
Hari telah berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Dua puluh empat tahun sudah berlalu dan saat ini keturunan Raymond William juga Jimmy Choo sudah dewasa.
Jayed Chou, dia putra sulung dari pasangan Jimmy dan Elsa, sementara putra kedua mereka bernama Edwin Chou. Sejujurnya Elsa ingin memiliki seorang anak perempuan, tetapi Jimmy tidak mengijinkan karena dia kasihan melihat Elsa yang mengidam ketika hamil.
Beberapa tahun yang lalu, Elsa selalu masuk rumah sakit dan di infus, dirinya tidak selera makan dan bahkan mual setiap hari.
****
Pukul tujuh pagi, keluarga Raymond sudah berada di meja makan. Mereka berkumpul untuk sarapan seperti biasanya. Rayyan tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Namun, diusianya yang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun, dirinya belum memiliki kekasih.
Ray sering diisukan sebagai pria yang tidak normal karena kurang ketertarikan terhadap wanita. Rayyan sendiri tidak bermasalah, sementara Raymond dan Kiara, sebagai orang tua mereka tentu saja sangat khawatir.
"Ray, bagaimana pekerjaan di kantor?" Raymond membuka topik pembicaraan, dia sudah tidak lagi mengurus perusahaan karena Ray yang menghandle semuanya.
"Semuanya aman, Pa."
"Lalu, bagaimana dengan masalah kekasihmu?"
Ray yang kala itu ingin melahap roti mengurungkan niatnya, dia tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan sang Mama.
__ADS_1
"Sayang, kamu itu sudah dewasa dan usia kamu juga terbilang matang. Kamu mapan, tampan, apa tidak ada wanita yang mau denganmu?"
"Mama jangan khawatir, aku pasti akan menikah jika sudah waktunya nanti." jawab Ray enteng tanpa beban apa pun.
"Kak, aku sudah tidak sabar memiliki kakak ipar supaya ada temen cerita jika Papa dan Mama pergi ke luar negeri."
"Kau 'kan punya teman, kenapa tidak bercerita dengan temenmu saja?"
Reva berdecak kesal, gadis cantik itu menyeruput susu hangatnya dan dia berpamitan untuk pergi ke butik. Ya, dirinya adalah seorang desainer, berbeda dengan Kiara yang dulunya seorang owner kecantikan.
Reva mengecup pipi Kiara dan Raymond, lalu dia mencium pipi Rayyan dan mendapat lirikan tajam dari Ray sendiri.
Di luar rumah, Reva hanya tertawa geli. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan tersebut.
"Kenapa kak Ray tidak berniat untuk menikah? Apa sebuah pernikahan sangat mengerikan?" Reva berpikir keras, dia menyalakan musik dan ikut bernyanyi.
Ponsel Reva bergetar, gadis cantik itu pun mengambilnya dari dalam tas. Namun, ponselnya terjatuh ke bawah karena dia merogoh tas dengan sebelah tangan.
"Ck, kenapa harus jatuh?" Reva mencoba mencari benda pipih itu, tanpa sadar dia tidak menghentikan mobil dan terus menjalankannya.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang wanita berlari menyebrang jalan dan lebih naasnya lagi, mobil Reva yang melaju dari depan wanita itu.
"Nah, akhirnya ketemu." Reva terkejut lalu dia spontan menginjak pedal rem hingga berbunyi decitan.
Wanita yang tadi berlari pun sontak terkejut, dia menunduk sambil menutupi kepalanya menggunakan kedua tangan. Tak lupa teriakan keluar dari mulut wanita itu, napasnya tersengal-sengal.
Reva bergegas turun dari mobil, dia berjalan menghampiri wanita itu.
"Nona, Anda baik-baik saja?" Reva memegang pundak wanita itu dan membuat sang wanita menoleh.
Wajahnya sangat cantik, bibirnya mungil, matanya indah dan bermanik abu-abu.
"M—maaf, Nona. Saya, saya menyeberang tanpa haluan."
"Anda tidak perlu minta maaf, saya yang bersalah karena mengambil ponsel jatuh tanpa menghentikan mobil terlebih dahulu."
Reva melihat penampilan wanita di depannya itu. 'Dia cantik, tapi kenapa penampilannya acak-acakan seperti ini?' batinnya berpikir.
{**Bersambung**}
__ADS_1