Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #119


__ADS_3

Reva sudah berada dikediaman keluarga Albert, sekarang jam menunjukkan pukul lima sore. Dia telah melupakan pembicaraan dengan Arron tadi siang yang mengatakan jika dirinya tidak sibuk.


Gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah keluarga Albert, dia ditemani oleh Ardyan.


"Dy, bawa semuanya ke dalam dan aku akan bertemu dengan Nyonya Albert terlebih dahulu."


Ardyan mengangguk patuh, dia mengeluarkan semua barang bawaan mereka.


Saat Reva baru menginjakkan kakinya ke dalam teras, dia melihat ada seorang pria yang berada di halaman samping. Reva berjalan mendekati pria itu dan ingin menanyakan tentang Nyonya Albert.


"Permisi, Tuan?'' sapa Reva membuat pria tersebut menoleh.


"Ada yang bisa saya bantu?"


''Apa Nyonya Albert ada dirumah?"


Pria itu menatap Reva dari atas sampai bawah, sementara Reva hanya tersenyum kecil.


"Saya datang kesini untuk bertemu dengan Nyonya. Bisa tolong panggilkan?" Reva mengira jika pria di depannya saat ini adalah seorang pengurus kebun.


"Kenapa Anda tidak langsung masuk saja, Nona? Nyonya Albert pasti ada di dalam."


"Saya tadi sudah menghubungi Nyonya, tetapi nomornya tidak aktif. Maka dari itu, berhubung saya melihat Anda, saya ingin Anda memberitahu pada Nyonya jika saya sudah sampai. Anda pengurus kebun bukan?"


Pria tersebut melongo, wajah tampan bertubuh atletis begini dikatakan sebagai pengurus kebun. Dia menarik napas lalu tersenyum, sementara dalam hati dia merasa kesal dengan pernyataan dari Reva barusan.


"Baiklah, Nona. Mari saya antar ke dalam."


"Terima kasih." Reva tersenyum seperti tidak bersalah.


Setelah berada di dalam rumah, pria itu sedikit berteriak memanggil Nyonya Albert.

__ADS_1


"Nyonya! Nyonya Albert!" teriaknya membuat Kelly Albert keluar dari kamar.


Wanita paruh baya itu berjalan menuruni anak tangga, dia menatap ke arah gadis yang bersama dengan putranya.


"Selamat sore, Nyonya."


"Selamat sore, Nona Reva. Saya pikir Anda akan datang besok atau lusa."


"Tidak, Nyonya. Menurut saya lebih cepat lebih baik, berhubung saya juga hari ini tidak ada kesibukan."


"Lanjutkan bicaranya, saya permisi, Nyonya." ucap pria itu menekan kata Nyonya.


Kelly hanya menggeleng melihat kelakuan sang putra.


"Maafkan putra saya, ya, Nona Reva. Dia memang suka bergurau.''


Reva tersenyum sambil mengangguk, lalu sejenak kemudian senyumnya surut ketika dia mengingat kata putra.


"Ya, benar. Dia putra pertama saya, namanya Alex."


Reva ber'o' ria, dia menggigit bibir bawahnya karena sudah berani mengatakan Tuan muda itu dengan sebutan pengurus kebun. Dia memang tahu jika Kelly memiliki dua orang anak, tetapi dirinya tidak pernah melihat wajah putra pertama dari Nyonya Kelly.


"Bagaimana, apa Nona Reva sudah membawakan gaun yang kamu inginkan?"


"Sudah, Nyonya." jawab Reva bersamaan dengan Ardyan yang masuk ke dalam dengan membawa koper besar.


"Nah ini, Anda bisa melihat-lihat terlebih dahulu. Jika ada yang kurang, maka Anda bisa request mau seperti apa." Reva melihat ke sekeliling. "Dimana calon mempelai wanitanya?"


Kelly yang saat itu baru saja ingin mengambil satu gaun, langsung mengurungkan niatnya.


"Dia ada dikamar, sedang bermain dengan keponakannya."

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya dia di panggil untuk turun ke sini, Nyonya? Ya, barangkali Nona Kenny ingin melihat gaunnya juga."


"Kau benar, Nona." Kelly memanggil sang asisten rumah tangga dan memintanya untuk memanggil Kenny.


Tak lama kemudian, turunlah gadis cantik berwajah Turki berjalan mendekati sofa. Dia adalah Kenny, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang akan segera menikah.


"Halo, Nona Kenny."


Kenny hanya tersenyum membalas sapaan dari Reva. Tanpa berbasa-basi apa pun lagi, Kenny langsung melihat gaun yang cocok untuk dia gunakan dan mewah.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Kenny dan sang Mami menemukan gaun yang cocok. Mereka melakukan pembayaran melalui cek kertas. Sungguh Reva bahagia mendapat pemasukan sebesar itu. Meksipun dia terbilang anak orang kaya, tetapi dirinya lebih suka mendapat penghasilan dari kerja kerasnya sendiri.


"Baiklah, Nyonya. Berhubung sudah hampir malam, saya harus pamit pulang."


"Terima kasih atas kerjasamanya, Nona Reva. Saya ingatkan sekali lagi, jika nanti resepsi digelar, Anda harus datang."


"Saya akan usahakan.'' sahut Reva diselingi senyum manis.


Seorang balita yang tengah duduk di pangkuan Kenny terus menatap Reva dan tersenyum manis. Reva melambaikan tangan ke arah balita itu.


"Saya permisi, Nyonya, Nona."


Reva membalikkan badan, tetapi baru beberapa meter melangkah, dirinya berhenti. Dia mendengar seseorang memanggil Daddy.


Seketika Reva langsung menoleh untuk memecahkan rasa penasarannya, ternyata disana balita tadi menghampiri Kimmy, pria yang dia pikir pengurus kebun.


'Daddy? Berarti, anak manis itu putri dari Tuan Kimmy.' Reva kembali melangkah. 'Ya, aku mengingat sesuatu. Putra pertama Nyonya Kelly adalah seorang duda beranak satu, dan dia bercerai dari istrinya karena isu perselingkuhan.'


{**Bersambung**}


__ADS_1


{Bersambung}


__ADS_2