Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 145


__ADS_3

Happy reading 🌹🌹🌹🌹


Seperti yang di takutkan Erick terjadi. Siang itu di toko kue, Elena yang tengah mengadon bahan untuk kue kering yang akan ia buat, di bantu bersama Siska. Terkejut ketika kedatangan tiga orang pria memakai setelan serba hitam, nampak sangat misterius, masuk ke dalam tokoh dengan niat ingin membeli kue.


"Kami ingin memesan," ucap salah satu pria itu tak berama tamah terlebih tampang wajahnya yang menyeramkan dari balik kacamata hitamnya.


"Pesan apa?" tanya Elena, ia maju ke depan karena Siska tiba-tiba memundurkan langkah nya, nampak sedikit tak nyaman akan kehadiran tiga pria itu yang seakan sedang membawa aura tak mengenakkan.


"Oh, jadi kau pemilik kue ini?" salah satu dari pria itu berbicara kemudian.


"Ya." jawab Elena, acuh tak acuh, ia memicing waspada mulai merasakan tak enak dan di bekuk kecurigaan di dalam hati.


"Ka Elen, Siska takut." bisik gadis di belakangnya. "Tampang mereka serem- serem. Kayanya mereka berniat merampok deh."


"Ssst!" Elena memperingati gadis itu. "Kecilkan suara mu, atau mereka akan mendengar," cicit Elena.


Dan benar saja, salah satu di antara pria itu yang mempunyai postur lebih pendek, melirik ke arah mereka.


Sontak Elena dan Siska tertegun sampai membelalakkan mata.


"Kau tenang saja, jika mereka berbuat macam-macam kita akan langsung berteriak dan kabur." Elena masih berusaha berpikir positif sambil menenangkan Siska yang ia rasakan sedang gemetar ketakutan.


Di balik pohon tepat bersebrangan dengan jalan di mana tak jauh dari tempat tokoh kue Elena, ada Sarah dan para komplotan nya terlihat sedang mengawasi. Sarah tak main-main lagi dengan rencana nya kali ini. Demi membawa putrinya kembali dan membalas dendam nya, Sarah menggunakan rencana gabungan dari setiap rencananya yang sudah ia susun matang- matang.


"Ada empat penjaga di setiap pilar tokoh. Bagaimana pun caranya kita harus mengalihkan perhatian para bodyguard Erick itu hingga rencana ini bisa berjalan mulus," ucap Sarah di walkie talkie yang di pegang nya terhubung langsung dengan alat pendengar di telinga tiga pria yang kini berada di dalam tokoh Elena.


Tiga pria di dalam tokoh mengangguk bersamaan. Hal itu semakin menimbulkan kecurigaan di benak Elena dan Siska.


Tak jauh dari mereka, kemudian sebuah mobil berhenti di parkiran tokoh. Sarah yang sedang mengawasi, kaget melihatnya terlebih ketika menyadari siapa yang sedang turun dari mobil sedan berwarna merah tersebut.


"Waw, umpan tak terduga. Ini akan sangat menyenangkan." Sarah menyeringai.


Wanita itu kemudian mendekatkan walkie talkie nya lagi di sisi bibirnya.


"Kalian lihat, wanita yang baru saja sampai. Seret dia juga!" ujar Sarah.


Tiga pria yang di beritahukan lewat walkie talkie itu menoleh berbarengan ke arah datangnya Clarissa.


Elena dan Siska ikut menoleh, melihat Clarissa yang datang, dua perempuan itu bernafas lega.


"Halo Elena." Clarissa menyapa, melambaikan tangannya.


"Hai." balas sapa Elena ikut melambaikan tangannya juga.


"Aku kesini untuk berkunjung, ingin mengajak mu minum teh bersama."


Siska yang semula merasa takut pun kini bisa sedikit leluasa berkat kehadiran Clarissa, ia berdiri tegak tak lagi bersembunyi di balik punggung Elena.


Brak!


Tiba- tiba seseorang menggebrak meja kasir.


"Kenapa kalian hanya diam saja? kami ingin memesan!"


