Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 46


__ADS_3

"Penawaran?" alis pria berwajah oriental itu berkerut. "Penawaran apa? jangan- jangan kalian ini benar-benar penjahat ya? berusaha untuk menjebak ku!" tudingnya, waspada.


"Tutup mulut mu!" desis nyonya Sarah menggebrak meja, untung saja suara nya tak sampai mengagetkan orang di sekitar mereka.


"Kau ini meski tampan, tapi sangat menyebalkan ya!" cibir Mona, mendecakkan lidahnya.


Nyonya Sarah menarik nafas sebelum akhirnya berbicara lagi. "Begini kami ingin kau melakukan sesuatu, dan sebagai imbalannya kami akan memberikan sejumlah uang yang tak akan pernah kau sangka- sangka."


Vicky yang dasarnya tak pernah tahan dengan godaan materi pun mulai berbinar. "Sejumlah uang? apakah itu besar?"


Keadaan ekonomi yang melilit paska di keluarkan dari kampus dengan cara tidak terhormat. Membuat Vicky berusaha mati-matian bertahan hidup di kota metropolitan ini. Dan nyonya Sarah tahu akan hal itu.


"Yup, kau hanya perlu melakukan satu hal untuk kami," ucap Mona, menimpali.


Seketika sorot mata Vicky berubah culas. "Apa itu? jangan bilang aku harus melakukan kejahatan."


"Ck. Biar ku jelaskan," nyonya Sarah menyela, tak suka juga basa- basi ini semakin panjang. Lalu ia menceritakan pada Vicky apa yang harus menjadi tugasnya.


"Gila! aku harus menjebak Elena? aku tidak mau!" tukas Vicky. terkejut sekaligus, karena tahu Elena, mantannya itu kini sudah menikah dengan pria yang telah membuat kehidupannya hancur.


"Hei, aku tidak membutuhkan penolakan di sini. Aku tahu tentang riwayat hidup mu, tentang bagaimana hidup mu berantakan oleh pria yang kini menjadi suami mantan kekasih mu itu. Tidak kah kau ingin membalas dendam?"


"Membalas dendam?" Vicky nampak melongo.


"Yes. Balas dendam karena hidup mu yang kini luntang-lantung setelah di buat hancur oleh tuan Erick Davidson, pria yang juga membuat hubungan mu putus dengan Elena. Aku tahu semua kisah hidup mu anak muda. Oleh sebab itu bergabung lah bersamaku untuk misi ini." tutur nyonya Sarah.


"Misi memisahkan mereka," ucap Mona, menambahi.


Kedua wanita itu melihat raut wajah Vicky yang tengah berfikir keras. Nyonya Sarah kemudian berdeham lagi untuk kembali meyakinkan pria berjaket kumal tersebut.


Wanita elegan itu kemudian mengambil koper berukuran sedang berwarna silver yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Menaruhnya ke hadapan Vicky dan membuka kuncinya.


Sontak pria itu terbeliak, ketika melihat banyaknya tumpukan uang kertas berwarna merah di dalam koper tersebut.

__ADS_1


"Ini belum seberapa, masih setengah nya. Jika kau berhasil, setengahnya lagi akan ku kirim lewat cek."


Vicky menatap kedua wanita itu secara bergantian. "Apakah orang kaya, seperti mereka sama saja? rela menghamburkan uang untuk hal bodoh?" batinnya. seolah tak percaya.


"Bagaimana, kau setuju."


Vicky masih speachless, jantung nya berdetak kencang melihat pundi- pundi uang itu. Kira-kira ada berapa nominal nya? 200 juta? 500 juta? atau 1 milyar? tiba- tiba air liurnya menetes. Membayangkan uang itu akan membuat ia kembali pada kesenangannya.


Nyonya Sarah dan Mona saling melempar pandang, menyungging senyum miring. Mereka tahu Vicky si pria materialistis ini tidak akan mungkin menolak.


Vicky nampak menimang-nimang lagi. Benar, ini juga bisa menjadi kesempatan baginya untuk membalas dendam pada Erick, juga Elena yang sudah menolaknya. Kedua orang itu telah menghancurkan hidup nya. Matanya berkilat marah.


"Baiklah, aku setuju!" pungkas Vicky. mantap.


...***...


