
"Kenapa? melamun?" sentakan dari tangan Clarissa yang memegang lembut lengannya membuat Erick terhenyak, pria itu menggeleng lalu menoleh pada wanita di sampingnya tersebut.
"Tidak apa-apa." Erick menjawab sekedarnya. Jujur saja, ia masih merasa terpukau saat melihat Elena dengan balutan gaun indah berwarna hitam tadi, itu mengingat Erick tentang mimpinya bersama Elena yang menari-nari di iringi musik, Elena dengan penampilannya tadi persis seperti yang ada di dalam mimpinya.
Hah ... Erick menarik nafas dalam, mengeluarkannya dengan kasar melalui mulut. Ia memijat keningnya perlahan, hal itu menimbulkan kecemasan pada Clarissa.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Clarissa sekali lagi, seraya memijat pelan pundak Erick, namun pria itu segera menepisnya.
"Ya, aku baik-baik saja," ucap Erick, dari bahasa tubuhnya Clarissa bisa melihat jika Erick risih dengan perlakuannya.
Sebenarnya apa tujuan mu melakukan semua ini Erickson? kenapa di sini aku seakan-akan hanya sebagai orang ketiga di antara kau dan Elena?
Batin Clarissa, ia mengesah sesaat, merasa dunia begitu lucu mempermainkan perasaannya. Tapi ia tak bisa mengelak di saat Erick lebih memilih ia ketimbang Elena, untuk sesaat ia merasa seperti di atas awan. Tapi setelah itu ia seakan di terjunkan ke dasar jurang yang paling dalam ketika Erick menunjukkan sifat aslinya jika tak ada Elena.Itu membuatnya sedih.
ia merasa hanya di jadikan alasan untuk Erick agar membuat Elena cemburu. Tapi lagi-lagi cinta membutakan segalanya.
"Apa semua cinta memang segila ini Erickson?" lagi, ia hanya bisa membatin dengan menatap pria di sampingnya yang hanya bergeming menghadap jendela mobil.
...***...
Elena menghapus make up yang menempel di wajahnya, bukan hanya itu air matanya yang ikut menggenang ia seka kasar menggunakan kapas justru malah membuatnya semakin terlihat berantakan.
"Tidak apa-apa Elena, jangan menangis lagi. Kuatkan dirimu." ia bermonolog berusaha menguatkan diri sendiri, tapi sekeras apapun ia mencoba hatinya tetap lah tak bisa untuk di bohongi, ia terluka begitu dalam. Rasa sesak di dadanya urung sirna malah semakin memumbung tinggi. Ia tekan sekuat tenaga dadanya kini demi berusaha untuk meredakannya barang sedikit saja.
"Semuanya telah berubah. Dia bukan Erick mu yang dulu," lirih Elena dengan suara bergetar begitu parau.
Di pintu kamar yang sedikit terbuka, ada Mona dan Sarah yang mengintip, melihat keadaan gadis itu kemudian mereka menarik diri cekikikan dengan begitu senangnya.
"Hahaha, baru segini saja rasanya sudah sangat menyenangkan melihatnya menderita." cetus Mona di angguki oleh Sarah.
"Erickson tak akan pernah memaafkan nya mommy yakin itu. Kecuali dia bisa memanggil Vicky untuk menjadi saksi, tapi itu tidak akan mungkin karena pria itu sudah pergi jauh, tak ada yang akan membantunya," ujar Sarah dengan tawa berderai.
"Kalian berdua!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Sarah dan Mona menoleh mendengar seruan garang tak jauh dari tempat mereka berdiri kini.
"Daddy ... " pelan Mona memanggil.
"Ikut Daddy." Rey menatap nyalang istri dan putrinya saat ini.
**
"Daddy apa-apaan sih." sentak Sarah ketika mereka mulai menjauh dari kamar Elena.
"Daddy minta kalian berhenti sampai sini," ucap Rey, tegas.
"Apa maksud daddy?" Mona bertanya dengan kedua alis menyatu.
"Berhentilah untuk menganggu Elena, lagi," tukas Rey menekankan kata-katanya.
"Daddy kenapa sih berubah begini? apa yang di berikan si kumuh itu pada daddy, hingga kamu sangat menaruh simpatik besar seperti ini padanya?" ujar Sarah, tak terima.
