya?" sambung teman lainnya.
"Iya, dia cantik tapi penampilannya seperti orang jalanan."
Bisik-bisik terus berlanjut, tetapi Sahara ataupun Reva tidak ada yang mendengarnya.
Reva membuka pintu ruangannya. ''Masuklah Nona Sahara.''
__ADS_1
Sahara menuruti, jujur dia merasa tidak enak di panggil Nona oleh orang yang berkedudukan tinggi seperti Reva.
"Nona Sahara, saya akan—"
"Nona?" Sahara memotong perkataan Reva dengan cepat. "Apa saya boleh meminta sesuatu? Tolong jangan sebut saya dengan panggilan Nona.''
"Memangnya kenapa? Saya rasa itu cukup sopan."
"Bukan masalah sopan atau tidaknya, tapi saya merasa tidak enak di panggil begitu oleh bos seperti Anda."
Reva tertawa kecil. "Saya tidak memandang dari status, Nona Sahara. Saya lebih mementingkan attitude dibanding kekuasaan."
Sahara salut dengan ucapan Reva, dia tersenyum tipis. Reva adalah sosok wanita sempurna dimata Sahara yang juga seorang wanita. Cantik, baik, ramah, sopan, rendah hati, itulah Revanza William.
"Oh, ya, Nona Sahara. Saya lihat Anda sedikit kelelahan, istirahatlah terlebih dahulu dan saya akan memeriksa beberapa pekerjaan."
"Terima kasih banyak, Nona Reva."
"Tidak perlu sungkan." Reva tersenyum manis. "Saya akan menghubungi pegawai dan meminta agar mereka membawakan pakaian ganti untuk Anda."
Sahara hanya mengangguk. 'Aku beruntung bisa bertemu Nona Reva, dia sangat baik dan mau menolongku.' batinnya.
__ADS_1
{Bersambung}