
Kemeja putih lengan panjang yang di gulung hingga ke siku, dengan celana bahan berwarna hitam, penampilan Erick tak begitu ia tonjolkan meski begitu kharisma yang ia tampilkan begitu kuat hingga sangat memikat meski yang di pakainya terlihat sederhana. Jam tangan rolex daytona menjadi pelengkap di pergelangan tangan kirinya.
Kehadiran Erick di pesta Aaron, begitu sangat memikat membuat atensi semua orang kini tertuju padanya.
"Yohoho, sudah ku tebak kau pasti akan datang." Aaron, pria jangkung idaman wanita saat ini, segera menghampiri sang teman yang sudah tak di temuinya sejak lama.
"What"s up dude?" Aaron menyapa, mereka melakukan tos ala jantan lalu berpelukan singkat.
"Seperti yang kau lihat." Erick menjawab ala kadarnya, mata elangnya masih mengamati persekitaran pesta yang sedang terjadi.
"I miss you, bung. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? dua tahun? tiga tahun? ah, aku bahkan tidak ingat, kau sibuk dengan perusahaan mu, aku sibuk dengan karier ku. Kita sama-sama sibuk waktu itu. Tapi untung lah saat ini kita masih punya waktu untuk bertemu." Aaron tertawa senang. Menepuk-nepuk punggung Erick dengan bangga.
Erick hanya tersenyum tipis, terkejut ketika tiba-tiba saja segerombolan wanita menghampirinya.
"Ekhem, siapa pria tampan ini?" salah satu wanita bergaun seksi menunjukkan dua buah dadanya yang menonjol menggoda dengan nada mendayu-dayu.
"Tuan Aaron, kau tidak ingin memperkenalkan pria tampan ini kepada kami?" kemudian wanita itu mengedipkan mata genit pada Aaron.
"Tidak-tidak, jangan yang ini, dia adalah teman ku. Dia pria terhormat tak akan bergairrah dengan kalian, carilah pria hidung belang yang lain." Aaron mengusir, para wanita itu berdecak jengkel.
"Ck, memangnya siapa dia hingga tak tertarik dengan pesona kami? juga apakah dia pria normal atau menderita impoten hingga tak bisa tertarik dengan lawan jenis?" salah satu wanita itu bernama Teresa, berucap angkuh dengan nada mengejek.
"Semua yang kau tuduhkan itu salah. Apa kau tidak tahu? makanya banyak baca majalah atau google, pria di samping ku ini adalah Erick Davidson, pemilik perusahaan the Davidson's company, perusahaan raksasa di negara ini."
Mata Teresa mengerjap-ngerjap. "Benarkah? berarti si tampan ini orang kaya?"
"Bukan hanya kaya, tapi sangat. Itulah pentingnya pendidikan dan pola pikir yang benar, bukan hanya pria tua berduit saja yang kau tahu." Aaron, meskipun pria itu adalah seorang entertain dan artis terkenal tak pernah sekalipun takut dengan imagenya yang akan jelek. Ia tak segan untuk melontarkan kata-kata kasar nyelekit dan selalu mengikuti apa keinginannya, tak pernah menahan diri untuk membuat image nya tetap baik.
Teresa merasa terhina dengan ucapan Aaron, "Ck, ayo kita pergi girls." ia menghentak-hentakan kaki di lantai menyuruh para kurcacinya untuk pergi.
__ADS_1
Aaron berdecih geli. "Dasar wanita." ia memandang gerombolan geng Teresa yang semakin menjauh. Dua tahun mengenal wanita yang berprofesi sebagai lawan mainnya dalam beberapa proyek film, ia sudah sangat mengenal sikap manja juga genit Teresa hingga tak ayal membuatnya juga terkadang kesal.
"Kau masih sama ya seperti dulu. Terlalu banyak omong dan banyak tingkah." Erick mengsarkas.
Aaron justru tertawa. "Itu sebabnya aku tak jadi CEO seperti mu. Ayo kita ke aula tengah, kita nikmati pesta malam ini, sobat." Aaron merangkul leher Erick mengajaknya sambil memperkenalkan pada teman-temannya yang lain.