"Iya daddy akui daddy salah saat itu, tapi kini daddy mulai percaya pada Elena, dia gadis baik-baik tidak seburuk yang kita duga."
"Duh, daddy di kasih jampi- jampi apa sih sampai ngebela si kumuh itu mati-matian gini?!" Sarah sudah mulai gerah.
"Sudahlah, apapun itu daddy minta kalian stop. Daddy tahu kalian lah yang menjebak Elena kan? foto- foto itu kalian yang merencanakan nya."
"J- jangan bilang daddy akan bilang ke kak Erick?" Mona memperingati.
"Jangan berbuat ulah dad. Ingat awal perintah ini juga kami dapatkan dari mu," Sarah pun melakukan hal yang sama, memperingati sang suami.
Sejenak, Rey menghela nafas berat. "Untuk saat ini daddy akan tetap diam, itu semata-mata karena daddy tidak punya pilihan lain." Meskipun mulai mempercayai Elena, Rey tidak akan tega mempertaruhkan istri dan putrinya apalagi semua ini di mulai dari dirinya. Anggaplah ini adalah hukuman untuk nya.
"Tapi seperti kata pepatah sebaik-baiknya kalian menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Dan jika suatu saat itu sampai terjadi, daddy pun tidak akan bisa untuk membantu kalian," pungkas Rey membuat Sarah dan Mona kicep seketika.
...***...
__ADS_1
Acara pesta pernikahan putri tuan Eren di selenggarakan dengan sangat megah dan mewah.
Ada banyak tamu dari berbagai kalangan datang, bahkan para pejabat negara yang menjalin hubungan baik dengan pria terkemuka itu juga turut menghadiri undangan.
Kedatangan Erick dan Clarissa tentu mendapatkan sambutan yang sangat meriah, terlebih nama Clarissa sedang naik akhir-akhir ini. Erick seperti tak takut dengan membawa model yang sedang ramai di perbincangkan di media sosial kini, ia tak masalah jika nanti ada skandal hubungan nya dengan Clarissa yang tentu akan membuat gempar. Erick sudah memperhitungkan semuanya.
"Selamat datang tuan Erick Davidson, selamat datang." tuan Eren datang memberi sambutan, pria bertubuh agak gempal tersebut memeluk Erick dengan hangat.
"Terimakasih ... selamat untuk pernikahan putri anda." Erick tersenyum, mereka saling berjabat tangan.
"Selamat untuk pernikahan putri anda, pak Eren." dari belakang Clarissa muncul, tersenyum begitu anggun dan mengajak tuan Eren bersalaman.
Untuk sesaat tuan Eren terperangah, lalu ia mulai berseru. "Pantas saja paparazi langsung menyorot tuan Erick begitu sampai kesini, rupanya kita kedatangan tamu spesial. Terimakasih nona Clarissa untuk kehadirannya."
Mereka sama-sama tertawa pelan.
"Jadi ini kekasih anda sekarang tuan Erick?" tanya tuan Eren lebih terdengar seperti godaan.
Memang tak ada yang mengetahui jika Erick sudah menikah sebelumnya. Pernikahan antara ia dan Elena masih di rahasiakan terlebih itu adalah permintaan Elena sendiri, gadis itu belum siap di publikasikan sebagai istri dan nyonya the Davidson's company.
Hingga tak ada yang curiga tentang Clarissa sama sekali, apalagi khalayak ramai tahu jika mereka sudah kenal sejak kecil bahkan tak sedikit yang menjodoh-jodohkan keduanya.
Erick hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan tuan Eren. "Sepertinya ini bukan situasi yang tepat untuk menanyakan hal itu bukan?" sorot mata Erick menjelaskan semuanya.
Seakan peka, tuan Eren seketika mematung dengan raut tak enak di wajahnya.
"Hahaha kau benar, kalau begitu ayo kita masuk saja ke dalam."
Setelah di persilahkan Erick masuk lebih dulu ke dalam ballroom yang luas itu, sedangkan Clarissa masih bergeming di tempat, dengan memegangi sebelah dadanya yang mendadak nyeri.
"Kenapa rasanya sesakit ini?" batin perempuan itu dengan gamang.
Mungkin benar, Erick sama sekali tak pernah menganggapnya, hanya saja ia terlalu berharap.
__ADS_1