
Perlahan bola mata milik Kiara berkedut.
"Argh.." lirihnya dengan memegangi kepala.
Jimmy yang saat itu duduk di samping Kiara langsung tersenyum lega.
"Syukurlah anda sudah bangun." ujar Jimmy seraya menatap wajah Kia.
"A—aku dimana?" Kiara bertanya dengan nada pelan.
"Pesawat." sahut Jimmy dengan ringan.
"P—pesawat!" pekik Kiara terkejut.
Jimmy hanya mengangguk. "Berhubung anda tadi pingsan dan saya bingung ingin membawa anda kemana jadi saya memutuskan mengajak anda ke luar negeri bersama saya." lanjutnya tanpa dosa.
Kiara yang belum pernah menaiki pesawat langsung memejamkan mata karena takut, berita di televisi yang menayangkan pesawat jatuh lalu semua penumpang meninggal dunia mampu membuat Kia ketakutan jika mengingatnya.
"Y—Ya Allah, semoga tidak ada apa-apa di dalam pesawat." gumam Kiara berdoa.
Jimmy mengerutkan dahi karena tidak begitu jelas mendengar ucapan Kiara.
Kiara melihat ke luar jendela dan ternyata benar mereka berada di dalam pesawat.
"Aaaaaa!!" Kiara berteriak ketika pesawat oleng karena benturan kecil dari awan.
"Hei Nona, anda mencengkram tangan saya hingga berbekas." Jimmy melirik pergelangan tangannya.
"A—aku..." Kia menjadi gugup hingga pingsan untuk kedua kalinya.
"Nona! Nona bangun!" Jimmy menepuk pelan pipi Kia namun tidak ada reaksi.
"Ya Tuhan, gadis ini sepertinya benar berasal dari desa. Lihat saja, baru naik pesawat dia sudah pingsan lagi. Aku juga belum tahu siapa namanya,"
Jimmy menatap wajah Kia dan sudut bibirnya terangkat karena aura polos yang terpancar dari wajah Kiara.
Lima belas jam kemudian.
Pesawat yang Jimmy dan Kia tumpangi telah sampai di Ibu kota Roma.
__ADS_1
Jimmy menggendong tubuh Kia yang masih betah pingsan. Ya, Kiara pingsan empat kali karena takut dan gugup, Jimmy hanya mampu menahan tawa ketika melihat sikap Kia yang terbilang norak.
Jimmy terus berjalan menuju apartemen miliknya yang terletak tak jauh dari kota.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka berdua di apartemen milik Jimmy.
"Huft! Akhirnya sampai juga, meskipun tubuhnya kecil tetapi dia sangat berat sekali. Aku rasa dia sangat doyan makan atau ngemil." gumam Jimmy sembari membenarkan posisi tidur Kia yang saat ini sudah berada di ranjang.
Jimmy melihat jam tangan.
"Pukul dua belas siang, perutku lapar sekali." Jimmy terdiam seraya berpikir akan membeli makanan atau tidak.
"Baiklah Nona, aku akan keluar sebentar. Tidurlah dulu dan aku akan segera kembali," ucapnya berbicara pada Kia yang masih pingsan.
Jimmy beranjak pergi dari dalam kamar.
Dua jam.
Kia terbangun dan bola matanya terbuka sempurna.
"A—apa aku masih berada di dalam pesawat?" ucapnya ketika baru sadar dan melihat ke sekeliling.
"I—ini seperti kamar." mata Kia membulat sempurna. "Ya Allah, jangan bilang pria tadi menjualku! Tidak tidak, aku harus segera pergi dari ruangan ini, enak saja dia mengambil keuntungan dari wanita polos sepertiku. Tapi bagaimana caranya aku pergi dari sini?" Kia meneguk saliva nya dengan kasar ketika mendengar suara handel pintu yang terbuka dari luar.
Ceklak!
Kia terus menatap ke arah pintu dan berharap yang masuk bukanlah orang jahat.
Jimmy masuk ke dalam dan tersenyum tipis ketika melihat Kia yang ternyata sudah sadar.
"Syukurlah ternyata pria itu yang datang." Kia menghela nafas lega sembari mengelus dada.
"Nona, anda sudah bangun?" Jimmy meletakkan dua cup coffe dan satu kotak roti di atas meja.
"Ya, aku pikir tadi anda menjual diriku, Tuan."
"Pfft." Jimmy menahan tawa. "Mengapa anda harus berpikir terlalu jauh begitu, Nona? Saya ini bukan pedofil, yang menjual anak di bawah umur kepada orang yang lebih tua." gurau Jimmy mencoba mencairkan suasana.
"Ck! Anak di bawah umur? Yang benar saja." Kia duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Saya yakin ketika bangun anda pasti akan lapar, jadi saya membelikan ini untuk anda." Jimmy menyodorkan satu cup coffe hangat dan roti kepada Kia.
"Terima kasih, anda sangat pengertian Tuan." Kia menerima pemberian dari Jimmy dengan senang hati, feeling Kia yakin bahwa Jimmy adalah orang baik jadi dia tidak perlu khawatir.
"Oh ya, kita belum berkenalan." Jimmy mengulurkan tangan sebelah kanan. "Saya Jimmy Fernando."
"Kiara." sahut Kia seraya menjabat tangan Jimmy.
Jabatan pun terurai dan mereka makan bersama dengan mengobrol ringan seputar kehidupan masing-masing dan tempat yang saat ini Kia pijak'i.
***
Meysa hari ini sudah diperbolehkan pulang ketika harus menginap satu hari di rumah sakit.
Saat ini Ray dan Meysa sedang berada di rumah Kiara.
"Ray, aku turut bersedih atas kepergian Kiara. Aku yakin dia seperti itu karena diriku," lirih Meysa dengan sendu.
"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Meysa. Disini aku lah yang bersalah karena tidak bisa adil pada kalian berdua."
"Ray, kamu harus tenang. Masih ada aku disini, aku akan selalu bersamamu dan mendampingimu." Meysa mengelus pundak Raymond.
Ray hanya tersenyum tipis.
Flashback off:
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK MANISNYA DAN DUKUNGAN KALIAN SEMUA 🤗
MOHON MAAF OTHOR BARU UP, HANDPHONE OTHOR BARU KELUAR DARI KONTER KARENA RUSAK 🙏🏻**
__ADS_1