...***...
Esoknya, Dea yang tiba-tiba merasa cemas dengan keadaan Elena, berniat mengunjungi mansion davidson, untuk melihat kondisi sahabatnya tersebut.
Bukan tanpa alasan Dea sampai menyusul ke sini, instingnya entah mengapa mengatakan Elena sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Apalagi ketika ia mencoba berkali-kali menghubungi nomor telepon Elena, gadis itu tak menjawabnya. Dea khawatir sebab di mansion itu tidak ada lagi yang peduli dengan sahabatnya.
"Apa kamu yakin beb akan menyusul Elena kesana?" tanya Rizal kekasih Dea.
"Tentu saja beb, kita akan menikah dan sahabat ku perlu tahu tentang kabar bahagia ini." sahut Dea.
"Sudahlah itu kan sudah lama, yang lalu biarlah berlalu. Dari kemarin aku merasa cemas tentang kondisi Elena, tak biasa nya dia tak memberi kabar seperti ini." mimik Dea menunjukkan kekhawatiran yang sangat jelas.
"Baiklah, terserah kau saja." Rizal mengalah, Dea tersenyum menggamit lengan pria itu.
"Jangan marah ya?"
"Aku tidak marah." Rizal berkilah. "Sana masuklah, aku akan menunggu di sini."
Dea mengangguk. "Baiklah."
"Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, oke."
Dea mengangguk lagi. "Baik sayang."
__ADS_1
Rizal mengulas senyum tipis dan mengusap ringan pucuk kepala Dea, gadis itu melebarkan senyum senang lalu berbalik berjalan ringan menuju gerbang mansion yang menjulang kokoh.
...***...
Dea berhasil melewati penjagaan pos tanpa adanya drama di tanyai ini dan itu karena beberapa orang di sana sudah mengenal Dea sebagai sahabat nyonya muda mereka, Elena.
Seperti biasa, Dea akan mencari keberadaan bik Surti, karena menurut Dea wanita paruh baya itulah satu-satunya yang waras di sini, selain sahabatnya tentu. Dan kepada bik Surti lah Dea sudah sangat akrab.
Namun saat bertanya pada salah satu maid Dea harus menelan kekecewaan karena bik Surti yang ternyata pulang kampung sejak seminggu lalu tersebab anaknya sakit, padahal Dea juga ingin mengundang wanita baya yang baik itu ke pernikahannya nanti.
"Baiklah, kalau begitu di mana Elena? nyonya kalian, aku ingin bertemu dengannya." Dea tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi, tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini.
"Ini anu ... itu nona, anu ... " sang maid yang dia tanyai tampak gelagapan membuat Dea mengerutkan dahi.
"Kenapa? ada apa?" Dea menyapu ke sekitaran nya. "Apa tidak ada anggota keluarga lain di sini? semuanya tampak sepi."
"Oh ya, tuan muda tentu sudah pergi ke kantor, tuan besar memang akhir-akhir ini sedang sibuk jadi jarang ada di mansion, nyonya Sarah dan putrinya juga sering keluar untuk shopping dan jalan-jalan, jadi memang mansion hanya ada para maid dan selalu terlihat sepi."
"Lalu di mana, Elena?" Dea bertanya lagi tentang keberadaan temannya.
Maid itu nampaknya tak bisa menjawab, hingga terdengar suara jeritan keras membuat mereka menoleh kaget.
"Nyonya muda!" itu seperti teriakan seorang wanita di bagian paling belakang, Dea yang curiga segera menghampiri, pun si maid yang langsung panik ikut menyusul.
Suaranya berasal dari bagian terujung mansion ini, beberapa pekerja juga terlihat tergopoh-gopoh menghampiri, salah satu dari mereka menuju gudang, Dea mengikuti.
"Darah!" seseorang berteriak lagi. Dea yang penasaran langsung menerjang kerumunan, sontak matanya langsung membeliak terkejut.
"Elena!"
__ADS_1