Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 103


__ADS_3

Erick masih tengah menikmati pemandangan Elena yang sedang bernyanyi, dengan sorot penuh kekaguman dan binar cinta yang semakin terpancar di matanya.


Namun semua itu seolah sirna tak kalah di mana ada sosok laki-laki jangkung dengan masih setelan seragam dokter datang dari arah belakang menghampiri Elena, lalu duduk di antara Siska dan Tiara.


"Kalian rupanya ada di sini?" seru pria berbulu tipis yang tumbuh di sekitar dagunya itu, ia tersenyum bak es teh dengan gula batu, manis dan menyegarkan.


"Eh, ada om dokter?!" Tiara yang pertama kali menyadari kehadiran Marvin. Siska ikut terperanjat lantas mesem-mesem kesenangan karena bisa kembali melihat ketampanan dokter muda tersebut setelah kemarin mereka bertemu.


"Halo, Tiara." Marvin menyapa gadis kecil itu, mereka berdua melakukan high five bersama lalu tertawa ceria.


Tanpa terduga, Elena yang sedang terlena dengan nyanyiannya pun mulai tersadar akan kehadiran Marvin, hingga ia sontak saja menghentikan nyanyiannya dan jemarinya berhenti memetik senar gitar di pangkuan.


"Kenapa berhenti?" tanya Marvin. "Ayo lanjutkan, suara mu sangat merdu, aku sampai mengantuk loh." imbuh nya.


"Ish!" Elena berdecak sebal karena Marvin yang usil padanya. Keempat orang tersebut pun langsung terbahak tertawa bersama-sama.


Cih! Erick yang tak senang melihat pemandangan itupun memalingkan wajah dengan tertekuk dalam. Rasanya tak rela melihat Elena yang tertawa tapi bukan karena dirinya.


Cemburunya kembali datang.


"Tuan, sebaiknya kita pergi dari sini saja." Zidan menyarankan, sebenarnya tak senang juga dengan keakraban Elena dan Marvin meskipun ia sendiri pun sudah tahu hubungan pertemanan mereka, seolah Zidan ikut merasakan kekesalan sang tuan saat ini.


"Ayo, tuan. Sebelum nyonya muda menyadari kita ada di sini dan situasinya akan runyam." bujuk Zidan kembali, setelah permintaan sebelumnya tak di gubris oleh pria di sampingnya itu.


Ck! Erick sekali lagi mendecakkan lidahnya, jengkel. Ia tak rela meninggalkan tempat ini dengan Marvin yang terus berada di samping Elena. Rasanya seperti ada bara api yang menyala di dadanya saat ini. Sangat menyakitkan.


Tapi bagaimana pun perkataan Zidan memang ada benarnya, akan gawat untuk nya jika keberadaannya di sini bisa sampai ketahuan oleh Elena, ia bisa semakin di benci oleh sang istri dan Erick tak ingin hal itu terjadi.


Namun sebelum kakinya bergerak, Erick spontan saja membeku ketika sepasang mata telah berhasil menemukan keberadaan nya.


Gawat!


Tiara menatap ke arahnya saat ini. Mata polos gadis kecil itu mengerjap-ngerjap lalu menyipit demi melihat jelas apa yang kini tertangkap dalam pandangannya.


"Itukan paman yang kemarin ya? kenapa dia bisa ada di sini ya?" batin Tiara menebak.


Sebelum sampai Tiara membuka mulut membocorkan keberadaannya pada Elena, Erick lebih dulu bertindak.

__ADS_1


Pria itu mula-mula mengunci tatapan nya dengan Tiara, seolah sedang mencoba berbicara sedang memberi isyarat.


Erick menaruh telunjuk pada bibirnya, meminta Tiara untuk tutup mulut, lalu ia mengalihkan telunjuknya mengarahkan nya pada Elena, lantas menggelengkan kepalanya pelan.


Dan sepertinya berhasil, karena Tiara mengerti apa yang ia katakan dengan bahasa isyarat itu, gadis kecil tersebut mengangguk, mengulang kembali apa yang Erick lakukan dengan menaruh jemari telunjuk di depan bibir mungilnya lalu seolah mengeluarkan suara seperti sssst!


Sontak apa yang di lakukan Tiara membuat Erick gemas, pria itu tersenyum lebar pada Tiara lalu mengangguk seakan memberi applause untuk kepintaran bocah manis itu. Terakhir Erick memberikan Tiara tanda jempol sambil mengedipkan mata sebelah kiri, yang membuat Tiara mengulas senyum nya yang lebar seketika menunjukkan gigi-gigi kecilnya yang setengah tanggal miliknya.


