Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #135


__ADS_3

Yola sampai dirumah dengan selamat, gadis itu melihat ada motor di depan rumahnya dan tentu saja dia tahu itu kendaraan milik siapa.


"Ibu!" teriak Yola ketika dia sudah berada di dalam rumah.


Sang ibu keluar dari kamar, wanita paruh baya berusia sekitar lima puluhan tersebut berbatuk sambil menghampiri Yola.


"Kamu baru pulang, Nak?"


Yola mengecup punggung tangan ibunya. "Bu, Yola lihat tadi ada motor mas Raka diluar."


"Iya, nak. Raka datang kemari dan dia mencarimu."


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Katanya tadi pergi ke warung sebentar."


"Ya sudah, Yola mau mandi dulu. Ibu sudah makan belum?''


Ibu menggeleng. "Ibu menunggumu, Nak."


"Bu, Ibu 'kan lagi sakit. Jangan selalu telat makan hanya karena menunggu Yola. Ibu harus jaga kesehatan, Yola gak mau ibu kenapa-kenapa." Yola memegang tangan Ibunya.


Ibu tersenyum, dia sangat bersyukur memiliki seorang putri yang sangat peduli padanya seperti Yola saat ini. Meskipun Yola hanya anak pungut, tetapi dirinya menyayangi gadis itu seperti putri kandungnya sendiri. Yola sendiri tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari seorang Ibu Marsya.


Yola pergi menuju kamarnya, dia menutup pintu dan melemparkan tas nya asal. Dirinya merebahkan tubuh terlebih dahulu, dia memejamkan mata.


"Ternyata bekerja di kantor itu cukup melelahkan. Meksipun aku hanya diberi hukuman untuk mengerjakan tugas-tugas kantor."

__ADS_1


Yola bangkit dari ranjang dan dia akan berendam terlebih dahulu. Gadis itu ingin merilekskan otot tubuhnya yang terasa kaku akibat duduk terlalu lama.


Setelah selesai mandi, Yola pun bergegas ganti pakaian. Dia akan menemani sang ibu, dirinya tidak habis pikir dengan ibu yang selalu menunggunya untuk makan.


Saat Yola keluar dari kamar, ternyata disana sudah ada Raka. Pria berusia dua puluh enam tahun itu adalah teman masa kecil Yola hingga saat ini.


"Ka, kau sudah ada disini saja. Apa kau juga menungguku?" gurau Yola membuat Raka terkekeh pelan.


Yola menghampiri Ibu dan sahabat kecilnya itu. Dia duduk di dekat sang ibu, lalu mengambil nasi dan lauk. Disana hanya ada tahu goreng, tempe goreng, dan sayur kangkung.


"Kenapa kau pulang cukup malam, La? Apa cafe nya sangat ramai?"


Gerakan tangan Yola tiba-tiba terhenti, dia meletakkan piring di meja dan menggeleng.


"Aku sudah tidak lagi bekerja di cafe itu."


Yola mengangguk. "Tapi ibu jangan khawatir karena saat ini, Yola sudah mendapatkan pekerjaan baru.''


"Pekerjaan apa?" Raka membuka suara.


"OG." sahut Yola santai sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


"OG?" Ibu pun tidak paham apa itu OG.


"Iya, Bu. OG, atau office girl. Nah, Yola bekerja di sebuah perusahaan tapi sebagai OG. Tugasnya itu, seperti menyapu, mengepel lantai, membersihkan kaca, atau membuat kopi untuk para karyawan dan atasan. Intinya seperti mengerjakan tugas rumah."


Ibu pun memahami penjelasan dari putrinya.

__ADS_1


"Kau tidak malu?" Raka bertanya.


"Kenapa aku harus malu? Pekerjaan itu halal dan aku sudah terbiasa melakukan tugas-tugasnya. Selagi menghasilkan, kenapa tidak, ya 'kan?" Yola melahap makan malamnya.


Raka hanya mengangguk, dia cukup salut dengan gadis cantik di hadapannya itu. Gadis itu tidak mengenal lelah, dia pekerja keras, humoris, ceria, dan ramah.


"Apa kau tidak ingin mencari pekerjaan lain, Yola? Di perusahaan kakaknya temenku membuka lowongan, dia mencari seorang resepsionis. Mungkin kau bisa coba mendaftar disana."


"Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku saat ini, aku akan menjalaninya terlebih dahulu."


Raka hanya bisa pasrah dan tidak ingin mengatur Yola, dia takut jika gadis itu akan menjauhinya nanti.


Beberapa jam kemudian, setelah berbincang lama. Raka pun berpamitan untuk pulang. Sesudah Raka pergi, Yola menutup pintu dan dia menghampiri ibunya yang duduk di sofa.


"Bu, ibu memikirkan apa?" Yola memegang pundak Ibunya.


"Nak, Ibu hanya memikirkan tentang kamu. Maafkan Ibu yang mungkin hanya bisa menjadi beban di hidupmu."


"Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu bukan beban, justru ibu adalah penyemangat bagi Yola." Yolanda tersenyum. "Ibu jangan memikirkan hal apa pun lagi, Yola bekerja untuk Ibu dan Yola senang melakukannya. Yola ingin membuat Ibu bahagia seperti ibu dan Ayah yang dulu selalu membuat Yola tersenyum." Yola memeluk tubuh ibunya.


"Terima kasih, Nak. Ibu beruntung memiliki anak sepertimu."


"Yola juga bangga memiliki orang tua hebat seperti Ibu dan Ayah." sahut Yola sambil tersenyum. Sedari kecil dia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, bahkan apa yang Yola inginkan selalu mereka berikan. Hingga pada saat sang ayah jatuh sakit, barulah Yola memutuskan untuk bekerja.


"Baiklah, sekarang sudah larut malam. Ibu minum obat dulu, lalu setelah itu tidur." Yola mengantarkan ibunya ke kamar.


{**Bersambung**}

__ADS_1


__ADS_2