
Happy reading ๐
*
Elena mendorong tubuh Marvin hingga menjauh darinya. Hampir terlena ia dengan tatapan Marvin yang hangat nan terlihat tulus hingga melupakan jika ia adalah seorang wanita yang berstatus sebagai seorang istri orang lain.
"Kak! Jangan merusak kepercayaan ku!" Sentak Elena pun kini akhirnya membuat Marvin tersadar akan perbuatannya.
"Elen maafkan aku ... aku tidak bermaksud begitu." Marvin panik langsung menyalahkan dirinya sendiri, apalagi ketika melihat Elena berpaling wajah dengan raut kecewa.
"Tak apa kak, tapi jangan di ulangi lagi, ku mohon. Hanya kamu satu-satunya yang dapat ku percayai saat ini." balas Elena meski sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Baiklah. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku." mohon Marvin dengan menangkup kedua tangannya, Elena hanya bisa mengangguk lalu gegas berdiri dari tempatnya duduk.
"Tapi Elena ... " Marvin berucap lagi membuat Elena spontan menghentikan ayuhan kakinya.
"Aku serius dengan apa yang ku utarakan tadi. Ku mohon pertimbangan lah ... lagipula hubungan mu dan Erick tak bisa lagi di lanjutkan kan?"
Elena tertegun. Merasa tak percaya, bisa-bisa nya Marvin berkata seperti itu seakan tak memikirkan perasaan nya, namun Elena tak bisa menampik, lidahnya terasa keluh untuk berucap membalas perkataan pria itu, lalu yang hanya di lakukan nya mengeratkan kepala tangan dan pergi dari sana.
Di tempat lain dengan waktu yang bersamaan, Erick dan Zidan di paksa keluar dari rumah bercat biru tua itu oleh Dea, sebagai sang pemilik. Rasanya seperti percuma, sekeras apapun Erick berusaha meyakinkan Dea ataupun menggertak wanita itu Dea sama sekali tak membuka mulutnya perihal di mana Elena berada.
"Pergi dari sini, aku tak ingin melihat kalian lagi!" usir Dea.
Zidan mencoba untuk mendekati lagi wanita bertubuh pendek itu. "Nona Dea, bukankah dulu kau percaya padaku. Kau boleh untuk tidak bisa respect pada tuan ku. Tapi aku? kita berasal dari kasta yang sama nona Dea, aku tak pernah berusaha untuk merendahkan mu. Kita juga sudah saling kenal cukup akrab, tidak bisakah kau mempercayai ku, ku mohon ... kau hanya perlu memberitahu kan padaku di mana nyonya muda ku berada?" bujuk rayu Zidan, berusaha sekali lagi untuk melunakkan keras kepala wanita itu.
"Tidak. Walaupun kau tak sama dengan tuan Erick yang terhormat, tapi kau adalah ajudannya. Bawahan yang akan selalu patuh pada perintah tuannya. Memangnya aku bodoh, siapa yang akan mengira jika kau baik hati. Saat Elena di siksa oleh pria jahat itu, apa yang kau lakukan? kau hanya diam, tak mau ikut campur dan hanya menunggu perintah dari bosnya, seperti anjing yang patuh." sarkas Dea, sudah di penuhi kesal karena dua pria itu yang semakin memaksa.
__ADS_1
Sementara Erick yang sudah menjauh tak bisa mendengar jelas perdebatan mereka.
Brak! pintu di tutup kasar oleh Dea. Zidan hanya bisa di buat mengelus dada oleh sikap kasar wanita tersebut.
"Jangan membuang waktu mu untuk wanita arogan dan keras kepala seperti dia, Zidan." seru Erick setelah Zidan menghampirinya. Merasa jengkel oleh sikap Dea.
"Kita akan menemukan di mana Elena berada bahkan tanpa keterangan ataupun bantuannya sekalipun." sungut Erick kemudian seraya melongos.
