Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #149


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Yola masih betah berada dirumah. Entah mengapa dia sangat sulit untuk melupakan kejadian satu Minggu yang lalu. Yola sudah mendaftar kerja di beberapa perusahaan dan cafe, hingga saat ini dirinya mendapatkan telepon dari salah satu perusahaan yang ada di kotanya.


Yola segera bersiap, gadis itu memakai pakaian sopan dan dia akan menerima pekerjaan apa pun yang akan di dapatkannya nanti selagi itu halal dan menghasilkan.


Beberapa menit kemudian, Yola telah sampai di perusahaan itu. Dia masuk ke dalam ruangan sang bos karena sudah ditunggu. Ketika Yola berada di ruangan direktur utama, dia merasa tidak asing dengan wajah pria yang saat itu duduk di kursi kebesaran. Ya, dia adalah Jayed Choo.


"Halo, Nona Yola. Setelah beberapa lama akhirnya kita bisa bertemu kembali."


"Tuan, apa kita pernah bertemu?"


"Kau melupakan saya?'' Jayed memangku tangannya dan menatap wajah Yola. "Saya Jayed, adik sepupu kak Rayyan. Perasaan kita sering bertemu, tetapi mengapa kau bisa melupakan saya?''


"Maaf, Tuan. Setiap harinya begitu banyak orang yang saya temui hingga saya tidak bisa mengingat wajah mereka satu persatu."


"Baiklah, Yola. Tidak perlu dibahas karena itu bukan masalah penting. Saya meminta kau datang kesini karena saya ingin mengatakan jika kau diterima bekerja."


"Benarkah?" Yola sebenernya tidak ingin berurusan dengan keluarga ataupun kerabat Ray, tetapi jika dia menolak pekerjaan ini, dirinya tidak akan mendapatkan penghasilan.


"Kau bisa mulai bekerja hari ini. Tugasmu sebagai resepsionis karena kebetulan di kantor ini membutuhkan seorang resepsionis."


"Tapi, Tuan. Saya tidak mengerti apa saja yang harus saya kerjakan."


"Kau bisa bertanya pada sekretaris saya, nanti dia akan mengajarimu semuanya." Jayed mengeluarkan surat kontrak. "Ini surat kontrak, kau harus menandatanganinya sebelum mulai bekerja.


Yola membaca isi surat itu, disana tertuliskan jika Yola bisa bekerja selama tiga tahun dan setelah itu barulah boleh memutuskan untuk lanjut atau tidak. Bahkan, gaji disana cukup besar. Berhubung Yola masih baru, dirinya masuk ke dalam kategori training tiga bulan dan menghasilkan gaji sekitar lima juta. Jika Yola bagus dalam melakukan pekerjaan, maka dirinya akan mendapatkan gaji delapan juta perbulan.


Yola pun menandatangani surat itu, dirinya setuju dengan isi dari surat tersebut. Jayed cukup senang karena gadis yang dia incar bekerja di kantornya.


"Baiklah, Yola. Kau bisa pergi ke mejamu."


"Terima kasih, Tuan. Saya permisi,"


Mereka berdua berjabat tangan dan Yola keluar dari ruangan Jayed.


****


Disisi lain, Rayyan merenung sambil menatap tumpukan berkas di hadapannya. Entah mengapa dia kepikiran tentang Yola yang pasti sangat sedih karena perkataannya.

__ADS_1


"Sangat tidak bisa diandalkan. Itulah sebabnya aku tidak suka berdebat, karena ucapanku pasti bisa membuat siapapun pergi menjauh." Ray menyugar rambutnya.


Ray berniat untuk pergi ke rumah Yola, dia akan meminta maaf pada gadis itu karena perkataan yang mungkin sangat membuat hati Yola terluka. Ray tidak mempedulikan pekerjaannya, bahkan dia mengatakan pada sang sekretaris untuk mengosongkan jadwal hari ini.


Pria itu masuk ke dalam mobil, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai dirumah Yola. Hingga beberapa menit kemudian, Ray telah sampai di halaman rumah milik Yolanda. Dia turun dari mobilnya dan seperti biasa, tidak sedikit warga yang terlihat penasaran akan kedatangan Ray.


"Permisi," Ray mengetuk pintu.


Tak lama, Ibu membuka pintu itu dan dia kaget karena Ray datang kerumahnya.


"Nak Ray, ada perlu apa pagi-pagi berkunjung kesini?"


"Bu, Yolanda nya ada?"


"Yola sedang bekerja, Nak. Jika kamu ingin menemui Yola, maka sebaiknya kamu malam saja datangnya."


"Tapi, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan padanya. Dan ini sangat penting, apa Ibu bisa mengatakan pada saya Yola bekerja dimana?"


