
Erick berjalan pasti, dengan bahu tegak dan dada yang membusung tegap. Setelah mendapatkan dukungan dari Elena dan mendapat kabar kondisi ayahnya semakin membaik, membuat semangatnya seolah tumbuh kembali dan menjadi percaya diri untuk menghadapi masalah internal di perusahaan, meski ia tahu tak akan mudah, tapi setidaknya seperti kata sang istri, ia akan berusaha dan berjuang keras.
"Dad, keadaan perusahaan Erick saat ini benar-benar kacau, Erickson membutuhkan dukungan kita, aku yakin dengan bantuan daddy ini pasti akan sangat berguna untuk masalahnya," ucap Clarissa pada ayahnya.
Kini setelah sekian lama, Clarissa menginjakkan kakinya lagi di kantor ayahnya, setelah obrolan mereka terakhir kali menjadi perdebatan sengit, hubungan ia dan sang ayah seolah berjarak. Namu n saat ini ia mengesampingkan rasa gengsi untuk menemui duluan, demi satu tujuan, yaitu membantu Erick yang tengah dalam masa kesulitan.
Ck! Edward berdecak, laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih itu berdiri dari singgasana duduknya.
"Kenapa aku harus begitu peduli pada masalah nya? apa kau tidak ingat saat dia memperlakukan kita di hari pertunangan kalian,hah?!" berang pria itu pada putrinya yang saat ini tengah memohon.
"Pergilah Clar. urusi saja dirimu, selama ini daddy sudah berbaik hati dengan membebaskan mu tanpa kekangan lagi, jangan meminta hal lebih, karena sampai kapan pun daddy tak ingin berurusan lagi dengan keluarga davidson."
Clarissa mendengus. "Oh ayolah dad, come on, tidak bisakah kamu lupakan saja? semuanya sudah berlalu."
"Tidak!" Edward yang semula membelakangi putrinya, berbalik dengan wajah berang.
"Bagiku harga diri adalah yang terpenting dan harus di junjung tinggi. Tapi Erick dan Rey sudah menghancurkan harga diri ku habis-habisan ketika mereka mempermalukan keluarga kita di muka umum saat pertunangan mu. Mana bisa daddy melupakan nya!"
"Tapi dad ... " Clarissa masih berusaha untuk membujuk.
"Sekali tidak, ya tidak!" tegas Edward pada sang putri.
Clarissa menghela nafas, lelah. Ia kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku tak akan memaksa lagi. Mungkin rasa sakit mu membuat mu tak bisa memberikan maaf dengan muda. Tapi ingat lah satu hal ini dad. Sejak dulu daddy dan paman Rey adalah sahabat dekat, ku harap begitu pun sampai sekarang. Daddy mungkin sudah melupakan nya, jadi ku ingatkan kembali bukan karena apa-apa tapi semata-mata hanya ingin membuka mata hati mu. Dulu, berpuluh tahun yang lalu, apakah daddy ingat? saat itu perusahaan mu sedang masa di ambang kehancuran, hingga terpaksa kita kembali ke Kanada untuk mu memulai kembali masa kejayaan. Dan di saat itu siapa yang paling mendukung? ... "
Edward bergeming masih dengan kearoganan di dalam hatinya.
"Paman Rey, right? aku masih ingat ketika daddy sangat-sangat berterima kasih atas bantuannya, aku bukannya ingin mengungkit kembali kebaikan yang sudah terjadi berpuluh tahun lalu, tapi aku ingin daddy coba merenung dan memahami apa yang ku ucapkan,"
"Saat ini apa yang terjadi padamu berpuluh tahun lalu terjadi juga pada Erickson. Para investor itu ingin menyingkirkan Erickson dari posisi nya, tak ada yang membantu semua orang yang pernah di tolong Erick berkhianat padanya. Bisa kamu bayangkan posisi mu berpuluh tahun lalu kini juga di rasakan Erick. Dengan bantuan daddy lah yang bisa menyelamatkan posisi krisis Erick saat ini, terlebih Erick saat ini sendiri karena paman Rey tidak bisa berada di sampingnya.
Edward membulatkan mata, ia menatap putrinya.
"Memangnya di mana Rey sekarang berada?"
"Paman Rey sedang di rawat di rumah sakit. Beliau mengalami kecelakaan."
__ADS_1
"Apa?!" Edward sontak terkejut.
"R- Rey kecelakaan?"
"Iya dad. Dan di saat ini Erickson membutuhkan dukungan kita, ku mohon daddy, bantulah Erick."
...--------Oo-------...
Suasana di perusahaan makin memanas. Banyak kalangan petinggi tak setuju dengan ide yang di beberkan Erick, mereka tetap ingin Erick mengikuti saran mereka untuk menjual sebagian saham besar pada investor yang sudah mereka rekomendasi kan dan setujui,tapi dengan begitu tak bisa mempertahankan posisinya di periksa, sedangkan hanya itu satu-satunya cara untuk membayar kerugian akibat ulah Sarah yang melakukan transaksi jual-beli saham ilegal.
