Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #155


__ADS_3

Malam hari pun tiba, Ray dan Yolanda sudah berada di dalam kamar mereka. Resepsi yang cukup mengharukan tetapi bisa membuat hati Yola tenang. Gadis itu kini sudah tahu semuanya, dia malah semakin sayang pada sang Ibu.


"Mas, ibu 'kan sudah tua, beliau juga tinggal sendiri dirumah. Aku tidak tega meninggalkan Ibu sendirian seperti itu."


"Lalu kamu mau bagaimana, Sayang? Apa kita membawa Ibu ke rumah ini saja?"


"Aku rasa kita harus tinggal bersama Ibu, Mas. Tapi, aku yakin jika ibu pasti tidak mau tinggal bersama dengan Mama."


"Aku jadi bingung, kamu pikirkan bagaimana bagusnya. Aku akan menuruti kemauanmu, hm?"


Yola terdiam, baru satu hari berpisah dari ibunya, dia sangat merindukan wanita paruh baya itu. Yola menunggu Rayyan yang masih berada di kamar mandi, dia juga ingin segera membersihkan diri karena tubuhnya sangat lelah dan lengket.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sudah selesai membersihkan diri. Ray tidak memakai baju, dia bertelanjang dada dan berbaring di samping Yola. Gadis itu sedang membuka kado khusus pemberian dari Reva. Dia sangat penasaran apa yang ada di dalam kotak itu.


Sesudah berhasil di buka, Yola melongo, dia menutupi isi dari kado itu.


''Ada apa, Sayang? Rayyan bertanya heran, dia sangat penasaran dengan sesuatu yang Reva berikan.


Ray memaksa supaya bisa melihat kado itu, dan seketika tawanya pun pecah. "Ternyata Reva sangat pintar memilih hadiah, adik yang sangat pengertian.''


Yola sangat malu, dia menutupi wajahnya yang bersemu merah. "Mas, kamu ini bicara apa?"


"Bagaimana jika kamu mencobanya sekarang juga, Sayang? Kamu tau 'kan, ini malam pertama kita berdua."


Yola pun melupakan permasalahan tadi yang membuat hatinya merasa sedih.


Ray mematikan lampu dan dia hanya menghidupkan penerangan saja. Dirinya mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Yola, kini keduanya sudah sama sama polos tanpa sehelai benangpun. Yola sedikit malu tetapi dia tetap mencoba biasa saja.


Ray memulai semuanya dari pemanasan, pria itu mengecup bibir Yola dengan lembut hingga gadis nya itu merasa terbuai. Lalu, kecupan Ray perlahan turun ke leher jenjang dan mulus milik Yola, disana dia mampu membuat Yola menggeliat seperti cacing.


Keduanya melakukan pemanasan sekitar dua puluh menit sebelum masuk ke tahap inti.


****


Pagi hari pun tiba, Ray dan Yola masih bergelung nyaman di bawah selimut. Mereka bahkan tertidur tanpa memakai apa pun, Ray memeluk tubuh Yola dengan erat.


Yola menggeliat karena merasakan cahaya matahari yang masuk lewat tirai jendela. Dia menatap wajah pria yang masih tertidur pulang sambil memeluknya.

__ADS_1


"Mas, Mas Ray?'' Yola menepuk pipi Ray hingga membuatnya terbangun.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Ray bertanya dengan suatu serak khas bangun tidur.


"Mas, kamu kelelahan, ya? Ya sudah, kamu lanjut tidur, aku akan mandi terlebih dahulu." Yola ingin bangkit tetapi di tarik oleh Ray.


"Mas, ini sudah siang. Aku tidak enak dengan keluargamu karena bangun sesiang ini."


"Diamlah, Sayang. Sebentar saja, ya?"


Yola pun menuruti perkataan Rayyan. Dia menatap wajah tampan itu yang masih memejamkan matanya. Yola tidak menyangka jika mereka bisa menjadi suami-istri begini, semuanya berawal dari ketidaksengajaan lalu berakhir di sebuah ikatan sakral.


Beberapa menit kemudian, Ray kembali tertidur pulas. Ini menjadi kesempatan bagi Yola untuk segera mandi.


