Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab #36


__ADS_3

Matahari terbit dari ufuk timur dan cahayanya masuk ke dalam sebuah kamar melewati tirai jendela yang sedikit terbuka.


Ray membuka kelopak matanya dan melihat ke sekeliling untuk mengumpulkan kesadaran terlebih dahulu.


"Dimana Kia?" gumamnya sembari duduk.


Ray menatap alarm yang berada di samping meja ranjang. "Pukul delapan, ini pertama kalinya aku bangun kesiangan."


Senyum Ray terbit seketika kala dia mengingat kejadian tadi malam saat dirinya berhasil membobol gawang pertahanan milik Kiara.


"Sangat membuat ketagihan, aku bahkan menginginkannya lagi jika mengingat hal tadi malam." Ray segera beranjak dari atas ranjang untuk segera membersihkan diri.


Sementara di ruang tengah.


Kiara yang baru selesai mencuci piring langsung menghampiri Bi Imah.


"Bi, sini biar saya aja yang ngepel lantainya." Kia ingin meraih gagang pel tetapi Bi Imah dengan cepat menyingkirkan tangan Kia dengan pelan.


"Jangan neng, Bibi gak mau nanti Tuan Ray jadi marah terus jadi salah paham." tolak Bi Imah halus sebab dia tidak ingin jika Raymond marah padanya karena membiarkan Kiara yang melakukan tugas rumah.


"Jangan takut, Bi. Nanti saya yang akan menjelaskan kepada Mas Ray bahwa kemauan saya mengepel lantai ini." Kia menarik paksa gagang pel dari tangan Bi Imah.


"Tapi neng—" Bi Imah ragu.


"Sst. Udah akh gak ada tapi-tapian, lebih baik bibi menjemur pakaian yang ada di belakang aja." Kia mulai mencelupkan kain pel ke dalam ember berisi air dan kemudian memerasnya hingga sedikit tuntas.

__ADS_1


Bi Imah patuh dengan yang Kia katakan, dia langsung pergi meninggalkan Kiara ke belakang untuk menjemur pakaian. Semenjak ada Kia, pekerjaan Bi Imah sedikit ringan karena Kiara selalu membantunya, Kia pun tidak tega melihat wanita paruh baya berusia lima puluh lima tahun itu bekerja keras sendiri membersihkan rumah yang sangat luas tersebut.


Rara baru keluar dari kamar dan dia segera menuruni anak tangga untuk sarapan pagi, berhubung hari ini weekend jadi para keluarga bersantai di rumah.


Sesampainya dibawah, Rara tersenyum licik melihat Kiara yang sedang mengepel lantai. Rara dengan cepat berjalan ke arah ember air yang berada di belakang Kiara, dengan tega dia menendang ember itu hingga air nya tumpah kemana-mana.


"Masya'allah!" pekik Kia kaget karena melihat air yang sudah banjir dari sampingnya.


Brugh


Rara menjatuhkan dirinya sendiri tepat di belakang Kiara.


"Mama!" Kiara berjongkok di samping Rara berniat untuk membantu.


"Minggir kamu!" teriak Rara marah dan mendorong Kia.


"Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan sebutan Mama? Aku tidak sudi jika mulut kampung mu memanggilku seperti itu!" bentak Rara marah seraya memenangi pergelangan kakinya.


"M—maaf, Tante. Mari saya bantu," Kia ingin memegang lengan Rara tetapi Rara menghempaskan tangan Kiara dengan kasar.


"Gak usah sok baik! Saya tau jika kau pasti senang karena sudah menikah dengan Raymond'kan? Kau hanya ingin menguras harta anakku saja!"


Kiara menggeleng. "Apa yang Tante katakan? Saya gak pernah berpikir seperti itu, saya mencintai Ray apa adanya dan tulus."


"Bohong! Dasar perempuan kampungan! Kau tidak pantas menjadi menantu di keluarga William, kau hanya pantas menjadi pembantu di rumah ini." Rara menatap Kia tajam.

__ADS_1


Kiara hanya terdiam sembari menitikkan air mata, hati Kia sangat sakit ketika harga dirinya di injak-injak seperti Ini.


'Ya Allah aku mohon kuatkan aku, aku memang orang miskin tetapi aku juga mempunyai perasaan, hatiku bisa sakit jika orang lain menghina diriku seperti ini..' batin Kia bersedih.


"Ada apa ini?" suara bariton milik Ray terdengar bertanya dari arah belakang.


Rara dan Kia menatap Ray yang berjalan mendekat.


"Ma, kenapa Mama duduk di lantai?"


"Siapa bilang Mama sedang duduk? Mama jatuh Ray, dan ini karena gadis kampungan itu." Rara menujuk Kia menggunakan dagunya.


Kia hanya menggeleng cepat. "Tidak, Mas. Itu tidak benar, Tante terpeleset sendiri dan aku—" ucapan Kia terpotong karena Ray menempelkan jarinya dibibir menandakan Kia harus diam.


Ray menatap Kia dengan tatapan yang sulit di artikan.





**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA 🤗 TERIMAKASIH untuk YANG SUDAH MENDUKUNG 😍**


__ADS_2