Setelahnya, Erick pun meninggalkan tempat itu bersama Zidan, di belakang. Biarlah hari ini Erick harus melawan ego dan rasa cemburunya, tak lama lagi setelah ia mendapatkan kembali Elena tak akan Erick biarkan lelaki mana pun mendekatinya atau sekedar memandangnya.


Elena hanya miliknya seorang!


...----------------...


Kembali ke vila saat matahari sudah tenggelem. Di kamar nya, Erick menatap pemandangan hamparan laut dari atas balkon tempatnya berdiri, suasana yang cukup sunyi dan dingin semakin menambah kerinduannya akan sosok Elena. Hanya deburan ombak yang menemani kesepiannya saat ini.


Pantai di hadapannya yang mungkin berjarak sekitar 100 meter dari tempatnya kini, begitu sangat cantik terlihat dan memukau, di temani dengan bertabur nya bintang di atas langit malam semakin membuat nya terlihat indah.


"Elena pasti akan sangat menyukai tempat ini." gumamnya.


Erick mondar-mandir tak jelas seperti setrikaan, memikirkan rencana untuk ke depannya namun tak menemukan ide justru kepalanya yang terasa mau pecah, ia akhirnya terkapar di king size miliknya, menatap lurus ke langit-langit kamar, pria itu menerawang jauh.


Tiba-tiba terlintas di benaknya saat siang tadi, Erick sempat menangkap percakapan antara Elena dan Tiara.


"Kak Elen sepertinya sangat menyukainya bunga ya?"


Erick masih ingat itulah pertanyaan yang di ajukan Tiara pada Elena dan sempat ia dengarkan.


"Eh, kenapa mendadak bertanya seperti itu?"


"Soalnya keliatan cara kakak ngerawat tanaman dan bunga di sini."


"Hahaha, benarkah?" masih Erick ingat betul dalam memori kepalanya bagaimana cara tertawa Elena yang cantik dan mempesona.


"Iya kakak memang sangat menyukai bunga. Bahkan saat kecil dulu sepantaran Tiara, kak Elena berharap akan ada pangeran yang akan memberikan kakak bunga yang sangat besar."


Itu dia! Erick seketika bangkit, setelah cukup lama mengingat-ingat apa yang Elena ucapkan saat itu, kini ia pun sudah memutuskan.

__ADS_1


Tut! Erick kemudian menelpon seseorang lewat benda pipih persegi punya nya yang berada di atas nakas. Tak berselang lama panggilan yang ia tekan di layar kini mulai tersambung.


"Hoaaam! halo ada apa tuan?" suara di seberang sana terdengar sangat mengantuk.


Zidan yang semula tengah pulas tertidur terpaksa membuka mata begitu melihat panggilan telepon tertera nama bosnya di ponsel.


"Ya Zidan, aku ingin meminta pendapat mu."


"Pendapat apa tuan? hoam~" lagi, Zidan menguap, di apartemennya ia sedang mengucek- ngucek mata, ia sempat melirik ke arah jam.


"Astaga ini jam dua pagi? untuk apa pak Erick membangunkan ku selarut ini?" ia membatin dengan melotot.


"Hei, kau dengar tidak?!"


Kontan saja suara Erick kembali menyadarkan nya.


"Eh ya tuan. Saya dengar kan kok." sahut Zidan kemudian.


"Bagus. Ekhem, jadi gini Zidan, aku ingin meminta pendapat mu, kira-kira bunga jenis apa dan ukuran seperti apa yang di sukai oleh wanita?"


What? Zidan hampir saja ingin mengumpat. Kirain ada masalah urgent apa yang membuat tuannya itu sampai menganggunya di jam istirahat seperti ini, ternyata hanya ingin menanyakan jenis dan ukuran bunga yang di sukai wanita?


Zidan tak habis thinking.


"Mmm ... maaf tuan bukan saya tak ingin menjawab. Tapi saya sama sekali tidak punya pengalaman dengan wanita, jadinya saya kurang tahu bunga jenis apa dan ukuran seperti apa yang di sukai kaum hawa," ujar Zidan dengan hati- hati takut bosnya itu marah.


"Ck, ternyata aku meminta pendapat pada orang yang salah. Aku lupa kalau kau itu jones ... alias jomblo ngenes!"


Tut! Erick mematikan begitu saja sambungan telepon, Zidan yang mendapat balasan seperti itu hanya bisa tercengang panjang.


"Nasib, nasib punya bos bucin tapi gengsian! udah di di ganggu tidur di ledek jones pula, ck!"


Zidan menggerutu, lalu melempar ponsel asal menutup kembali tubuhnya dengan bed cover.


Sementara Erick, ia tak jadi meminta pendapat Zidan, karena kasus yang satu ini sekertaris tak bisa di andalkan.


Ia pun sudah memiliki rencana sendiri. Besok dia akan membuat kejutan untuk Elena.

__ADS_1


__ADS_2