
Rara segera turun ke lantai bawah dan mengangkat telepon rumah yang berdering.
"Halo, dengan keluarga William disini. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Rara ketika sambungan terjawab.
Rara mendengarkan dengan serius apa yang seseorang diseberang sana katakan.
"APA!" pekiknya kencang hingga seluruh semua yang ada didalam rumah keluar dari kamar mereka masing-masing.
Amel, Ray dan Kia segera berlari kecil menghampiri Rara yang diam mematung sembari membekap mulutnya sendiri.
"Ma, ada apa?" Amel menatap wajah sang Mama yang terlihat pucat, keringat dingin mengucur dan tubuh yang gemetaran.
Ray dan Kia hanya saling pandang.
"Ma, Mama kenapa?" Ray memegang pundak Rara.
Gagang telepon terjatuh ke lantai dan tubuh Rara terhuyung hingga Rara berpegangan pada ujung meja sebab kakinya seperti lemas dan tidak bisa menahan berat badannya sendiri.
"Ma, ada apa!" teriak Ray khawatir.
Air mata mengalir di pipi Rara.
"Papa kamu, Ray.." Rara berkata dengan lirih.
"Papa? Papa kenapa, Ma? Bukannya Papa lagi di pesawat untuk kembali ke Indonesia ya?" Amel mendekati sang Mama.
"T—tadi Mama dapat telepon kalau... Kalau pesawat yang Papa kalian tumpangi kehilangan kendali dan—" Rara menangis di dalam pelukan Raymond.
Amel menggelengkan kepala. "Gak mungkin, gak mungkin itu pesawat Papa!" Amel menitikkan air mata.
Kiara segera menyalakan televisi dan berita terbaru langsung muncul memenuhi layar televisi itu.
Semua terkejut ketika melihat berita yang mana mengatakan jika pesawat SW 202 telah jatuh, namun penyebab insiden tersebut belum diketahui dan tim SAR sedang menelusuri tempat kejadian. Mereka tengah mencari black box yang menghilang.
"Gak mungkin, PAPA!!!" teriak Amel histeris dan jatuh pingsan.
__ADS_1
"Amel!" Kiara menghampiri Amel dan memangku kepala Amel di tangannya.
Raymond berjalan ke sofa untuk membantu sang Mama duduk dan setelah itu dia langsung menggendong tubuh Amel masuk ke dalam kamar.
•
•
Semua kejelasan sudah terbukti benar bahwa semua penumpang pesawat SW 202 tidak ada yang selamat.
"Mey!" Rahma memanggil sang Putri.
"Yes, Mom?" Mey menghampiri Rahma yang sedang berada di sofa sembari menonton televisi.
"Lihat itu, nak. Berita akurat dan terkini," Rahma membesarkan volume televisi nya.
Mey ternganga karena terkejut.
"Ma, bukannya itu pesawat yang Om Bimo tumpangi?"
"Mey akan menghubungi Raymond dulu," Meysa yang memang penasaran langsung menghubungi Ray.
Tut tut tut
Telepon tidak terjawab.
Beberapa kali Mey mencoba mengulangi tetap saja sambungan tidak terjawab.
"Gimana, Mey?" Rahma yang khawatir langsung menghampiri sang Putri.
"Ray gak menjawab telepon dari Mey, Ma." Meysa menggenggam erat ponselnya.
"Biar Mama coba telepon ke nomor Tante Rara." ucap Rahma seraya mengambil ponsel dan menghubungi Rara.
Tut tut tut
__ADS_1
Sambungan juga tidak terjawab.
"Gak bisa juga," Rahma terdiam sembari berpikir.
"Mama akan menelepon ke nomor rumah keluarga William. Semoga saja bisa," Rahma kembali menghubungi.
Sambungan akhirnya terjawab.
"Halo, selamat siang." sapa Rahma ketika telepon telah tersambung.
"Saya Rahma, Mama nya Meysa." ucap Rahma dengan suara lembut.
"Oh, jadi ini Kiara. Tante mau tanya, Bimo pulang ke Indonesia menumpangi pesawat apa? Soalnya tadi Tante lihat berita di TV ada pesawat yang jatuh tapi belum tahu penyebabnya apa." jantung Rahma berdegup kencang, dia berdoa semoga saja bukan pesawat milik Bimo.
Mulut Rahma menganga lebar hingga Mey bingung melihat reaksi sang Mama.
"Baiklah, kami akan segera ke sana. Selamat siang," Rahma memutuskan panggilan.
"Ma, bagaimana?" Mey juga ikut khawatir.
"Ternyata itu benar pesawat yang Om Bimo tumpangi, nak.." Rahma tak kuasa menahan air mata.
"Jadi--?" Mey membekap mulutnya sendiri.
"Sayang, ayo kita pergi ke rumah Tante Rara. Mama yakin pasti Tante Rara sangat terpuruk saat ini,"
Mey mengangguk dan segera mengambil tas serta kunci mobil.
•
•
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH BANYAK 🙏🏻**