"Kau demam," ucap Erick, setelah meraba kening sang istri, yang kini meringkuk. "Mungkin terkena angin malam di rooftop semalam." Ia menghela nafas, menyesal. Lalu duduk di tepian ranjang.


"Maaf ya, kejutan yang harusnya membahagiakan mu, malah membuat mu sakit."


Karbondioksida lagi-lagi di keluarkannya dengan kasar, Erick mengelus pipi Elena, sayang. "Mau sarapan dulu? akan ku minta pak Pandu untuk menyiapkan bubur."


"Enggak. Aku mau tiduran aja mas, sampai badanku enakan," ujar Elena setengah terpejam, hidung wanita itu memerah karena pilek yang menyerangnya.


"Baiklah, aku berangkat ya sayang, jaga diri dan minum obatnya, nanti jam makan siang aku akan kembali untuk mengecek keadaan mu."


Cup! Erick memberikan ciuman singkat di kening Elena. wanita itu nampak mengangguk lemah.


"Hati- hati, mas," lirih Elena masih sempat mewanti-wanti, kalimat yang selalu ia ucapkan setiap harinya ketika Erick akan berangkat ke kantor.


Baiklah."


Erick menutup pintu kamar, membiarkan istrinya istirahat.

__ADS_1


...----------------...


Sambil menunggu Zidan, asisten pribadinya datang. Erick berlalu ke pantry, untuk berpesan pada bik Surti.


"Mbok, buatkan istri saya bubur dan siapkan juga obat serta vitamin, nanti antar ke kamar."


"Mengerti, tuan muda." bik Surti yang sedang membilas piring kotor di wastafel, mengangguk.


Setelah memastikan, Erick pun beranjak pergi, namun langkah pria itu terhenti ketika indera pendengaran nya yang tajam menangkap bunyi obrolan dua maid yang membelakanginya.


Mata Erick melebar terkejut ketika mengetahui isi percakapan dua pelayan tersebut, tangannya terkepal erat dengan gigi bergemelutuk. Lalu Erick memilih pergi untuk menyelidiki apa yang ia dengar itu.


...***...


Di kantor, Erick meminta untuk pak Pandu mengirim rekaman cctv yang ada di ruang pantry.


"Dua pelayan itu tidak tahu jika aku sengaja memasang banyak cctv terutama di dapur."


Sibuk, bukan berarti Erick tak mengamati sekitarannya. Ia yakin ada yang salah akhir- akhir ini. Bayang-bayang Elena yang selalu berwajah sendu saat ia pulang dari kantor kini memenuhi kepala Erick. Sebenarnya apa saja yang terjadi selama ia tak berada di mansion?


Menekuri video rekaman dengan fokus di layar laptopnya, rahangnya mengeras dengan mata elangnya yang menatap tajam. Apa yang ia lihat di sana benar-benar menguatkan dugaan.


Dengan gemuruh amarah, ia menekan tombol di pesawat telepon.


"Zidan. segera keruangan saya." titahnya pada sang asisten.


...***...


Jam makan siang, sesuai janjinya Erick kembali ke mansion untuk mengecek keadaan sang istri. Tapi bukan hanya itu sekarang, setelah memastikan keadaan Elena baik. Ia sengaja mengumpulkan seluruh penghuni mansion, termasuk Elena yang sudah membaik ikut berkumpul.


"Ada apa ini Erickson? kenapa kau mengumpulkan semua orang di sini?" tanya nyonya Sarah, tangannya mengibas ke wajah, ia baru saja pulang dari mall bersama putrinya. Niatnya ingin langsung ke kamar malah di hadang untuk di sidang bersama para pelayan di aula tengah. Benar-benar menyebalkan! batinnya berdesis.


"Pertama- pertama, aku meminta kalian semua berada di sini. Karena ingin mengungkapkan sebuah kejahatan yang terjadi di mansion ku."

__ADS_1


Semua yang hadir terkesiap, nampak saling memandang was-was.


"Aku tahu sedang ada yang bermain- main dengan ku. Mereka pikir aku bodoh karena tidak akan mungkin mengetahui nya ... " Erick menjeda ucapannya. "Tapi mereka salah besar. Mereka tidak tahu dengan siapa mereka sedang bermain-main." mata Erick sengaja tertuju pada dua pelayan yang kini terlihat pias. Tentu keduanya amat ketakutan saat tatapan tajam bak elang yang akan memangsa kini sedang memburu mereka.


__ADS_2