
Reva hendak tidur, dirinya mengingat tentang Arron yang belum memberi kabar hari ini. Dirinya sedikit curiga dan hatinya sangat gelisah. Reva memutuskan untuk menghubungi Arron, tak lama kemudian panggilan pun di jawab.
"Sayang, kamu kenapa tidak memberikan kabar padaku?" ucap Reva saat panggilan tersambung.
Arron berdecak kesal, tetapi dia harus berpura-pura manis di depan Reva.
📱"Maafkan aku, Sayang. Aku sedang sibuk dengan pekerjaan."
"Lebih penting dari aku?''
📱"Bukan begitu. Kenapa kamu sangat sensitif sekali akhir-akhir ini? Kamu terlalu overthinking, Reva!" ucap Arron mulai merasa bosan.
"Kamu membentakku?" Reva merasa tidak terima.
📱"Sayang, kamu jangan salah sangka terlebih dahulu. Aku lelah karena pekerjaan dan kamu bukannya menyemangati tapi malah mencurigai."
Reva merasa bersalah, dia terdiam dengan perasaan sedih.
📱"Kenapa diam? Kamu marah?"
"Tidak." jawab Reva singkat.
📱"Maaf aku sampai lupa mengabarimu karena kesibukanku disini."
__ADS_1
"Tidak masalah. Maafkan aku yang sudah mencurigaimu. Sayang, aku ingin menanyakan sesuatu."
📱"Katakan!"
"Tadi Mama menghubungi aku, Mama dan Papa bertanya tentang kejelasan hubungan kita berdua. Kapan kamu ingin melamarku?"
Seketika Arron langsung bungkam.
📱"Aku akan memikirkannya nanti."
"Tapi, Sayang. Aku butuh—"
📱"Sayang aku lelah. Besok saja kita bahas masalah ini jika aku sudah kembali. Bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?"
"Tapi, kenapa bisa kebetulan? Arron pergi ke luar kota selama dua hari dan Sahara juga izin tidak masuk kerja selama dua hari."
Reva berpikiran jauh, dia memutuskan untuk tidur, dia berharap besok ada jawaban yang baik untuk hubungannya ini.
Di vila, Sahara bertanya pada Arron ada masalah apa Reva menghubungi. Arron pun menceritakan pada Sahara apa saja yang mereka bicarakan tadi.
"Jadi Nona Reva ingin kamu segera melamarnya? Lalu bagaimana dengan aku, Mas?" Sahara terlihat sedih.
"Aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Reva jika aku sudah tidak lagi mencintai dia dan aku akan menikahimu."
__ADS_1
"Benarkah?"
Arron mengangguk pasti. "Nah karena itu, mari kita lanjutkan aktifitas yang tertunda." ucapnya sambil mengecup leher Sahara dan mereka berdua melanjutkan malam panas bersama tanpa memikirkan Reva.
****
Keesokan malamnya, Arron sudah kembali dari luar kota. Dia langsung menjemput Reva dan mereka memutuskan untuk makan malam diluar sekaligus membahas masalah pertunangan.
"Sayang, kenapa kamu seperti terburu-buru untuk bertunangan? Kamu mencurigai aku?'' Arron menebak dan membuat Reva menggeleng.
''Hal apa yang harus ku curigai? Tidak ada! Kenapa kamu berpikir sejauh itu? Aku hanya ingin hubungan kita ini memiliki kejelasan,"
"Jadi menurutmu selama ini aku tidak memberikan penjelasan?"
"Sayang, kenapa kamu sensi sekali? Aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu. Apa aku salah jika menginginkan hubungan kita ini cepat diresmikan?"
"Kamu tidak salah, Reva. Hanya saja penyampaianmu yang tidak terlalu jelas."
Reva hanya bisa diam, dia tidak berdebat. Tidak biasanya Arron seperti ini, mungkin saja pria itu sedang ada masalah. Begitulah Reva pikir.
"Ya sudah lupakan, kamu pikirkan saja dulu permintaanku itu. Aku akan mengatakan pada Papa dan Mama untuk tidak mendesakmu agar melamarku secepat mungkin."
Arron terdiam, dia menghela napas pelan lalu mereka mulai makan malam bersama sambil mengobrol sesekali. Reva merasa hari ini sangat canggung tidak seperti biasanya. Arron terlihat irit dalam bicara.
__ADS_1
{**Bersambung**}