Erick tetap pada pertahanan dan pendiriannya, hingga akhirnya konferensi pun terpaksa di tunda dahulu sampai jam makan siang.
Di ruangannya, Erick masih berkutat di depan laptop dan tumpukan kertas di hadapannya.
Zidan tiba-tiba mengetuk pintu.
"Masuk," ujar Erick tanpa mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"Selamat siang, pak. Ada yang ingin menemui anda," ujar Zidan memberi laporan.
"Siapa?" tanya Erick, penasaran akhirnya ia pun mengalihkan perhatian.
****
Suasana di kantin eksekutif terlihat lengang, Erick sengaja meminta untuk mereka duduk di meja paling ujung, agar tak ada yang mendengar obrolan mereka.
Tak! Erick menaruh cangkir teh yang baru di seruput isinya setengah, di atas tahanan cangkir berbahan keramik.
"Ada apa kalian menemui ku?" tanya Erick to the point, ia tak ingin membuang waktu karena jam makan siang tersisa lima belas menit lagi dan masih banyak yang harus ia lakukan.
"Songong sekali ucapan mu, tak tahu jika kami hendak berniat baik?" sungut Edward yang masih setengah menyimpan perasaan kesal pada Erick. Setelah kejadian pertunangan Erick dan putrinya yang gagal, Edward tak pernah bertatap muka lagi dengan pria itu, hingga kini akhirnya mereka bertemu kembali setelah sekian lama.
"Maaf. tapi aku tak tahu niat baik yang hendak anda utarakan, dan waktu ku tak banyak." pungkas Erick, sedikit tersinggung dengan nada ketus teman ayahnya itu.
"Ahaha, begini Erickson ... " Clarissa menyela tak ingin sampai terjadi keributan di antara mereka.
"Kedatangan kami kesini, ada maksud dan tujuan," ucap Clarissa kemudian.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Erick kini mulai melembut.
"Daddy ku berniat untuk membantu memperbaiki masalah internal yang sedang terjadi di perusahaan mu. Dad, katakanlah sesuatu," pinta Clarissa pada ayahnya.
Ekhem! Edward berdeham cukup keras sebelum mengeluarkan suaranya.
"Begini, Clarissa sudah menjelaskan apa yang sedang terjadi pada perusahaan mu. Mengingat aku dan ayahmu adalah teman baik, aku berniat untuk membantu mu."
"Itu tak perlu," ucap Erick. "Saya bisa mengatasinya sendiri."
Edward mendelik. "Sombong sekali kau. Tidak kah kau tahu demi mu Clarissa sampai memohon padaku untuk membantu mu!"
"Nah itu point nya. Aku tak percaya jika kau dengan mudah menawarkan bantuan dengan embel-embel permohonan dari Clarissa dan ternyata dugaan ku benar. Aku tak bisa menerima bantuan nya jika bukan langsung dari keinginan mu."
"Kurang ajar!" Edward murka, ia berdiri dari duduknya.
"Kau lihat Clar, betapa songongnya anak ini. Percuma memberikan bantuan padanya, lebih baik kita pergi."
"Tunggu dad. Biarkan aku bisa pada Erickson dulu. Ku mohon tenangkan dirimu."
Edward menahan gejolak amarahnya pria itu bersedia duduk kembali. Sementara Clarissa menarik Erick untuk bicara empat mata dengannya.
***
"Ku mohon Erickson. Turunkan dahulu egomu."
"Apa maksudmu Clar?!" Erick tak terima di bilang seperti itu.
"Kau tahu kan bagaimana hubungan ku dengan ayah mu akhir-akhir ini? jika memang beliau mau membantu tapi tak ada niat darinya langsung, lebih baik jangan. Itu seolah-olah aku sedang sangat mengemis bantuan."
"Bukan begitu, kau salah menafsirkan." Clarissa memegang tangan Erick.
"Cobalah untuk memahami nya dulu. Aku sudah menceritakan semua yang sedang terjadi pada ayahku, awalnya setelah aku membujuk susah payah beliau tetap menolak untuk membantu mu, tapi setelah mendengar paman Rey mengalami kecelakaan. Ayah ku tidak bisa mengabaikan perusahaan yang menjadi impian besar sahabatnya itu, terlebih ayah ku masih mengingat kebaikan paman Rey ketika saat itu perusahaan kami mengalami krisis keuangan dan akan bangkrut, ayah mu lah yang pertama mendukung dan membantu ayah ku hingga akhirnya perusahaan kami bangkit dan bisa besar seperti sekarang."
"Jadi bukan karena aku membujuknya ayah ku mau membantu tapi itu semata-mata adalah karena persahabatannya dengan paman Rey dan hutang budi yang ingin di bayar kan."
Erick menoleh setelah mendengar penjelasan panjang lebar Clarissa.
__ADS_1
Wanita itu menatap lekat sambil mengangguk pasti. "Kau mau kan menerima bantuan kami?"