Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #107


__ADS_3

Pernikahan Jimmy dan Elsa akan di adakan dua Minggu lagi, keduanya sudah menentukan dekorasi dan feeting baju pengantin. Bahkan, Jimmy mencari gedung yang sangat mewah untuk acara resepsi pernikahan mereka nantinya.


Elsa merasa bahagia karena pada akhirnya dia akan melepas masa lajang dan menikah dengan pria yang dicintainya.


"Sayang, bagaimana dengan ini?" Jimmy memperlihatkan motif surat undangan pada Elsa, dia ingin kekasihnya itu yang memilih.


Elsa meneliti terlebih dahulu mana surat undangan yang sangat cocok dengan tema pernikahan mereka yaitu Fun Wedding. Setelah memilih, Jimmy pun segera menghubungi pencetak undangan tersebut.


Beberapa jam kemudian, tepat pukul sembilan malam Jimmy pulang dari apartemen milik Elsa, gadisnya itu sudah hampir dua Minggu ini tidak masuk ke kantor karena Jimmy melarangnya. Mau tidak mau Elsa harus menuruti perkataan sang calon suami, dia memutuskan resign dan sesekali hanya membantu papanya mengurus perusahaan.


Setelah Jimmy pulang, Elsa pun segera menutup pintu. Dia berjalan menuju kamarnya. Namun, baru saja memegang handle pintu, tiba-tiba pintu apartemen itu diketuk.


"Jimmy kembali lagi? Apa ada yang tertinggal?" gumam Elsa seraya berjalan ke arah pintu.


"By, apa—" Elsa tidak meneruskan perkataannya karena tidak ada orang di luar sana. Heran? Tentu saja.


"Tidak ada siapapun, mungkin hanya orang iseng." ucap Elsa tak mau ambil pusing, dia membalikkan badan dan bergegas menutup pintu.


Saat Elsa ingin kembali masuk, ada seseorang yang membekapnya dari belakang dan membuat Elsa tak sadarkan diri akibat obat bius.


"Bagaimana?" seorang wanita bertanya pada rekan kerjanya yaitu sang pria.


"Aman, dia pingsan."


"Bagus, ayo cepat bawa dia ke mobil sebelum ada yang memergoki kita."


Pria itu hanya menurut, dia menggendong Elsa dan membawanya masuk ke dalam mobil.


***


Pagi hari, Elsa tersadar dari pingsan. Dia merasakan kepalanya yang sangat berat dan pandangan gelap. Dirinya ingin bergerak tetapi tidak bisa karena tubuhnya terikat.


"Dimana aku?" Elsa pun ketakutan. "Hei! Ada orang disini? Dimana aku!" teriaknya membuat seorang pria menghampiri.


"Ehem." dehem pria itu membuat Elsa menutup mulutnya rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang akibat ketakutan.


"S—siapa kau? Dan dimana aku? Aku yang sudah kau lakukan?"

__ADS_1


Pria itu tertawa. "Jangan takut, Sayang."


Elsa terdiam, dia seperti mengenal suara itu. Ya, sangat tidak asing.


"Jadilah gadis yang baik, diam dan jangan komplain."


"Kau bilang diam? Aku harus diam dengan keadaanku yang sudah seperti tawanan begini?' Dasar gila!"


"Ya, aku memang sudah gila dan itu semua karenamu, Elsa."


Elsa pun mengetahui siapa orang yang saat ini berbicara dengannya. "Kau, kau Axton?"


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?''


"Aku sangat mengenal suaranya. Ax, apa salahku? Kenapa kau berbuat jahat padaku? Buka penutup mata ini Ax, dan lepaskan ikatan di tubuhku."


"Jika aku tidak melakukannya, kau mau apa?"


Elsa terdiam, dia menggigit bibir bawahnya karena ketakutan yang amat dalam. Ketika seseorang sudah buta akan cinta dan obsesi, dia yakin jika orang itu bisa saja berbuat nekat.


"Ax, aku mohon." Elsa menurunkan nada bicaranya.


"Ax, siapa itu? Ada orang lagi selain dirimu?"


"Dia adalah temanku."


"Halo, Nona Elsa." sapa wanita tersebut yang tak lain adalah Alena.


Elsa lagi-lagi mengenal suara tersebut, tentu saja sangat familiar.


"Apa yang kalian inginkan dariku?"


''Kami hanya menginginkan hal simpel."


"Katakan!" ketus Elsa penuh keberanian.


"Wah wah, meskipun dalam keadaan seperti ini, sifat sombong dan angkuhmu tidak bisa hilang, ya, Nona Elsa."

__ADS_1


"Aku tidak butuh pujian, sebaiknya katakan apa yang kalian inginkan dariku!" bentak Elsa kesal.


"Aku hanya ingin kau menjauhi Jimmy.''


Deg!


Tebakan Elsa ternyata benar, dia adalah Alena, wanita yang ingin dijodohkan dengan Jimmy


"Kau Alena?"


"Kau bisa menebaknya sendiri."


Elsa tertawa lepas. ''Apa kau tidak tahu malu, Alena? Kau tidak bisa mendapatkan Jimmy dan sekarang kau malah bermain curang. Aku sangat sedih melihatmu."


Alena mengepalkan kedua tangannya karena tidak terima dengan ejekan dari Elsa.


"Hei, jangan bicaramu atau aku akan mencabik-cabik mulut kotormu itu!"


"Aku tidak takut, Alena. Dan ya, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjauh dari Jimmy, lagi pula sebentar lagi kami akan segera menikah."


Plak!


Alena refleks menampar pipi Elsa karena kesal dengan jawaban santai yang dilontarkan gadis itu. Sama sekali tidak ada ketakutan disana.


"Alena, apa yang kau lakukan!" Axton sangat tidak terima jika Alena menyakiti Elsa.


"Diam!" bentak Alena marah dan dia mencengkeram dagu Elsa hingga kepala gadis itu mendongak ke atas.


"Jika kau tidak mau menjauhi Jimmy, maka terpaksa aku yang harus membuatmu jauh darinya." ucap Alena menekan setiap kata.


"Lakukanlah! Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan pernah takut ataupun gentar."


Alena merasa muak dengan wajah dan nada bicara yang sombong itu, dia menarik tangannya dari dagu Elsa secara kasar.


"Ax, kau sangat mencintaiku bukan? Jika kau benar-benar mencintaiku, pasti kau tidak tega melihat aku menderita."


Axton terdiam, dia bingung harus bagaimana. Disatu sisi dirinya tidak tega melihat Elsa seperti ini, tetapi di sisi lain dirinya tidak ingin gadis itu menjadi milik orang lain.

__ADS_1


{**Bersambung**}


__ADS_2