Beberapa menit kemudian, Yola sudah selesai membersihkan diri. Dia mengeringkan rambut menggunakan hairdryer, lalu dirinya memberikan vitamin ke rambut dan mulai menyisirnya.


Yola mengoleskan lipstik di bibirnya supaya tidak terlihat pucat, tak lupa dia menutupi bekas merah yang ada di lehernya akibat permainan Ray tadi malam.


Selesai bersiap, Yola pun membangunkan Rayyan.


Ray menggeliat, dia membuka matanya sedikit. Lalu, dirinya memeluk tubuh tubuh Yola yang sudah wangi.


"Kenapa kamu mandi duluan? Seharusnya kan menunggu aku, supaya kita bisa mandi bersama."


"Jika kita mandi bersama, maka tidak akan ada selesainya. Kamu tau 'kan maksudku?" Yola tertawa. "Ya sudah ayo bangun! Kamu harus segera mandi lalu kita sarapan bersama, aku akan menunggumu di bawah."


"Five minutes, aku masih mengumpulkan nyawa."


"Tapi kamu lepaskan pelukannya dulu, Mas."


Ray melepaskan pelukannya sebelum Yola yang manis berubah menjadi singa.


"Aku keluar duluan, ya, Mas? Kamu cepatlah turun kebawah.''


Ray mengangguk. Pria itu melihat punggung belakang Yola yang sudah menghilang di balik pintu, dirinya memejamkan mata sesaat.


"Aku tidak akan pernah melupakanmu, tetapi aku juga sangat mencintai istriku saat ini." ucap Ray seakan bicara pada almarhumah calon istrinya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Disana ada Ibu yang belum diperbolehkan pulang oleh Kiara.


"Aduh, pagi-pagi seperti ini ada yang wajahnya sudah sangat cerah." ejek Reva membuka suara, dia sangat suka menggoda kakaknya.


"Hei apa yang kau katakan anak kecil?"


"Oh, anak kecil, ya?" Reva memijak kaki Ray yang ada di bawah meja.


Ray terjingkat karena merasakan sakit. "Dasar kau ini!" ucapnya ingin membalas tetapi dia teringat Yola dan Ibu ada disana.


"Kenapa tidak membalas? Akh, Reva tau. Kakak pasti takut karena ada kakak ipar, benarkan?" Reva terkekeh pelan. "Akhirnya aku bisa selamat dari amukan serigala."


"Sudahlah, Reva. Kenapa kamu suka sekali menggoda kakakmu?" Kiara tertawa melihat kelakuan kedua anaknya.


"Oh, ya, Bu. Yola ingin bertanya, apa Ibu mau tinggal bersama dengan Yola dan Mas Ray?"


"Nah bener, Bu. Saya juga tidak keberatan jika Ibu tinggal disini, saya malah merasa senang karena memiliki teman bercerita." ucap kiara menyambung.


"Saya lebih baik tinggal di rumah saya sendiri, Mama Ray. Saya tidak ingin merepotkan kalian semua."


"Tidak ada yang merasa si repot kan, Bu. Kita semua disini keluarga," ucap Raymond ikut andil.


Yola sangat bahagia karena mertuanya sangat pengertian dan mau membantu dirinya untuk membujuk Ibu. Tetapi, Ibu tetap bersikeras menolaknya. Beliau mengatakan hidup dan mati berada dirumahnya sendiri. Hal itu mampu membuat Yola sedih.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kalian saja yang tinggal bersama dengan Ibu? Kalian bisa menemani ibu, kasihan beliau sendirian di rumah." Ucap Kiara memberikan saran, dia sangat tahu perasaan Yola saat ini.


Ray mengangguk. "Ray ikut saja, Ma."


Ibu tersenyum senang, beliau bahagia karena memiliki besan seperti Kiara yang sangat pengertian.


"Mama dirumah ada Reva yang menemani, ya 'kan, sayang?"


Reva mengangguk setuju. Yola pun berterima kasih karena Kiara sangat mengerti.


Kemudian, semuanya pun memulai sarapan. Ray akan membawa barang-barangnya ke rumah Yola.


{**Bersambung**}

__ADS_1


__ADS_2