Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #128


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum pergi bekerja, Arron memutuskan mampir ke rumah Sahara terlebih dahulu. Dia ingin memberikan cincin yang dibelinya tadi malam. Setelah sampai di depan pintu rumah, Arron pun mengetuknya dan tak lama kemudian Sahara keluar dari dalam sana.


"Mas, ayo masuk!" Sahara tersenyum lebar dan dia berjalan di depan Arron.


Keduanya duduk di sofa, Arron langsung memberikan cincin itu pada Sahara.


"Ini apa, Mas?" Sahara menatap kotak cincin.


"Untukmu, tadi malam aku melihat cincin itu dan aku rasa sangat cocok jika kamu yang memakainya."


Sahara terharu, tiba-tiba dia meneteskan air mata membuat Arron heran. Pria itu tidak tahu apa yang membuat Sahara menangis.


"Kamu tidak menyukainya? Baiklah, berikan padaku dan kita nanti akan membeli yang lain."


Sahara menggeleng, dia masuk ke dalam pelukan Arron. "Hiks, aku terharu, Mas. Selama ini tidak ada yang memperhatikan aku seperti dirimu. Kamu memperlakukan aku sangat istimewa, aku merasa bahagia."


Arron membalas pelukan Sahara, dia mengelus kepala gadis itu. "Kamu jangan sungkan, sudah aku katakan jika aku mencintaimu."


"Dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuaku. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing, bahkan saat aku tinggal bersama ayahku, dia selalu memukuliku jika sikapku terlihat salah dimatanya. Sementara ibuku, dulu aku tinggal bersamanya dan dia malah ingin menjualku." Sahara terisak di dalam pelukan Arron.


"Segitu dalamnya trauma yang kamu rasakan?''


Sahara pun mengangguk. "Aku dulu pernah putus asa, aku lelah dengan semuanya. Aku hampir meminum racun tapi aku sadar jika bu*nuh diri itu bukanlah jalan yang benar. Seberat apa pun masalah dalam hidup, jangan sampai berpikiran dangkal."


"Kamu benar, sekarang sudah ada aku dan kamu tidak boleh bersedih lagi. Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja dan aku akan memberikannya untukmu."


"Terima kasih, Mas. Aku beruntung bisa mengenalmu."

__ADS_1


Arron mengangguk dengan senyum tipis. Sahara menyeka air matanya, dia membuka kotak cincin dan Arron menyematkan cincin itu dijari manis milik Sahara.


"Jika sudah waktunya, aku pasti akan memutuskan hubunganku dengan Reva. Lalu setelah itu kita menikah.''


"Aku harap bisa secepatnya." ucap Sahara.


*****


Sore hari pun tiba, Reva pulang dari butik tepat pukul lima sore. Dia memutuskan untuk berhenti di taman karena pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ya, Reva melihat Sahara yang memakai cincin baru dan pikiran Reva langsung bercabang.


Gadis itu duduk di bangku panjang, suasana sore seperti ini memang sangat enak untuk bersantai di taman. Disana ada begitu banyak anak-anak bermain bersama dengan orang tua mereka.


"Kenapa bisa kebetulan seperti itu? Aku melihat Arron membeli cincin tetapi dia tidak memberikannya padaku. Dan aku melihat Sahara memakai cincin sementara dia tidak pernah membelinya." Reva menatap lurus ke depan.


"Apa jangan-jangan ..." Reva menggeleng. "Tidak! Kau tidak boleh berpikir negatif, Reva. Sebelum ada bukti, kau tidak boleh berprasangka buruk kepada siapapun. Jika memang mereka berkhianat di belakangmu, suatu saat nanti pasti akan ketahuan." lanjutnya menyemangati diri sendiri.


Reva masih menikmati keindahan taman dan melihat anak-anak disana. Tetapi, matanya tertuju pada satu anak yang terlihat kebingungan. Dia beranjak dari bangku lalu menghampiri anak itu.


Anak itu tidak menjawab, dia menatap Reva dengan seksama.


''Kamu jangan takut, Sayang. Tante ini bukan orang jahat."


"Papa." ucap anak itu dan dipahami oleh Reva.


"Kamu sedang mencari papamu?''


"Daisy mau papa."

__ADS_1


"Oh nama kamu Daisy? Sangat bagus. Baiklah, Tante akan membantumu untuk mencari papa, bagaimana?"


Daisy mengangguk. Mereka berdua berjalan bersamaan dengan Reva yang menggandeng tangan mungil milik Daisy.


Setelah berkeliling cukup lama, Daisy berteriak menyebutkan papa. Sontak pria yang tak jauh dari mereka langsung menoleh. Dia tersenyum lega dan berlari kecil menghampiri Daisy.


"Sayang!" pria dewasa itu memeluk tubuh Daisy.


"Maaf, Tuan. Kenapa Anda meninggalkan anak Anda sendiri ditempat terbuka seperti ini? Bagaimana jika ada yang berusaha menculiknya? Dan bagaimana jika terjadi sesuatu pada Putri Anda?" Reva terlihat kesal.


Pria itu menegakkan tubuhnya. "Sebelumya saya ingin berterima kasih pada Anda, Nona. Saya tidak pernah menelantarkan anak saya." pria tersebut mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Kenapa bisa setega itu? Sebaiknya Anda ceraikan saja wanita seperti dia!" tukas Reva penuh amarah.


"Jujur saya sedang memproses perceraian, dan saya berharap hak asuh Daisy jatuh ke tangan saya."


Pria itu memiliki istri, dan ternyata sang istri diam-diam meninggalkan Daisy di taman sendirian. Dia tidak suka dengan anak manis itu, dirinya beralasan jika wajah Daisy sangat mirip dengan ayahnya.


"Meskipun Daisy bukan darah daging saya, tapi saya sangat menyayanginya." ucap pria itu kemudian.


Dulu, pria tersebut menikah dengan sang istri pada saat istrinya itu menyandang status janda. Dia tidak mempermasalahkan status yang penting baginya wanita itu adalah perempuan baik baik. Tetapi, perkiraannya salah.


Reva cukup sedih dan iba mendengar penjelasan dari pria di hadapannya.


"Saya tidak tahu, Tuan. Maaf jika tadi bicara saya sedikit kasar."


"Tidak masalah, Nona. Kalau begitu kami permisi. Terima kasih karena sudah menemukan anak saya."

__ADS_1


Reva mengangguk, dia menatap punggung belakang pria itu. Tubuh tegap, wajah Asia yang sangat tampan, dan sikap yang sabar membuat siapapun pasti akan terpesona. Tetapi tidak dengan Reva karena dihatinya hanya ada Arron.


{**Bersambung**}


__ADS_2