Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #150


__ADS_3

Ray meminta agar Yola kembali bekerja dengannya, tetapi gadis itu menolak karena dia sudah mendapatkan pekerjaan baru. Disisi lain, Jayed beberapa hari ini sangat perhatian kepada Yola. Dia memberikan apa pun yang Yola butuhkan, bahkan dirinya memperlakukan Yola berbeda dari para karyawan lainnya.


Yola merasa risih dengan perlakuan Jayed, pria itu blak-blakan menunjukkan rasa perhatiannya. Berbeda dengan Ray yang cuek meskipun juga perhatian. Tetapi, pria itu sangat pintar mengalihkan keadaan.


Yola yang masih bekerja mendapat telepon dari Rayyan. Dia menjawabnya dan khawatir karena Ray memberitahu jika Kiara sedang sakit.


"Tuan, saya ingin sekali menjenguk Tante, tapi saat ini saya sedang bekerja."


๐Ÿ“ฑ"Kau bekerja di perusahaan Jayed bukan? Saya akan memintakan izin supaya kau libur dulu hari ini. Kau tidak perlu takut, jika Jayed memecatmu dan meminta denda kontrak, maka saya akan membayarnya."


"Tapi, Tuanโ€”"


๐Ÿ“ฑ"Yola saya minta tolong, Mama saya sedari kemarin terus mencarimu. Mungkin jika kau datang, Mama akan segera sembuh."


Yola berpikir, dia mengigit bibir bawahnya lalu menuruti permintaan Rayyan. Gadis itu meraih tasnya, dia berpamitan pada Jayed yang pastinya sedikit kesal. Tetapi Jay bisa apa, Rayyan sudah mengatakan izin untuk Yola.


"Kak Ray tidak membiarkan aku untuk bahagia sejenak saja." Ucap Jayed kesal.

__ADS_1


***


Yola sudah berada di rumah Kiara, dia tiba disana dengan menggunakan motornya. Tak perlu menunggu lama, Yola masuk ke dalam rumah. Dia bertanya pada Bibi dimana Kiara.


Sesudah mendapatkan jawaban, Yola langsung bergegas pergi ke halaman belakang. Disana ada Kiara bersama dengan seorang gadis muda yang wajahnya mirip dengan Ray. Yola berjalan mendekati Kiara, wanita paruh baya itu duduk di kursi roda.


"Tante," sapa Yola membuat Kiara dan Reva menoleh.


Kiara tersenyum lebar, dia sedari tadi yang hanya diam saja kini berubah menjadi senang karena kedatangan Yola.


"Tante, Tuan Ray mengatakan jika Tante sedang sakit. Benarkah?"


"Kenapa Tante harus memikirkannya? Yola dan Tuan Ray sudah berbaikan, jadi sekarang Tante harus jaga kesehatan. Tidak perlu memikirkan hal apapun lagi." Yola tersenyum manis.


"Nak, sedari kemarin tantemu itu selalu saja menanyakan tentang dirimu." sambung Raymond yang sudah berada di belakang mereka.


"Tuan Ray baru menghubungi Yola hari ini, Yola tidak tahu jika Tante sakit. Andaikan saja Yola tahu, mungkin sedari kemarin Yola sudah berkunjung ke rumah ini."

__ADS_1


"Kau gadis yang baik, Nak." Raymond duduk di sebelah Reva yang sedari tadi hanya diam saja. "Apa kau tidak ingin berkenalan dengan adiknya Rayyan?" ucapnya sambil merangkul pundak Reva.


"Jadi, dia adiknya Tuan Rayyan??


"Benar, Yola. Dia juga nantinya akan menjadi adik iparmu."


Yola hanya tersenyum kaku, sementara Raymond menggeleng pelan.


Yola dan Reva pun berkenalan.


"Apa Tante sudah makan?"


"Belum, Nak. Tante tidak selera makan."


"Begini saja, bagaimana jika Yola membuatkan Tante bubur ayam? Yola yakin Tante pasti akan makan dengan lahap. Tante saat ini sedang sakit, jadi tidak boleh terlambat makan." ucap Yola seperti seorang Dokter pribadi.


"Reva sudah mengatakan pada Mama supaya jangan telat makan, kak. Tetapi Mama tetap bersikeras menolak untuk makan."

__ADS_1


"Tante jangan seperti itu, Tante harus segera sembuh. Tunggu sebentar, Yola akan membuat bubur ayam dulu." Yolanda pergi berlalu menuju dapur, dia sudah pernah bekerja disana dan hal itu membuatnya tidak kaku.


{**Bersambung**}


__ADS_2