Mereka kemudian berjalan ke arah mobil terparkir, hendak masuk ke dalam untuk segera mencari informasi lain namun ponsel di dalam saku Erick tiba-tiba berdering, rupanya itu panggilan dari kantor. Erick sedikit menepi meninggalkan Zidan yang menunggu di depan mobil.
Selama Erick pergi mengangkat telepon, Zidan di kejutkan dengan kedatangan Rizal, suami Dea yang tergopoh- gopoh menghampiri nya, bisa di lihat pria itu yang ngos-ngosan dengan nafas nya saling berkejaran.
Tak lama Erick pun tiba, seperti Zidan, ia pun terkejut dengan kedatangan pria itu.
"Kenapa anda kemari pak Rizal?" tanya Zidan, sempat sesaat melempar pandang dengan sang tuan, penuh tanda tanya.
"Kenapa?" tanya Zidan.
"Bisakah kalian memaafkan atas sikap kasar istri ku, jujur aku merasa tak enak pada kalian. Sebagai gantinya mungkin aku akan memberikan sedikit informasi tentang Elena."
"Informasi apa?" kini Erick yang terlihat antusias.
"Mungkin aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua, ataupun masalah yang saat ini menimpa kau dan Elena, pak Erick. Tapi melihat mu yang bersungguh- sungguh dan terlihat menyesal aku jadi ingin memberitahu kan mu tentang info yang ku tahu." Rizal sedikit mengesah singkat.
"Jika kau ingin tahu di mana isteri mu berada, dia sekarang ada di kota B, aku tak tahu di mana persis nya tapi di suatu daerah di sana, kau bisa mencarinya pak Erick."
"Di kota B? tapi sama siapa isteri ku kesana seorang diri?" tanya Erick dengan perasaan was-was menyelimuti.
__ADS_1
"Kebetulan dia bersama Marvin, seorang dokter yang mungkin sudah kau kenal adalah kakak angkat Elena." papar Rizal kembali.
"Marvin?" entah kenapa seketika Erick merasakan sesuatu tak enak dalam hatinya, perasaan cemburu yang tiba-tiba menggebu.
"Ya. Hanya itu yang bisa ku beritahu. Jika kau benar-benar mencintai istri mu, maka berjuanglah dengan keras dan bersungguh-sungguh. Karena yang ku tahu, sedalam apapun rasa sakit seorang wanita, jika kita sebagai lelaki nya benar- benar menyesal dan bersungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan, maka dia pun akan luluh." sedikit nasihat dari Rizal untuk Erick.
"Oke bung. Aku sudah selesai sekarang, Kalau begitu aku pergi dulu." Rizal mengangkat deretan jemarinya di samping kening tanda hormat sekilas lalu tersenyum kemudian pergi dari sana.
Gejolak di hati Erick semakin tak menentu, istrinya dan seorang pria tanpa hubungan apa-apa selain status pertemanan pergi berdua ke luar kota? hanya berdua! tanpa sengaja berita itu sangat melukai perasaannya, mencabik- cabik hatinya.
"Elena apa kau sudah melupakan ku? apa kau sudah melabuhkan hati mu pada pria lain?"
Segala pikiran buruk kini mulai menghantuinya kini.
"Tuan, anda tak apa?" Zidan menepuk pundak Erick membuat lamunan pria itu terhenti.
Melihat wajah kusut sang tuan, Zidan tak bisa menebak apa yang kini di rasakannya.
"Zidan, siapkan perjalanan, kita berangkat ke kota B, sekarang!" titah Erick dengan menahan amarah murka.
Masih bisa mengontrol saat ini. Ia akan berusaha untuk mendengarkan penjelasan Elena ketika mereka bertemu nanti.
"Istriku ... tunggu aku."
***
๐น๐น
__ADS_1
Sebelumnya terimakasih untuk yang selalu mendukung Novel ini๐ beribu-ribu cinta untuk kalian โค๏ธ please agar cerita ini tetap jalan bagi reader yang telah menyempatkan membaca berikan like dan tinggalkan komen agar othor semakin semangat, terimakasih โจ