
"Hoek! Hoek!" Raymond berlari ke dalam kamar mandi.
"Ray, ada apa? Apa kamu masih masuk angin?" Meysa menyusul Raymond.
"Entahlah, sudah hampir dua bulan ini aku mual-mual terus." Ray memejamkan mata karena rasa mual yang terus melanda.
"Apa tidak sebaiknya kita ke Dokter saja?"
"Aku memang memutuskan untuk ke dokter besok, sekaligus aku ingin tahu perkembangan anakku yang sedang kamu kandung."
Mey jadi bingung harus bicara apa. "Ray, kita periksakan saja kondisi kamu. Satu minggu yang lalu aku baru dari rumah sakit dan Dokter mengatakan keadaan bayi kita baik-baik saja, bahkan dia juga berkembang sehat."
'Setiap aku mengajaknya ke Dokter entah mengapa Meysa menolak. Aku jadi semakin curiga, anak buahku sudah mendapatkan petunjuk jika anak yang ada di dalam kandungan Meysa memang bukan darah dagingku. Tetapi aku tidak boleh terburu-buru membongkar kebusukan Meysa.' batin Rey sambil melirik Meysa sejenak.
"Ayo kita tidur, ini sudah malam."
Meysaa memakai Ray dan mereka berdua naik ke atas ranjang.
Ray sangat jarang menyentuh Meysa, dia lebih sibuk lembur kerja dan pulang larut malam ketika Meysa sudah tertidur pulas. Ray juga terpaksa menyentuh Meysa agar Mey tidak terlalu curiga padanya.
Mereka berdua tidur dengan Ray yang membelakangi Meysa, sementara Meysa melingkarkan tangannya di perut Ray.
***
Jimmy telah menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Kiara.
"Nasi udah, sayur udah, buah, dan susu juga sudah lengkap." Jimmy menatap makanan yang ada di atas meja makan.
Tak
__ADS_1
Tak
Suara sandal Kiara menuruni anak tangga.
Jimmy tersenyum ketika Kia sudah hampir sampai di meja makan.
"Mas, kamu masak?"
Jimmy mengangguk. "Aku yakin rasanya tidak enak, tapi setidaknya cobalah dulu. Aku memasak dengan cara melihat dari youtube."
"Ya ampun, harusnya gak perlu repot-repot Mas. Aku juga kalau cuma masak masih bisa kok." Kiara duduk di kursi.
Jimmy duduk di kursi sambil berkata. "Dokter juga mengatakan jika kamu tidak boleh terlalu lelah atau akan terjadi masalah dengan janinmu."
Kiara tersenyum tipis, dia bersyukur karena ada Jimmy yang mau membantunya selama ini dan juga menjaganya dengan ikhlas.
"Terima kasih banyak karena kamu mau menolong serta menjagaku, Mas. Aku sangat banyak berhutang budi padamu,"
"Eh, gak usah Mas! Aku bisa sendiri." Kiara menolak tetapi Jimmy tetap mengisi piring milik Kiara.
Kiara hanya melihat ketelaten Jimmy yang mengurusnya.
"Gimana? Enak gak?" Jimmy menatap wajah Kiara yang saat itu menyantap masakannya.
"Eum, lumayan. Cuma sedikit keasinan," Kia tersenyum dan terus memakan ayam goreng crispy buatan Jimny.
Mereka berdua makan sambil mengobrol ringan tentang kandungan Kia, jenis kelamin, juga nama bayi, lalu merenovasi kamar bayi nantinya akan seperti apa.
***
__ADS_1
Keesokan paginya.
Ray dan Meysa telah sampai di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Meysa yang merasa penasaran langsung bertanya kepada Dokter ketika baru saja selesai memeriksa Raymond.
"Tidak ada masalah yang terlihat besar, Nyonya. Tuan mual-mual itu karena pertanda jika istrinya sedang hamil dan itu sudah biasa terjadi."
"Maksud Dokter?" Ray bersuara dari arah belakang Dokter.
"Ya, Tuan sedang mengalami kehamilan simpatik, yang mana sang istri sedang hamil tetapi suami lah yang merasakan ngidam seperti mual-mual dan juga lemas." Dokter menjelaskan dengan senyum tipis.
'Kehamilan simpatik? bagaimana mungkin, sementara aku saja tidak hamil.' Meysa menjadi heran.
Dokter menuliskan resep obat untuk Ray. "Saya akan memberikan resep untuk mengurangi rasa mual yang melanda Tuan. Anda bisa menebusnya di apotik nanti." Dokter menyodorkan kertas kecil itu.
Ray melirik Meysa sejenak.
"Dokter, tolong periksakan kandungan istri saya." ujar Ray yakin jika saat ini adalah waktu yang pas untuk mengetahui masalah kehamilan Meysa.
"Apa!"
•
•
•
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH 🤗**