Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #80


__ADS_3

Kebetulan hari ini weekend, seperti biasa Jimmy pun melakukan rutinitas paginya dikala libur. Pria tampan itu memakai setelan training tanpa lengan, tak lupa headset yang selalu berada di telinganya ketika dia sedang lari pagi seperti ini. Udara terasa segar, cuaca sangat cerah membuat hati siapapun pasti sangat saat ini. Namun, tidak dengan Jimmy. Dia masih teringat akan kebersamaan dirinya dan Kiara, tetapi apa boleh buat, semuanya tidak bisa terulang lagi.


Bruk!


Jimmy menabrak seseorang karena dia berlari sambil melamun. Dirinya refleks membuka headset dan menatap wanita cantik yang saat ini berada di depannya. Entah mengapa seketika senyumnya pun terbit. Sementara wanita itu, dia menatap Jimmy dengan sinis dan kesal. Bagaimana tidak, bajunya basah terkena air minum yang saat itu dia bawa.


"Apa kau tidak punya mata, hah?" kesal sang wanita sambil mencoba membersihkan noda di bajunya.


Jimmy tidak bersuara, dia hanya terus menatap wanita tersebut.


"Hei, Halo, Tuan!" wanita itu melambaikan tangan di depan wajah Jimmy hingga membuat sang empunya berkedip kaget.


"N—nona Elsa," gumam Jimmy pelan.


Ya, wanita itu adalah Elsa. Dia berada di sana untuk olahraga lari pagi sama seperti Jimmy. Beginilah kebiasaannya setiap kali weekend.


Jimmy melihat ke arah baju Elsa, dia menepuk dahinya dan merutuki kebodohannya.


"Nona Elsa, maafkan saya. Saya tidak sengaja, saya tadi hanya—" ucapan Jimmy terpotong karena Elsa menyelanya dengan cepat.

__ADS_1


"Saya memaafkan Anda. Tetapi sekali lagi, jika Anda sedang banyak pikiran, sebaiknya tidak perlu keluar rumah. Ya, daripada merugikan orang lain, contohnya seperti saya saat ini." ujar Elsa enteng.


Jimmy hanya mampu menghela napas, dia tidak mungkin melawan emosi seorang wanita. "Baiklah, saya mengerti." ucapnya pasrah.


Elsa berdecak kesal, dia berniat pergi tetapi dicegah oleh Jimmy.


"Nona tunggu!"


Elsa pun kembali menoleh.


"Nona, bagaimana jika saya bertanggungjawab untuk kesalahan yang telah saya perbuat ini."


"Maksudnya?" Elsa bertanya dengan dahi mengerut.


Elsa tersenyum sinis. "Tidak perlu, terima kasih!" tukasnya lalu pergi meninggalkan Jimmy yang mematung di tempat.


"Benar-benar wanita yang jutek!" ejek Jimmy sambil terkekeh pelan. Dia sangat menyukai sikap Elsa yang seperti itu, terlihat lucu dan imut.


****

__ADS_1


Di tempat lain, Kiara dan Raymond sudah bersiap untuk pergi ke vila. Weekend ini, Rayyan mengajak kedua orangtuanya untuk berlibur ke vila. Tentu saja hal itu langsung disetujui oleh Ray, demi sang putra apa pun akan dia lakukan selagi itu masih hal baik dan bisa di gapai.


Menempuh perjalanan sekitar dua jam, mereka sampai di tempat tujuan. Rayyan turun dari mobil dengan hati yang riang dan bahagia. Dia langsung berlari masuk ke dalam vila sementara kedua orangtuanya mengikuti dari belakang.


"Ray, awas jatuh!" teriak Kiara takut.


Rayyan tidak menggubris perkataan sang Mama, dia tetap berlari hingga masuk ke dalam kamarnya.


"Bagaimana sayang, apa kamu menyukai tempat ini?"


Kiara menganggukkan kepalanya.


"Maaf, baru sekarang aku mengajakmu kesini."


"Tidak masalah, Mas." jawab Kiara sambil tersenyum manis dan membuat Ray ingin sekali melahapnya sekarang juga.


Suasana vila yang sangat segar karena terletak di pedesaan dan sedikit berada di perbukitan membuat tempat tersebut nyaman dihuni. Siapapun pasti betah berada lama-lama disana. Dari jendela kamar, Kiara bisa melihat perumahan desa dan rumput hijau yang membentang luas membuat matanya enggan untuk berpaling.


__ADS_1




__ADS_2