Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 54


__ADS_3

Sayup-sayup Elena bisa mendengar suara riuh rendah orang-orang di sekitarnya. Ia mencoba membuka kelopak mata, terasa berat dan ketika kesadarannya mulai mengambil alih, rasa sakit langsung mendera kepala begitu hebat, berdenyut hingga membuat nafasnya sesak.


Meski begitu ia tatap memaksakan membuka mata hingga samar- samar ia bisa melihat walaupun terasa mengabur membuat nya mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan penglihatannya.


"D- dimana aku?" suara serak serta dadanya terasa sesak membuat Elena urung untuk bangkit dari pembaringan.


"Elena! akhirnya kamu sadar." Dea, pertama kali menghampiri, Elena tersentak.


"Di mana ini Dea?" tanyanya dengan nada lemah.


"Kamu di ruang pengobatan." seseorang menyahut, bukan Dea yang menjawab melainkan Marvin, dengan jas putih seragam dokternya dan stetoskop yang menggantung di lehernya.


"Kamu sudah hampir seminggu tak sadarkan diri karena kekurangan cairan dan demam tinggi, kondisi mu benar-benar sangat lemah Elena." tutur Marvin sambil mengecek kembali keadaan gadis itu.


Elena terbata ia seperti sedang mengingat sesuatu. "Erick ku? d- dimana Erick ku sekarang? aku ingat Erick ku sudah siuman!" histeris nya.


"Dea bantu aku untuk menemui suamiku,ayo De!" Elena mengguncang- guncang lengan Dea namun gadis itu hanya diam dengan menatap iba padanya.


"Maaf Elen, aku harus mengatakan ini. Tapi Erick sudah kembali ke mansion nya dua hari yang lalu."


"A-apa?" Elena tercengang.


"I- itu berarti mas Erick sudah sadar?" sorot wajah Elena sekitar berseri. "Syukurlah ... " akhirnya ia bisa bernafas lega.


Namun Dea menunjukkan raut berbeda.


"Tapi dia tidak ingin memberitahu kan mu Elena. Bahkan ketika sadar dia tidak mencari mu sama sekali ... "


"A- apa maksud perkataan mu Dea?" cengkraman tangan Elena melemah, gadis itu menatap lekat mata Dea meminta penjelasannya.


Flashback*


"Syukurlah, pasien sudah siuman."


Informasi dari dokter setelah mengecek keadaan Erick membuat semuanya menyambut penuh haru. Mereka mengucap syukur barulah kali dengan raut wajah penuh kelegaan.


Sementara Dea menemani Elena yang tak sadarkan diri bersamaan dengan Erick yang sudah siuman. Elena dibawa keruangan yang berbeda untuk di rawat.

__ADS_1


Mendengar Erick yang sudah melewati masa kritis nya dan juga sadar kan diri membuat Dea ikut bernafas lega. Ia meninggalkan Elena barang sejenak untuk pergi ke kamar VVIP di mana Erick di pindahkan, guna memberitahukan keadaan Elena saat ini kepada Erick.


Namun respon yang di dapatkan nya dari Erick membuat Dea tercengang panjang.


"Erick, tadi Elena sempat pingsan saat menunggu mu siuman,dan kenapa reaksi mu seperti tidak peduli?" ujar Dea seakan tak percaya, bahkan saat ia memberitahukan jika kondisi Elena melemah karena terus berada di sampingnya tanpa istirahat, pria itu seolah tuli, terlihat tak minat sama sekali mendengar semua informasi tersebut, ia hanya bergeming dengan raut wajah mengeras.


"Aku memang tak peduli dengan keadaannya."


Mata Dea melebar mendengar jawaban ketus dari pria itu.


Flashback off.


Dea menceritakan semua kejadian pada Elena, namun Elena menggelengkan kepalanya tak percaya. "T- tidak Dea, mana mungkin mas Erick berbicara seperti itu, tak mungkin."


"Kau mungkin saja tak percaya, tapi fakta nya memang seperti itu. Erick seperti orang dengan kepribadian baru saat dia siuman. Aku pun tak mengerti. Sekarang atas permintaannya sendiri Erick lebih memilih pulang lebih cepat dan di rawat di rumah, tanpa pernah sama sekali mengecek keadaan mu," ucap Dea terdengar putus asa, sebenarnya tak tega untuk mengatakan kebenaran nya, ia merasa ikut kasihan dengan keadaan sahabatnya saat ini.


"Aku melihat sorot tajam di matanya, dia benar-benar berubah." pungkas Dea lagi.


"Aku tak percaya jika tak mendengar nya langsung. Bawa aku pada mas Erick, De ... bawa aku!" Elena tiba-tiba menjadi agresif, tubuhnya bergetar dengan kristal bening perlahan luruh di pipinya.


