
"Te Elena, Tiara ... kalian kembali!" Siska dengan kekhawatiran nya langsung menghampiri begitu melihat wanita dengan dress kupu-kupu di balut kardigan pink bersama seorang anak kecil berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Akhirnya Tiara kembali, kamu bikin khawatir kami tau gak? kak Siska takut kamu di culik," ujar Siska bisa menghela nafas lega.
"Gak dong kak Siska. Tiara kan anak pintar gak mungkin bisa di culik," ujar bocah perempuan berkuncir kuda itu, dengan jenaka.
"Bisa aja kamu." Siska terkekeh kecil, mencubit cuping hidung gadis kecil itu.
"Kita langsung pulang saja dari sini. Siska, Tiara, ayuk ... " tiba-tiba suara Elena menginterupsi.
"Eh, tapi kan kita belum selesai belanjanya te?" tanya Siska dengan kebingungan, raut wajahnya terlihat mengkerut menatap Elena yang terlihat sedang antisipasi seperti seorang agen mata-mata yang sedang mengamati keadaan di dalam film yang sering Siska tonton.
"Teh ... kenapa?" suara Siska akhirnya berhasil mengagetkan Elena yang sedang sibuk sendiri menyapu ke sekitarannya.
"Eh, ya? tidak apa-apa kita kembali saja dulu. Masalah belanjaan kita bisa lanjut kan besok di pasar yang lain."
"Di pasar yang lain?" dahi Siska semakin mengkerut tanda penasaran. "Kenapa gak di pasar ini saja teh?"
"Kamu jangan terus membantah Siska!" mendadak saja Elena membentak membuat bukan hanya Siska, Tiara pun tersentak karenanya.
Mereka berdua mendadak menciut, Elena tersadar segera menyesali tindakan nya tersebut.
"Maafkan aku, bukan maksud kakak untuk membentak mu. Sekarang kita pulang saja dulu ya?"
"Iya, teh." Siska mengangguk nurut. Begitu pun dengan Tiara yang mengangguk-angguk polos, takut juga dengan Elena yang biasanya ia lihat kalem dan lembut berubah galak.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi, Siska mengambil alih lengan Tiara untuk di tuntunannya. Sementara Elena mengangkat tas belanjaan di tangan kiri dengan tangan kanannya merangkul pundak Siska dan Tiara.
"Ayo anak-anak, kita segera pergi dari sini!" Elena berucap was-was dan Siska bisa melihat jelas kecemasan tak tersirat itu, namun tak berani untuk mengeluarkan suara lagi.
"Semoga pria itu tidak sampai mengikuti." gumam Elena menyipitkan mata melihat ke sekelilingnya, mewanti-wanti jika Erick sampai mengekorinya.
__ADS_1
...----------------...
Erick pada akhirnya tak bisa memaksa, ia biarkan Elena untuk sejenak. Pria itupun akhirnya kembali ke vila yang menjadi tempat peristirahatannya selama di kota ini.
Di walk in closet yang berada di kamarnya, Erick yang kini menghadap kaca yang menampilkan seluruh badan kekar nan atletisnya kembali merenung, mengingat kembali akan perkataan Dea tempo hari dan juga kenangan buruk saat ia yang tanpa sengaja membuat Elena terluka, teraniaya karena kepicikan juga keegoisannya.
"Arrrgh! siaal!" Erick tak bisa mengontrol emosi, ia dengan sekuat tenaga menghunus kan kepalan tangannya ke arah cermin, hingga kini cermin di hadapannya itu pecah seketika, retak, membagi bayangannya menjadi beberapa bagian saat ia lihat.
Nafasnya terengah-engah, Erick biarkan tinju tangannya yang terluka dan saat ini mengeluarkan darah. Rasa bersalahnya semakin besar dan membuatnya tersiksa sendiri.
Lalu Erick yang semula membungkuk kembali menegakkan diri, di situlah nampak jelas luka bekas operasi tembakan di dada sebelah kanannya terlihat.
"Luka ini yang membuat ku akhirnya terpisah dengan Elena." Erick memandang benci pada bekas luka itu. Juga kalung rantai berliontin peluru yang sampai detik ini masih di pakainya.
Awalnya ia mengukuhkan pemikiran, jika kalung peluru ini yang akan selalu mengingatkan ia tentang pengkhianatan yang Elena lakukan, tapi kini semuanya terbukti salah, istrinya tidaklah berkhianat tapi kepercayaannya lah yang terlalu dangkal dan Erick baru menyadari itu sekarang.
Erick pun menatap lekat kalung tersebut, menyentuh liontin peluru keperakan yang terpantul di cermin saat matanya tertuju di sana.