"Tolong jaga sopan santun anda pak. Justru dari tadi kami yang menunggu anda ingin memesan apa?!" sergah Elena.

__ADS_1


"Alah banyak bacot!" sengau salah satu dari pria itu.


Sementara Sarah yang sedang menunggu timing pas mulai menghitung mundur.


"Mulai dari hitungan ketiga, rencana di eksekusi. Satu! dua! tiga!"


Selesai Sarah menghitung, tiba-tiba ketiga pria itu mengeluarkan senjata dari balik jaket mereka.


Elena, Siska dan Clarissa kontan saja terkejut bersamaan.


"Mau apa kalian?!" geram Elena.


"Gak usah banyak bacot, ikut kami sekarang!"


"Sudah ku duga kalian memiliki rencana jahhat." gumam Elena.


Tak! mendadak dari belakang tiga pria itu di buat kicep oleh para bodyguard Erick yang sudah siaga. Mereka menjatuhkan senjata api di tangan mereka masing-masing.


Salah satu bodyguard Erick menelpon sang atasan.


"Halo, pak. Kami sudah menangkap tiga pria yang hendak mencelakai nona muda."


Di tempat lain Erick yang sedang di ruangannya segera berdiri dari duduknya.


"Itu berita bagus. Segera bawa mereka!" Erick memang sudah menduga ini akan terjadi. Itu sebabnya ia diam-diam sengaja menyelinap kan anak buahnya di jajaran toko kue Elena, agar jika dugaannya benar Sarah hendak menculik Elena, sudah di pastikan rencana wanitanya akan gagal karena Erick sudah memikirkan solusi sebelumnya.Dan kini dengan tertangkapnya anak buah Sarah, ia bisa menggunakan mereka untuk menemukan Sarah dan menangkap nya.


"Segera bawa mereka kesini dan amankan situasi!" ucap Erick memberikan perintah.


Para anak buahnya mengangguk patuh. "Baik tuan."


Baru saja mereka hendak membekuk tiga pria itu namun mereka lengah hingga tiga pria itu memiliki celah untuk melawan.


Salah satu dari tiga pria itu menarik dan memilintir tangan anak buah Erick hingga dia memekik terkejut. Salah satunya berhasil mengecohkan fokus mereka hingga kini tiga pria itu berhasil kabur.


Sontak saja semua anak buah Erick mengejar, tanpa mereka sadari, lupa untuk mengamankan keadaan Elena dan yang lain.


"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini! tempat ini sudah tak aman!" kata Clarissa yang sudah sangat panik. Elena dan Siska mengangguk lalu berniat keluar dari toko untuk mengamankan diri.


Sarah menyeringai.


"Ck, ck, ck! Erickson, ku akui kau memang cerdik tapi untuk kali ini kau tertinggal satu langkah di belakang ku."


Seperti Erick yang sudah akan menduga jika ia hendak menculik Elena, Sarah pun sudah menduga jika Erick akan lebih dulu mengetahui rencana nya ini sebelum ia mengeksekusi. Jadi ia memiliki rencana lain agar bagaimana Erick merasa berhasil telah menangkap anak buahnya yang hendak menculik Elena, tapi sebenarnya itu hanya pengalihan saja, dan bodohnya anak buah Erick langsung percaya diri bisa membekuk tiga pria yang mereka sangka adalah utusannya untuk menculik Elena, tapi sebenarnya itu hanya pancingan saja agar saat mereka sedang berusaha untuk menangkap tiga pria itu, tapi sebenarnya anak buahnya yang sebenarnya sudah ia siapkan untuk menculik Elena.


"Cepat, kita kabur dari sini!"


Clarissa menuntun Elena untuk masuk ke mobil nya, tapi empat laki-laki berbadan besar tiba-tiba datang menghadang mereka.


"Mau kemana kalian?!"


"Apa!" Sontak tiga wanita itu memekik terkejut.


Tap! mereka langsung menahan tangan Elena, Siska menjerit, Elena yang merasa terancam berusaha untuk melepaskan diri nya dari jeratan tangan pria itu.


