Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 143


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Akhirnya setelah mendengar penjelasan Clarissa, Erick menyetujui dengan uluran bantuan yang di berikan tuan Edward, selaku pemilik RA,d group yang akan memulai kerjasama dengan the Davidson's company. Dengan adanya kerjasama ini di harapkan bisa membenahi masalah internal yang terjadi di the Davidson's company.


Konferensi kali ini berjalan dengan adanya kedatangan perwakilan dari RA,d group, dan tuan Edward sendiri yang tiba-tiba hadir membuat semua orang terkejut. Para petinggi dan pemegang saham yang diam-diam berusaha untuk menyingkirkan Erick, terdiam saat itu juga setelah di umumkannya kerjasama perusahaan dengan Ra,d group.


"Di harapkan kerjasama ini bisa menguntungkan kedua belah pihak dan yang terpenting bisa mengatasi masalah yang tengah terjadi di perusahaan," kata Erick di dalam penjelasannya.


Tak sedikit orang terpukau dengan kebijakan yang baru saja di buat, dan tak sedikit juga yang merasa kesal, para perkumpulan yang ingin Erick hengkang dari jabatannya, merasa jengkel karena Erick dengan begitu mudah menemukan solusi hingga tak ada celah untuk mereka memberontak lagi.


Konferensi berakhir dengan keputusan Erick yang sudah matang dan bulat, di tambah dukungan penuh oleh sebagian besar masing-masing perwakilan yang hadir, akhirnya masalah pun terselesaikan tinggal proyek kerjasama saja yang akan mulai di garap serius oleh kedua belah pihak.


Beberapa petinggi dan pemegang saham yang sudah percaya diri rencana mereka akan berhasil untuk menyingkirkan Erick, keluar dengan menunjukkan wajah tertekuk, sudah merasa kalah, kesal menjadi satu.


Sementara Erick dan para jajarannya tersenyum menjabat tangan orang-orang yang memberi selamat kepada mereka.


****


Malam hari. Edward dan Clarissa di temani Erick juga di kawal Zidan bersama dua bodyguard, mengunjungi Rey yang tengah terbaring di ruang ICU.


Sebagai syarat, Edward memang meminta untuk di pertemukan dengan Rey, sahabatnya yang kini tengah berjuang untuk kesembuhannya setelah mengalami kecelakaan yang cukup fatal.


"Bagaimana ini bisa terjadi? apa supir yang mengendarai mobil nya lalai hingga kecelakaan terjadi?"


"Semuanya memang sudah takdir nya, om," jawab Erick, berniat untuk menyembunyikan tentang kecurigaan nya akan kejanggalan dalam kecelakaan sang ayah.


"Rey, ayah mu teman ku sejak kita masih muda dulu, seperti kalian sekarang," ucap Edward menatap Clarissa dan Erick bergantian. "Banyak kenangan masa muda di antara kami, dialah orang pertama yang akan membantu ku dalam masa kesulitan, itu sebabnya aku ingin membantu mu Erickson, meski hubungan pribadi kita sedang tak baik, karna aku sangat tahu semua mimpinya tercurah semua di perusahaannya, maka itu aku berharap padamu Erick, untuk bersungguh-sungguh menjalankan perusahaan, jadilah pemimpin yang adil dan bertanggung jawab."


Erick mendengar kan dengan hikmat nasihat Edward, lalu pria itu mengangguk-angguk patuh.


"Terimakasih, om. Aku akan selalu mengingat petuah mu sebagai bekal untuk membuat perusahaan lebih maju lagi."


Edward menepuk-nepuk punggung Erick, bangga. Seolah dejavu karna sudah lama ia tak melakukan itu pada Erick, karna setiap bertemu Edward selalu bangga dengan putra sahabatnya itu.


"Aku tak bisa lama-lama, maafkan aku. Tolong jaga Rey, jika dia sudah siuman nanti, segera kabari aku." Edward menyusut ujung matanya yang berair, Clarissa mengusap pundak sang ayah, merasa sedih juga atas kondisi Rey saat ini.


Setelah kepergian Edward dan Clarissa sehabis menjenguk dan melihat keadaan Rey.


Erick mengistirahatkan sejenak sendinya, ia duduk di kursi panjang depan ruangan sang ayah. Sementara Zidan ia perintahkan untuk membeli kopi, rencananya Erick akan begadang di depan komputer malam ini.


Sampai tiba-tiba ponselnya bergetar, Erick mengambil nya. Dan terjadi lagi, nomor tak di kenal dengan pemiliknya yang ia tahu siapa itu.


"Brengsekk! kau sembunyikan di mana putri ku hah?!" suara di seberang sana berteriak geram.

__ADS_1


"Apa maksudmu?!" Erick berdiri dari duduknya, ia kemudian berdecih. "Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang sedang kau rencanakan hah?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Sarah berkilah. "Aku menelpon mu karena aku kehilangan putri ku!"