"Ibu tidak tahu pasti, Nak. Tapi dia bilang jika dirinya melamar pekerjaan disebuah perusahaan dan hari ini dirinya mendapatkan panggilan. Dia belum juga pulang, itu tandanya dia diterima bekerja disana."


Ray sangat ingin bertemu dengan Yola dan menyelesaikan masalah ini. Dirinya sadar jika selama ini dia menyukai seorang Yolanda. Bukan bermaksud melupakan Almarhumah, tetapi Yola memiliki sifat sama seperti almarhumah calon istri Ray dan itu mampu membuat Ray merasa nyaman jika berada di dekat Yola.


"Tapi, Nak Ray. Ini masih pukul sebelas siang,''


"Tidak masalah, Bu. Saya akan menunggunya di sini." Ray duduk di kursi teras rumah.


Ibu hanya bisa pasrah, dia tidak mungkin mengusir Rayyan. "Ya sudah terserah nak Ray saja, ibu pamit masuk ke dalam karena Yola meminta Ibu supaya beristirahat total."


"Silakan, Bu."


Ibu masuk ke dalam rumah, dia sebenarnya tidak tega melihat Ray yang duduk sendirian di luar seperti itu. Tetapi dirinya juga tidak bisa mengajak Ray masuk ke dalam karena bisa saja menimbulkan perasaan curiga para warga.


Malam pun tiba, Ray masih betah menunggu Yola disana. Hingga sebuah sorotan lampu motor terlihat mendekati rumah Yola. Ya, gadis itu sudah pulang bekerja.


Yola membuka helmnya, dia melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya, lalu matanya beralih menatap Ray yang sudah berdiri di teras rumah seperti sedang menyambutnya pulang.


Yola berjalan mendekati Ray, dia menghembuskan napas sebelum memulai pembicaraan.

__ADS_1


''Tuan Ray, ada apa datang ke rumah saya? Apa Anda ingin meminta ganti rugi masalah Jam Minggu lalu? Saya belum ada uangnya, jika sudah ada, maka saya akan mengganti jam tangan Anda yang rusak karena ulah saya." ucap Yola langsung pada intinya, dia enggan untuk berbasa-basi.


"Yola, kenapa kau langsung berpikir ke arah sana?"


"Lalu apa lagi? Tujuan Anda datang kesini hanya untuk hal itu bukan?"


"Saya datang kesini untuk meminta maaf. Saya sadar atas perkataan kasar saya yang membuatmu sakit hati. Saya minta maaf, Yola."


Yola tersenyum hambar. "Saya sudah memaafkan Anda, Tuan."


"Saya benar-benar tidak bisa mengontrol diri, saya mohon lupakan permasalahan Minggu lalu. Saya sudah mengikhlaskan Jam itu, anggap saja ini saatnya saya harus membuka hati untuk wanita lain."


"Saya sudah mengatakan jika saya telah memaafkan Anda, Tuan. Jadi, Anda tidak perlu khawatir."


Ibu keluar dari rumah. "Yola, Nak Ray sedari tadi siang menunggu kamu disini. Dia sengaja tidak pulang karena ingin meminta maaf padamu."


Yola menatap Ray dengan rasa tidak percaya, bagaimana mungkin pria mau menunggunya selama ini. Yola merasa jika permintaan maaf dari Ray benar-benar tulus.


Ibu kembali masuk ke dalam kamarnya, dia akan memberikan waktu untuk kedua anak muda itu berbicara.


"Yola, kau tidak dendam padaku 'kan?"


Yola menggeleng. "Tuan, orang tua saya mengajarkan supaya saya tidak menjadi orang pendendam. Saya harus membalas sebuah kejahatan dengan kebaikan, tdiak perlu menyimpan amarah terlalu lama karena tidak baik untuk pikiran."


Ray mengangguk paham. "Jadi, sekarang kita sudah baikan?"


Yola mengangguk sambil tersenyum untuk tanda jika dirinya tulis memaafkan Ray.


"Terima kasih, Yola.''


"Tuan, saya harap sekali lagi, berpikirlah sebelum Anda berbicara. Anda tidak tahu seberapa tersinggungnya perasaan seseorang karena ucapan Anda. Jangan membuat banyak orang membenci Anda hanya karena perkataan. Tuan ingat 'kan apa kata pepatah? Mulutmu harimaumu."


Ray mengangguk paham. "Mulai sekarang saya akan berusaha untuk mengontrol emosi dan perkataan."


"Itu bagus sekali. Oh, ya. Tuan Ray sudah makan? Jika belum, sebaiknya kita makan malam bersama saja di dalam."


Ray setuju, dia masuk bersama dengan Yola.

__ADS_1


{**Bersambung**}


__ADS_2