"Lepaskan aku! dasar kapparat!"

__ADS_1


"Hahaha percuma kalian melawan! tidak ada lagi yang bisa membantu kalian!"


Grrr! Elena menggeram kesal, sontak saja ia berinisiatif menggigit tangan pria itu.


Aaaarrg! dia menjerit kesakitan.


Kesempatan untuk Elena, ia segera menarik tangan Siska dan menggenggam tangan Clarissa untuk kabur dari sana.


"Mau kemana kalian hah?!"


...--------Oo--------...


Langkah tiga wanita itu semakin cepat mengayuh berusaha menghindar kejaran empat pria di belakang mereka.


Tapi sayangnya seberusaha apapun mereka berusaha lari, tenaga pria dan wanita yang tak seimbang membuat empat pria itu dengan mudah mengejar langkah mereka.


Terlebih lagi Siska yang sudah merasa sangat lelah karena sudah berlari jauh tiba-tiba saja berhenti.


"Aku sudah tidak kuat berlari lagi, kak," ucap Siska nampak ngos-ngosan.


"Kita tidak punya banyak waktu Siska sebelum mereka semakin mengejar, ayo kuatkan dirimu," ujar Elena berusaha menyakinkan Siska, ia tidak bisa meninggalkan gadis itu sementara tempat yang mereka lalui jauh dari pemukiman.


Clarissa juga sama lelahnya terlebih dia memakai hak tinggi yang membuat nya kakinya tidak bisa berjalan lagi.


"Kalian sudah tak bisa kabur lagi!"


Deg! Elena menoleh empat pria itu kini sudah berada di depan mereka.


Grep! lengan Elena di tarik paksa, akibat tenaganya yang sudah di kuras habis saat berlari kini ia tak punya tenaga lagi yang tersisa untuk melawan.


"Lepaskan!" Elena masih berusaha untuk berlari."


"Percuma saja, kau tak akan bisa melawan!"


Kedua tangan Elena langsung di ikat dari belakang, sementara mulutnya langsung di bekap oleh sebuah kain saat ia hendak berteriak untuk meminta tolong.


Empat lawan tiga tentu bukan lawan seimbang apalagi empat pria itu berbadan besar dan menyeramkan.


"Bos bilang wanita ini juga harus ikut," tunjuk salah satu nya pada Clarissa.


Clarissa tak mau, ia menggeleng hendak berusaha kabur untuk meminta tolong, ia memberontak ketika hendak di ikat tangannya, hingga naas sebuah balok berhasil menghantam bagian perutnya dengan keras dan pelakunya adalah salah satu dari pria itu.


"Ini akibatnya jika kau terus memberontak."


Mata Elena membelalak, terlebih saat ia melihat Siska sudah jatuh pingsan duluan.


Lalu sebuah mobil tiba di hadapan mereka, empat pria itu mendorong tubuh Elena dan Clarissa untuk masuk ke dalam cara mereka yang mendorong sangat kasar membuat punggung Elena terhantuk spion mobil dengan keras namun keempat pria itu sama sekali tak peduli, justeru malah mendorong kasar punggung Elena yang terluka supaya ia duduk dengan benar. Elena meringis, punggungnya yang terluka terasa sangat sakit terlebih ketakutannya saat ini, satu persatu air matanya luruh merembes hingga mengenai pipi.


"Bagaimana dengan gadis itu? apa perlu kita bawa juga?" tunjuk salah satu dari empat pria itu ke arah Siska.


"Tidak perlu, lagi pula dia tidak di butuhkan. Juga dia pingsan, akan repot jika membawanya, lebih baik kita segera pergi dari sini."


"Baiklah. Ayo!"


Mobil mulai tertutup rapat membawa Elena dan Clarissa di dalamnya, melesat pergi meninggalkan asap mengepul mengenai Siska yang saat ini tergeletak mengenaskan.

__ADS_1


***


Sebentar lagi akan menuju ending rider, mohon untuk terus ikuti novel ini ya^_


__ADS_2