"Putri ku yang kau maksud adalah adikku. Jika aku tahu dia di mana, aku akan menjauhkan nya dari ibu lakknat seperti mu," berang Erick. "Tapi masalahnya aku juga tak tahu di mana Mona?"


"Hah? adik mu kau bilang." Sarah terbahak di dalam telpon, Erick mengernyit heran.


"Biar aku kasih tau, Mona bukankah adikmu, dia bukanlah anak kandung ayah mu."


"Apa!" Erick sungguh terkejut mendengar fakta tak terduga itu.


"Aku muak terus menyembunyikan faktanya dari kalian, jadi sekalian saja ku beberkan," ucap Sarah berapi-api.


"Sekarang, jika aku tahu kau sedang menyembunyikan putri ku, tak akan main-main lagi, akan ku pastikan Elena tidak akan baik-baik saja."


Tut! sambungan di matikan sepihak oleh Sarah. Erick kembali berdecih, matanya berkilat marah. Sudah separah ini ternyata Sarah menipu ayahnya.


"Mona ternyata bukan adik kandung ku? yang benar saja!" Erick menggeram kesal.


Sekonyong-konyong Zidan datang, pria itu nampak terseok-seok menghampiri, kentara seperti sedang di kejar sesuatu.


"Tuan, saya baru mendapat info dari mansion."


"Nona Mona berada di mansion saat ini. Dan dia tengah mengamuk, memporak-porandakan kamar tuan besar!"


...--------Oo--------...


Benar saja yang di katakan Zidan, ketika mereka sampai di sana, keadaan mansion sungguh seperti kapal pecah.


Para maid berdiri berjejer, tak berani mendekati Mona yang saat ini tengah mengacak- ngacak kamar Rey, yang entah bagaimana ia tahu kuncinya.


"Mona hentikan! apa yang kau lakukan hah?!" sentak Erick segera menahan gadis itu.


Mona segera menoleh menghadap nya, wajah Mona sumringah seketika.


"Kak Erick! kakak datang." Mona segera memeluk kakaknya itu.


"Lepaskan! sedang apa kau ada di sini?!" tegas Erick menyingkirkan tubuh Mona.


Gadis itu tersentak, tak menduga akan respon sang kakak yang seperti itu.


"Kenapa? kakak tidak senang aku ada di sini?"

__ADS_1


Tak menjawab pertanyaan Mona, Erick justru mengalihkan.


"Apa yang sedang lakukan di kamar papah? kau sedang berusaha menghancurkan nya?"


"Aku hanya ingin mencari bukti kak!" elak Mona. "Kata mommy, aku bukan anak kandung daddy, itu semua bohong kan kak?"


Erick tertegun. Rupanya Mona sudah mengetahui nya.


"Kak, katakan pada ku. Kenapa kau hanya diam saja?!"


Mona mengguncang bahu kakaknya.


"Katakan padaku kak, itu semua bohong kan? aku anak kandung daddy kan?!"


"Jika kau mendengar nya langsung dari mulut mommy mu berarti itu benar, Mona kau bukan anak kandung papa."


Hancur sudah pertahanan Mona, otak dan hatinya seolah tak bisa lagi ia kontrol, ngeblank seketika.


"T- tidak, itu tidak benar!" Mona menggeleng tak percaya.


"Itu tidak benar!" tak sengaja matanya bersibobrok dengan gunting tak jauh dari nya Mona dengan gerakan cepat mengambilnya, lalu dengan gerakan secepat kilat mengarahkannya pada leher Erick.


Semua terkejut, Zidan langsung mengambil ancang-ancang.


"Nona Mona, kendalikan dirimu. Apa yang coba kau lakukan?!"


"Diam di sana!" bentaknya pada Zidan. "Jika kau maju selangkah saja, maka gunting ini akan menancap di lehernya!"


Erick menggeram, tak menduga Mona sampai bisa menggertak nya seperti ini.


"Katakan padaku kak, jika semua itu tidak benar? cepat katakan pada ku?!" desak Mona.


"Kau salah jika harus melawan ku, Mona," ucap Erick semrik, lalu dengan mudah ia bisa cepat membalikkan keadaan, kedua tangan Mona kini sudah di cengkramnya dari belakang, sementara gadis itu mengumpat dan mengaduh keras.


"Bangsaat! lepaskan aku!"


"Tidak semudah itu," ucap Erick. "dengan seperti ini kau sudah membuktikan jika kau bukan adik ku."


Mona semakin memberontak namun dengan cepat dua orang bodyguard Erick bisa menahannya.


Kini Erick mempunyai rencana lain.


"Bawa dia dan tahan di ruang bawah tanah!" titah Erick, dua bodyguardnya mengangguk, meski Mona sudah berteriak dan mengamuk dia tidak bisa lepas, akhirnya tetap di bawa oleh dua orang berbadan besar itu.

__ADS_1


"Sarah, inilah saatnya kehancuran mu." gumam Erick.


__ADS_2