Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #93


__ADS_3

Raymond terlonjak kaget karena kedatangan Kiara yang tiba-tiba. Dia langsung menghempaskan wanita yang tengah menggodanya itu secara kasar.


"Sayang?" ucap Ray bergegas menghampiri Kiara yang diam mematung.


Kiara mengangkat sebelah tangannya hingga membuat Ray berhenti.


"Sayang, kamu jangan salah paham terlebih dahulu. Dia—"


"Cukup, Mas! Kamu keterlaluan, ternyata seperti ini kerjaanmu di kantor?" Kiara meneteskan air mata, entah mengapa semenjak dinyatakan hamil, dia terlihat lebih sensitif terhadap apa pun.


"Sayang, dengarkan dulu penjelasan dariku." Ray menarik tangan Kiara perlahan, dia membawa istri tercintanya itu untuk duduk di sofa.


"Sayang, dia itu mantan sekretarisku. Dia ingin kembali bekerja disini dan aku tidak memberikannya izin. Aku menolaknya tetapi dia malah menggodaku."


"Dan kamu mau?"


"Tidak, Sayang. Aku—"


"Lalu, kenapa kamu diam saja, Mas? Kamu suka kalau dia tetap menggodamu seperti itu, hah!"


Ray menggigit bibir bawahnya saat Kiara berteriak kesal. Dia harus memiliki stok sabar yang banyak untuk menghadapi sifat labil Kiara semasa hamil ini.


"Kau jahat, Mas. Padahal saat ini aku tengah mengandung anakmu, tapi kau malah bermain curang di belakangku." Kiara pun menangis.


"Sayang, aku mengatakan yang sebenarnya." Ray berdiri dan dia mengusir wanita itu dari ruangannya.


Setelah wanita itu pergi, Raymond kembali membujuk Kiara yang masih merajuk.


"Lihatlah, aku sudah mengusirnya. Sayang, aku ini seorang pria dan aku tidak ingin berbuat kasar terhadap wanita. Tetapi, sedari tadi aku mengatakan hal sopan dan dia tidak mau mengerti. Hampir saja aku memakinya, beruntung kamu cepat datang."

__ADS_1


Kiara menghapus air mata, dia memasang wajah melas sambil melirik Raymond.


"Bagaimana? Kamu masih mencurigaiku? Sejak kapan aku berbohong padamu, Sayang? Aku tau kamu tidak menyukai kebohongan, jadi mana mungkin aku berani berbohong."


Kiara menatap manik mata Raymond yang mengungkapkan sebuah kejujuran. Dia tersenyum lalu memeluk suami tercintanya itu.


"Syukurlah." gumam Ray pelan hampir tak bersuara.


"Janji jangan pernah membohongi aku? Sepahit apa pun kebenaran, katakan saja meskipun akan membuatku sedih."


"Aku janji." Ray mengecup pucuk kepala Kiara.


"Bagaimana kabar anak kita hari ini? Apa dia meminta sesuatu?" Ray mengelus perut Kia yang masih rata karena Dokter mengatakan jika usia kandungan Kiara baru berjalan enam Minggu.


"Tidak ada, Mas."


"Baguslah, biasanya dia selalu mengerjai Papanya."


"Hei tentu saja tidak, untuk anakku semua akan ku lakukan."


Kiara merasa bahagia mendengar perkataan Raymond barusan.


"Oh ya, aku membawakan ini untukmu. Kamu belum makan siang, 'kan?"


Ray menggeleng. "Kamu 'kan sedang hamil, jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah. Sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu dan bayi kita jika kamu keluar rumah seperti ini."


"Kamu jangan berpikir negatif dulu, Mas. Aku juga 'kan datang ke kantor dengan sopir pribadi, lalu aku tidak memasak makanan ini, aku membelinya di restoran." ucap Kiara jujur, memang entah mengapa dia sangat tidak suka bau bau bawang di dapur hingga dirinya berhenti untuk memasak. Setiap kali mencium aroma bawang, perutnya langsung mual dan muntah.


"Ya sudah, ayo kita makan!" Ray membuka kotak bekal yang Kia bawa, mereka pun menikmati makan siang sambil berbincang seputar pekerjaan Raymond.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, keduanya telah selesai melakukan ritual makan siang. Kiara berpamitan untuk pulang, tetapi ketika baru sampai di depan pintu ruangan Ray, dirinya kembali berbalik arah.


"Mas?" Kiara berdiri di samping meja Raymond.


"Iya, Sayang? Ada apa lagi, hm? Kamu ingin menemaniku bekerja? Tidak masalah, duduklah disana dan aku akan memesankan cemilan untukmu." Ray menunjuk sofa.


"Bukan itu, aku menginginkan sesuatu." Kiara berbicara sendu.


Raymond beranjak dari tempat duduknya. "Apa yang kamu inginkan? Aku akan menurutinya selagi itu bisa kulakukan."


Tiba-tiba Kiara tersenyum manis. "Aku ingin kamu menyanyi."


"Menyanyi? Tentu saja aku akan melakukannya untukmu."


"Tapi—" Kiara mengigit bibirnya.


"Tapi apa, Sayang? Kamu mau lagu apa, hm?"


"Bukan masalah lagu, Mas. Aku ingin kamu bernyanyi di depan para karyawanmu dan menyanyikan lagu balonku ada lima."


"Hah! Apa! Kamu tidak salah? Aku, aku harus bernyanyi di depan para karyawan? Sayang, ganti saja permintaannya." Ray bergantian memelas, jatuh sudah harga dirinya sebagai Bos besar dan ditakuti para karyawan.


"Tidak bisa, Mas. Ini semua permintaan anak kamu yang ada di dalam perut aku, bukan maunya aku." Kiara memegang perutnya.


Ray menepuk dahi, dia benar-benar bingung. Tetapi, tidak ada yang lebih penting dibandingkan istri dan anaknya.


"Baiklah, aku akan bernyanyi. Ayo kita keluar," Ray berjalan diikuti oleh Kiara yang mengandeng lengannya dengan mesra, sambil tersenyum bahagia.


{Bersambung}

__ADS_1



__ADS_2