Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 87


__ADS_3

Happy reading 😘


Jangan pelit like ya guys dan penuhi kolkom, thank you.


***


Aaron, pria jangkung tersebut memfokuskan tatapannya pada Elena dengan mimik wajah aneh seperti menggoda dan mengamati, yang sontak membuat Elena risih di buatnya.


"Sekali lagi, maafkan saya," ucap Elena terakhir kali nya lalu menunduk sekilas ingin cepat-cepat mengindari pria aneh itu.


"Tunggu!" Aaron yang melihat Elena segera pergi, lekas menarik pergelangan gadis itu hendak menahan, Elena membelalak terkejut segera menghindar lalu menghempaskan tangan pria itu dengan kasar.


"Berani-beraninya kau?!" sentak Elena melotot tajam.


"Oh i'm sorry ... " Aaron yang menyadari langsung mengangkat tangannya. "Selow, girl." ia membuat jari membentuk V dengan raut wajah bersalah.


"Jangan bersikap tidak sopan terhadap wanita, aku bisa meneriaki mu dengan tuduhan pencabulllan!" desis Elena memperingati.


"Oh my Gosh. Aku sudah bilang maaf kan? aku tak sengaja." Aaron terkekeh sumbang setengah jengkel.


"Terserah padamu. Permisi!" ketus Elena berniat melanjutkan perjalanan, sebisa mungkin ia mengindari tatapan dari pria sok akrab itu, namun seruan kembali pria itu membuat Elena mau tak mau menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat mu?" Aaron menopang dagu, seakan tengah berfikir keras.


"Apa maksudmu?" kini Elena menatap nyalak padanya.

__ADS_1


"Kenapa kau galak sekali? aku kan hanya bilang pernah melihat mu." Aaron mengerut dahi dengan tangan mengarahkannya pada Elena.


"Pria aneh!" sarkas Elena, lalu segera pergi dari sana.


Aaron berbalik, arah pandangnya mengikuti langkah Elena, tak melakukan apapun kemudian hanya mengamati punggung Elena yang mulai menjauh, dia sedang mengingat kembali pernah melihat potret wajah gadis itu di mana.


Beberapa kali berdecak dengan raut wajah serius tak berselang lama raut Aaron berubah berseri. "Ah, aku ingat." ia menjettikan jari. "Bukankah dia adalah wanita yang sama yang di tunjukkan Erickson di ponselnya waktu itu ya ... " gumam Aaron bermonolog sendiri.


Pria itu mengingat kembali saat Erick menghadiri pestanya, sambil mabuk berat Erick melantur dengan menunjukkan foto seorang wanita di ponselnya.


Aaron tak terlalu ingat percakapan mereka kala itu, karena saat itupun ia tak terlalu menanggapi ocehan Erick, namun yang pasti saat melihat wajah penuh keputus asaan Erick dan matanya menatap penuh binar, Aaron yakin sekali jika wanita itu adalah bagian terpenting dari hidup Erick.


Ah, tapi mengapa wanita tadi sangat ketus padanya? jika itu wanita lain mungkin akan berteriak-teriak histeris saat melihatnya.


Apa wanita itu tidak tahu jika ia adalah seorang aktor terkenal? Ck, Aaron berdecih jengkel.


"Tapi wanita itu cantik juga ya ... hm." gumamnya, menyipitkan mata.


Ericsson. mengingat kembali tentang temannya itu membuat Aaron mengesah panjang. Terakhir kali mereka bertemu di pesta, Aaron tak pernah lagi tahu akan keadaan Erick, kesibukannya akhir-akhir ini untuk promosi film terbarunya membuat Aaron tak mempunyai waktu senggang bahkan untuk dirinya sendiri.


"Hufft, mungkin aku akan menemui Erickson langsung untuk menanyakan tentang gadis itu lain kali."


...***...


Di London. Ketika Clarissa baru pulang dari cara fashion terakhirnya untuk bulan ini dan berniat untuk mengunjungi Erick di hotelnya, alangkah terkejutnya wanita itu ketika mendapati sang pria yang sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.

__ADS_1


"Erickson, kenapa kau mengemasi barang-barang mu, kau mau kemana?!" Clarissa gegas menghampiri, menaruh tas bermerek channel nya di atas sofa.


Erick menoleh sesaat menyadari kehadiran wanita itu.


"Aku berniat kembali ke Indonesia, Clar."


"Apa? kita bahkan baru tiga hari di sini, kau jangan bercanda dan bagaimana dengan terapi mu? apa yang terjadi sebenarnya hingga kau memutuskan secepat ini?"


Mendengar Clarissa yang terus memberondong pertanyaan membuat Erick menghentikan kegiatannya lalu menarik nafas panjang berdiri menghadap nya.


"Aku sedang tidak bercanda Clar." pungkas Erick menatap serius. "Aku sudah menyadari kekeliruan ku Clar. Sebenarnya yang ku butuhkan bukan terapi ataupun sejenisnya, tapi .... Elena."


Netra Clarissa berpendar kecewa, ia menatap nanar.


"Apa yang sebenarnya membuat mu berubah seperti ini? kau sudah berjanji kan untuk melupakan nya?"


"Clar ... itu tak mungkin terjadi. Sekeras apapun aku mencoba untuk melupakan Elena, aku tak kan bisa."


"Tapi dia lah yang telah memberikan mu banyak rasa sakit, jika kau lupa itu." Clarissa semakin mendekat menuju Erick.


"Ingat, dia telah berselingkuh di belakang mu dan kau sangat membenci yang namanya penghianatan."


Entah kenapa, untuk kali ini saja Clarissa ingin egois, sudah cukup ia mengalah. Bukankah ia pun berhak untuk memperjuangkan cintanya?


Clarissa ingin Erick tetap di sini bersama nya tidak kembali pada Elena yang jelas-jelas sudah menyakiti pria itu.

__ADS_1


Apakah ia salah?


__ADS_2