
Kiara terus berjalan cepat sembari menunduk dan tanpa sadar seorang pria berjalan berlawanan arah dengannya.
Brugh
"Aw," Kia memegangi pundak sebelah kanan dan langsung berjongkok guna memunguti isi tasnya yang berserakan dilantai.
Setelah selesai, Kia langsung pergi berlalu tanpa meminta maaf atau berkata apapun.
"Hei, Nona!" teriak pria itu sembari menatap punggung belakang Kiara yang sudah menjauh.
Pria tersebut menggeleng dan ingin pergi tetapi ketika dia membalikkan badan, kakinya menginjak sesuatu.
"Apa ini?" gumamnya mengambil sebuah kalung yang dia injak.
Kalung sederhana berbentuk mainan love, karena rasa penasaran yang begitu besar akhirnya pria itu membuka mainan love di kalung tersebut.
"Siapa ini? Apa milik gadis itu tadi?"
Di dalam mainan love itu adalah foto Kiara yang kala itu masih bersekolah menengah pertama. Kalung tersebut peninggalan dari almarhumah Ibu Kia, Ibu menitipkan kalung kepada nenek agar dipakaikan pada Kia sebagai tanda kenang-kenangan.
Kiara tidak pernah memakai kalung itu karena dia takut jika kalung akan hilang atau jatuh, maka dari itu Kia memilih untuk menyimpannya di dalam dompet dan membawanya kemanapun dia pergi agar merasa jika sang Ibu selalu ada bersamanya setiap waktu.
"Tuan Jimmy!"
Jimmy tersentak kaget ketika seseorang memukul pundaknya dari belakang, dia menoleh dan langsung memasukkan kalung ke dalam saku.
"Mengapa Tuan malah melamun disini? Saya sudah menunggu dari tadi." ujar Bella.
"Maaf, ayo." Jimmy berjalan terlebih dahulu di depan Bella.
Mereka bertemu karena Jimmy membooking Bella untuk pelampiasan hasratnya.
•
•
__ADS_1
•
Kiara telah sampai di rumah menggunakan taksi.
"Hiks.." Kiara membanting tubuh di atas kasur. "Apa aku benar-benar serendah itu dimata mereka yang mempunyai kekayaan melimpah dan bergelimang harta?" Kiara menghapus air matanya.
Kiara teringat dompet yang tadi di bawa, dia mulai membongkarnya dan mencari kalung peninggalan sang Ibu.
"Dimana kalung itu? Kenapa tidak ada?" Kia terus mencari kalung hingga semua barang-barang yang ada di dompet berserakan di atas ranjang.
Ceklek!
Kia menoleh dan terkejut karena mendapati sang suami yang berada di ambang pintu.
"Mas, kamu udah pulang?" Kia menghapus air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Sayang, kamu udah pulang?" Ray berjalan menghampiri Kiara.
Kiara hanya diam saja sembari memasukkan kembali barangnya ke dalam tas.
"Aku gak pa-pa, Mas. Kamu sendiri kenapa jam segini udah ada di rumah?" Kia melepaskan tangan Ray yang berada di pipinya.
"Aku ingin mengambil berkas yang ketinggalan di ruang kerja. Kia kamu jangan mengalihkan topik pembicaraan, aku melihat matamu sedikit sembab seperti habis menangis. Apa Mama mengatakan sesuatu? Atau teman-teman Mama menghinamu? Katakan padaku." Ray menangkup wajah Kiara lagi.
Kia tidak bisa menahan kesedihannya, dia langsung menghambur ke dalam pelukan Raymond.
"Sayang, ada apa sebenarnya? Apa ada yang mengatakan hal buruk padamu?" Ray mengelus kepala Kia dengan lembut.
"Mas, apa aku pantas dihina karena miskin? Apa salah kalau aku terlahir dari keluarga miskin? Jika boleh memilih, maka semua orang pasti tidak ingin dilahirkan dalam keluarga yang miskin tetapi itu semua sudah kehendak serta takdir yang Allah berikan, lalu apa yang bisa kami orang miskin lakukan? Hiks.." Kiara terisak di dalam pelukan Raymond.
"Apa mereka mengatakan status sosial lagi?" Ray sangat kesal karena selalu saja status yang jadi masalah.
Kia mengangguk.
"Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara berpikir mereka semua. Maaf karena aku sudah menyuruh kamu untuk pergi bersama Mama, aku tidak terlalu berpikir jauh hingga ujung-ujungnya membuat kamu bersedih seperti ini," Ray sangat merasa bersalah karena menganggap jika sang Mama sudah berubah.
__ADS_1
"Kamu gak perlu minta maaf, Mas. Aku sudah mencoba melapangkan hati dan selalu bersabar, tetapi aku hanyalah manusia biasa yang bisa saja tersinggung kapanpun itu." ujar Kia masih memeluk tubuh Raymond.
****
Dua jam kemudian.
Suara deru mobil terdengar di halaman rumah keluarga William.
Ray dengan cepat turun ke bawah untuk bertanya kepada sang Mama mengapa mempermalukan Kia di depan semua temannya.
Rara masuk ke dalam bersama dengan Meysa.
"Ma!" Ray memanggil sang Mama dengan suara meninggi dan tatapan tajam.
"Ray, masih jam segini kamu kok udah ada di rumah?" Rara bertanya dengan santai.
"Apa yang sudah Mama katakan kepada Kiara hingga dia menangis seperti itu?" teriak Ray marah apalagi mengetahui Meysa yang bersama sang Mama.
"Maksud kamu apa sih, Ray? Mama gak ngerti, memangnya gadis kampung itu ngadu apa sama kamu?" Rara mendekat ke arah Ray berdiri.
"Mama dan teman-teman Mama pasti mengatakan masalah status lagi, Ray bosan karena selalu itu aja yang Mama jadikan sebagai masalah."
"Kamu lebih percaya dengan gadis itu?" Rara berkata dengan nada tinggi juga. "Sudah, Mama gak mau lama-lama. Mama pulang ke rumah membawa Meysa karena ingin mengatakan jika kamu harus menikah dengan Mey."
"APA!"
•
•
•
TBC
HAPPY READING
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan serta tinggalkan jejak manisnya, terima kasih 🙏🏻❤