
"Paman sangat menyukai jawabanmu, Nak. Paman yakin jika Jimmy tidak salah memilih calon istri." ucap Papi sembari tersenyum.
"Sudahlah, Pa. Tidak perlu memujinya seperti itu." potong Mami secepat kilat.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba keluarga Anderson datang dan hal itu membuat Jimmy terkejut.
"Pi, bukannya—" ucapan Jimmy terputus karena Mami menyela.
"Sudah diamlah, Jimmy!"
Elsa jadi merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, bagaimana mungkin dia bisa tenang akan kedatangan seseorang yang akan dijodohkan dengan Jimmy.
Mami bergegas bangkit dari tempat duduk, dia menyambut Alena sangat hangat, berbeda dengan Elsa tadinya.
"Halo, Sayang." Mami cipika-cipiki Alena.
"Halo, Bibi. Maaf kami sedikit terlambat, ada kendala sedikit waktu kami dalam perjalanan tadi." ucap Alena seraya melirik Elsa dengan tajam.
"Ya sudah, ayo duduk."
Mereka semua kembali duduk setelah saling menanyakan kabar satu sama lain.
"Oh ya, Elsa. Perkenalkan ini Alena, dia temen kecilnya Jimmy dan keluarga ini sudah seperti keluarga Alena sendiri. Jadi kau tidak perlu merasa risih."
"Baik, Bibi." Elsa hanya mampu mengangguk, dia menatap Alena sambil tersenyum tetapi tidak di hiraukan oleh gadis keturunan Turki itu.
"Bibi, apa dia gadis yang Bibi katakan tadi?" Alena berbisik di telinga Mami.
Mami hanya mengangguk malas.
'Ya, cukup menarik. Tapi lebih elegan aku dibandingkan dia.' batin Alena mencemooh Elsa.
Mereka mulai melakukan makan malam karena sudah cukup terlewatkan jam makan malam. Tak lama kemudian, selesai makan mereka berkumpul di ruang belakang. Tempatnya sangat indah, ada kolam renang disana, bunga-bunga yang indah, dan terlihat rembulan sangat cerah.
__ADS_1
"Kenapa kau menatap rembulan?"
"Rembulan itu sangat indah, dia memancarkan cahayanya untuk seluruh penjuru dunia sementara dia hanya ada satu."
"Jika rembulan bisa memancarkan cahayanya untuk seluruh dunia, maka kau juga bisa memancarkan cahayamu untukku."
"Tuan ini bicara apa, saya tidak paham sama sekali." Elsa terkekeh pelan.
"Sudahlah, kau tidak perlu mengerti. Nona Elsa, aku sangat berterima kasih padamu karena kau sudah mau membantuku."
"Meskipun sulit untuk melakukan hal ini." Elsa tertawa.
"Maafkan aku."
"Anda tidak perlu meminta maaf, saya senang bisa membantu Anda, Tuan."
"Nona, apa kau bisa tidak menyebutkan dengan kata kata Tuan?"
"Nona, ini diluar jam kantor tapi kau tetap menyebutkan dengan panggilan Tuan."
"Lalu bagaimana dengan Anda? Anda juga menyebut saya Nona sementara ini bukan jam kerja."
"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Elsa. Kau, bisa memanggilku Jimmy."
Elsa terdiam untuk berpikir sejenak. "Jimmy? Saya rasa panggilan itu cukup tidak baik. Biar bagaimanapun, Anda lebih tua dari saya."
"Terserah kau ingin menambahkan apa di depannya, yang pasti jangan menggunakan kata Tuan jika diluar jam kerja."
Elsa menuruti perkataan Jimmy, dia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Dia sangat nyaman berada di dekat Jimmy, mengobrol bersama dan bersenda gurau. Satu Minggu kebersamaan mereka membuat Elsa merasakan ada hal yang aneh dalam dirinya untuk Jimmy.
Mereka berdua tidak sadar jika ada dua pasang mata yang mengawasi dan seakan-akan tidak menyukai akan kebersamaan mereka.
"Jimmy! Kemarilah!" Papi memanggil Jimmy dan tentunya membuat pria itu harus berpamitan sejenak.
__ADS_1
"El, apa kau ingin ikut denganku, atau tetap berada disini?"
"Aku akan tetap berada disini." jawab Elsa yakin.
''Baiklah, kalau begitu aku menghampiri papi terlebih dahulu." Jimmy pergi dari hadapan Elsa, dia berjalan gagah mendekati papinya dan tentu saja tak luput dari pandangan Alena.
'Sialan! Disini aku menunggu Jimmy sangat lama, tetapi malah gadis itu yang akan menjadi pendamping Jimmy. Ini tidak bisa dibiarkan.' Alena berpamitan pergi, dia meninggalkan mamanya dan Mami Jimmy disana.
Elsa berjalan di pinggir kolam, dia tersenyum sendiri melihat bayangan cahaya rembulan yang terpantul dari air kolam tersebut. Terlihat sangat indah dan dekat.
Dari kejauhan, Alena merencanakan hal jahat yang mungkin akan mempermalukan Elsa. Dia melihat ke sekeliling dan ternyata aman. Seluruh keluarga saling berbincang asyik tanpa mempedulikan sekitar mereka.
Byur!
"Aaaaa!" teriak Elsa terkejut karena seseorang mendorongnya dari belakang hingga dia jatuh ke dalam kolam.
Seluruh keluarga terkejut dengan teriakan Elsa, mereka menoleh ke arah kolam dan terlihat Elsa sudah masuk disana. Sementara Alena, gadis licik itu segera kabur menjauh sebelum kejahatannya diketahui.
"Ada apa, Ma?" Alena bertanya sambil menghampiri mamanya, dia berpura-pura tidak terlibat dalam hal itu.
"Lihat itu!" Mama Alena menunjuk ke arah kolam.
Alena terkejut.
''Elsa!" teriak Jimmy khawatir dan dia berlari ke arah kolam.
Byur!
Semua melongo dan waktu seakan terhenti.
{Bersambung}
__ADS_1