"Kalung inilah yang akan menuntun ku pada Elena ku."
Sementara di tempat lain, pulang dari pasar Elena langsung pergi ke ruko yang saat ini sedang di renovasi, di sana ia langsung bertemu dengan pak Jaka dan mbok Can yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Ibu, ayah!" Tiara menjerit senang langsung berlari menghampiri orang tuanya.
Elena dan Siska saling melempar senyum dan kemudian ikut menyusul langkah Tiara.
"Wah, kalian sudah selesai belanjanya?" tanya pak Jaka, tersenyum sumringah menyambut mereka.
"Sebenarnya belum yah, kata kak Elen di lanjut besok, soalnya tadi--"
"Ekhem, Tiara!" sebelum gadis kecil itu melanjutkan ucapannya, Elena buru-buru menghadang dengan menatap penuh isyarat padanya. Elena tak yang lain tahu tentang Erick. Jangan sampai info tentang pria itu bocor. Elena hanya ingin menjalani kehidupan yang tenang, itu saja!
__ADS_1
"Oh, soalnya tadi tuh di pasar rame banget, desak- desakan, jadi kita mutusin buat pulang dulu deh, kata kak Elen di lanjut besok." papar Tiara, rupanya bocah kecil itu bisa di ajak kerjasama dengan hanya beberapa kedipan mata dari Elena, Tiara akhirnya menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi di pasar tadi.
"Ohohoho, begitu rupanya," sahut pak Jaka dengan senyum kelakar.
Mbok Can ikut terkekeh tipis sambil geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, pak, Tiara, non Elena dan eem- siapa namanya neng, mbok lupa soalnya?" tatapan mbok Can menjurus pada gadis di samping Elena dengan bertanya.
"Siska, mbok." jawab gadis itu, Siska menyelipkan ujung rambutnya ke belakang, malu.
"Oh ya dan neng Siska, monggo masuk ke dalam mbok udah masak besar. Para pekerja juga ayuk istirahat dulu." seru mbok Can kemudian menginterupsi.
Elena mengangguk senang, suasana kekeluargaan begitu kental terasa meskipun mereka belum terlalu lama kenal satu sama lain namun dengan cepat bisa membaur dan mengakrabkan diri.
"Ayuk, Siska. Kita makan dulu." ajak Elena melempar senyum pada Siska.
"Iya, teh." Jawab Siska mengangguk.
...----------------...
Lain halnya kini, ada Clarissa yang rela meninggalkan kehidupannya di london, diam-diam ternyata ikut menyusul Erick ke tanah air.
Di mansion, saat Mona dan Sarah sedang sama-sama terpuruk dan merasa was-was karena ancaman Erick juga Vicky yang sudah ketahuan dan di temukan oleh pria itu, entah sampai kapan mereka harus menunggu eksekusi dari Erick. Berada di tengah-tengah antara hidup dan matti keduanya kini semakin merasa di bebankan saat Clarissa datang mengunjungi mansion sambil menangis tersedu-sedu karena Erick yang mengabaikannya dan lebih memilih mengejar Elena.
"Kan sudah ku bilang dari dulu kak, kakak tuh harusnya perjuangin cinta kakak bukan pasrah gitu aja, dan kini? akhirnya apa yang kakak dapatkan cuma rasa sakit kan?" ujar sinis Mona yang jengkel malah menjadi tempat curhat Clarissa tentang sikap kakaknya sementara ia sendiri sedang dalam ambang kehancuran memikirkan tentang Vicky dan takut jika semua konspirasi terhadap Elena terbongkar.
"Ku pikir, dengan aku bersikap lemah lembut dan selalu berada di sampingnya, Erick akan luluh dan perlahan-lahan akan menerima ku, tapi akhirnya? pelet Elena ternyata lebih kuat dari apapun dan sama sekali tak bisa membuat nya berpaling." Isak tangis Clarissa sambil menunduk, ketiga wanita itu kini sedang duduk di sofa ruang tamu, tentu Sarah dan Mona merasa kaget sekaligus heran saat tiba-tiba Clarissa datang kesini dan langsung menangis.
Namun sepertinya Sarah yang melihat kondisi malang Clarissa saat ini, malah terpikirkan sebuah ide licik di kepalanya.
Diam-diam ketika Clarissa masih tergugu dalam tangisnya, Sarah malah menarik tangan Mona untuk menepi.
__ADS_1
"Aduh, kenapa sih mom?!" kesal Mona saat mommy nya menariknya hingga ke dapur.
"Ssst! mommy punya ide bagus Mon." Sarah mengerling devil.