"Tenangkan dirimu, kumohon," lirih Marvin dengan nafas memburu sempat kewalahan karena Elena yang memberontak.


Dea tanpa sadar juga menangis merasa terenyuh dan ikut sakit melihat kondisi Elena saat ini. Padahal Elena lah yang begitu setia berada di samping Erick, tapi pria itu dalam sekejap berubah, tanpa perasaan tak mempedulikannya sama sekali. Entah apa yang sebenarnya terjadi.


Marvin memejam mengeratkan dekapannya pada Elena, sementara gadis itu nampak semakin tergugu di pundak Marvin.


"Kak, bawa aku menemui mas Erick ... ku mohon."


"Aku akan membawa mu pada suami mu," ujar Marvin dengan kilat yang memenuhi matanya. Dea sudah menceritakan semua padanya, tentang hari-hari berat yang di jalani Elena selama ia tak ada sisi gadis kecilnya itu. Jika memang semua yang di ceritakan Dea tentang Erick benar adanya, demi Tuhan, Marvin tidak akan tinggal diam lagi.


...***...


Di mansion. Erick berbaring di king size milik nya dengan masih dalam pantauan dokter. Pria itu mengatakan sudah baik-baik saja tapi mana mungkin dengan kondisinya yang masih lemah.


Sudah hampir seminggu setelah ia sadarkan diri, kini Erick sudah bisa untuk berjalan dan mengaktifkan tubuhnya meski bagian bawah tulang rusuknya masih terasa nyeri paska operasi.


"Ada yang kamu butuhkan lagi? mau buah?" tanya Clarissa setelah selesai menyuapi bubur untuk Erick kini.

__ADS_1


"Tidak aku sudah kenyang," ujar Erick menggeleng pelan, lalu punggungnya bersandar pada bantal. Mencoba merilekskan tubuh.


"Baiklah. Tunggu tiga puluh menit dulu lalu minum obat mu setelah itu istirahat ya," ucap Clarissa tersenyum menyiapkan beberapa butir obat yang sudah di resepkan dokter untuk Erick.


"Terimakasih ya, selama ini kau sudah setia menemani ku dan merawat ku," kata Erick tersenyum tulus.


Senyum yang bahkan baru pertama kali Clarissa lihat seumur hidup selama mengenal pria itu.


"Sama-sama." Clarissa ikut merasakan kehangatan yang di pancarkan Erick padanya, ia menarik kedua sudut bibirnya.


Mona lalu datang, menghampiri keduanya lalu duduk di samping Erick yang masih berbaring.


"Kakak, bagaimana keadaan mu?" Mona mengalungkan lengannya manja di leher Erick.


"Kakak sudah lebih baik ... Aww, jangan di tekan di sana, masih terasa sakit." ringis Erick ketika sikut Mona mengenai perutnya.


"Eh, benarkah maafkan aku." Mona langsung menarik diri.


"Apa sakit sekali?" Mona meringis merasa bersalah.


"Sudah tidak apa-apa," ucap Erick pelan.


"Mona kembali ceria setelah kamu sadar dan baik-baik saja, akhir- akhir aku sering berbagi tangis dengan nya saat menanti kondisi mu," ucap Clarissa terkekeh pelan, melihat bagaimana Mona yang begitu manja pada Erick.


"Benarkah?" Erick menatap kedua wanita di hadapannya bergantian.


"Tentu, karena aku dan Clarissa mempunyai ikatan yang kuat, kami sama-sama mencintai kakak. Dan kakak tahu kan, selama kakak dalam kondisi kritis kak Clarissa lah yang selalu ada di samping kakak, menunggu kakak hingga siuman," ucap Mona dengan semangatnya.


"Kakak sudah tahu itu. Kamu menceritakannya hampir berulang kali," ucap Erick terkekeh kecil.


"Dan untuk itu aku sangat berterimakasih pada mu, Clar,"ujar Erick kemudian dengan tatapan begitu lembut pada Clarissa.


Sementara wanita itu hanya menunduk wajah, tersenyum canggung. Erick salah paham, apa yang di katakan Mona tidaklah benar sama sekali, harusnya Elena lah mendapat pujian itu, entah mengapa Mona malah memutar balikkan fakta dan Clarissa sendiri tak bisa menyangkalnya, akibat terlena karena Erick yang bersikap sangat lembut padanya.


Di saat ketiga orang tersebut sedang bercengkrama dan berbincang, salah satu maid datang memberitahu kan sesuatu yang membuat wajah Erick datar seketika.


"Nyonya muda, menunggu anda di bawah, tuan."

__ADS_1


__ADS_2