
"Aku ingin ke panti asuhan sebelum kita ke luar kota, apa boleh?"
Marvin menoleh, tergelak dengan permintaan Elena yang tiba-tiba. Pria dengan tinggi 180 cm itu mengulum senyum, duduk di pinggir brankar gadis bersurai panjang tersebut.
Sebelumnya Marvin dan Dea sudah berdiskusi dan berunding dengan Elena agar bisa membawanya pergi dari kota ini. Awalnya Elena menolak namun setelah di beri pengertian dan alasan untuk penyembuhan mentalnya yang terganggu, Elena akhirnya setuju.
Marvin dan Dea sepakat, tak kan ada yang akan menyinggung tentang Erick dan keluarga davidson ataupun yang berhubungan dengan mereka di depan Elena. Marvin dan Dea benar-benar berjuang agar Elena bisa melupakan kesakitan dan kesedihannya.
"Kenapa? kamu merindukan suasana panti?" Marvin dengan lembut menyingkap beberapa anak rambut yang menutupi kening Elena, keduanya saling memandang cukup lama kemudian tangan besar Marvin mengelus pipi Elena dengan perasaan sayang. Namun gadis itu merasa risih, Elena dengan perlahan menyingkirkan tangan Marvin membuat pria itu terkesiap, menatap sebentar lalu mengerti jika Elena tak menyukai tindakannya itu.
"Maaf ... " ujar Marvin pelan, Elena hanya mengangguk kecil.
"Jika kamu ingin melihat panti pasti akan kakak kabulkan, tapi kamu bisa janji?"
"Janji apa?" mata jernih nan polos mengerjap antusias. Marvin terkekeh sesaat merasa gemas.
"Berjanjilah untuk selalu bahagia, jangan ada kesedihan lagi dan jangan pernah mengingat hal yang membuat mu sedih."
Elena awalnya diam membisu hanya mampu menatap Marvin dengan perasaan ragu,lalu pada akhirnya gadis itu mengangguk.
"Melupakan hal yang membuat mu sedih, itu berarti melupakan Erickson ... apakah kau mampu Elena?" batin Marvin menatap sendu, ia beranikan tangan besarnya untuk menggapai tangan mungil Elena, menyatukan jemari mereka kali ini wanita itu tak menolak, Marvin meremat lembut menyalurkan kehangatan di sana.
"Terimakasih kak." Elena menarik sudut bibir sekilas, matanya masih di penuhi oleh kekosongan. Trauma yang di berikan juga mengingat kesedihannya kehilangan orang-orang tersayang menyerangnya secara bersamaan benar-benar membuat mentalnya terguncang.
Mungkin ini memang jalan terbaiknya, sebentar lagi aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk kota ini, panti, segala kenangan yang tercipta dan juga padanya.
Elena tersenyum getir.
***
Di mansion. Clarissa dengan sangat sabar terus berada di samping Erick yang semakin hari terlihat semakin terpuruk.
"Dulu, saat ia masih remaja, Erickson mengalami gangguan kecemasan berlebih itu semua adalah murni kesalahan ku ... " papa Rey bicara dengan mata berkaca-kaca, tak tega melihat putranya yang seperti ini.
"Aku selalu menekannya bahkan sejak usianya masih kanak-kanak aku terus memberikannya ekspetasi yang harus ia gapai bagaimanapun caranya. Ketika aku melihatnya kalah perlombaan di sekolahnya aku menjadi sangat marah, dan memintanya terus belajar giat agar selalu menjadi nomor satu." papa Rey menjeda sejenak ucapannya tak kuasa kerongkongannya mengeluarkan suara lagi.
"Ku pikir semua ajaran juga kedisiplinan yang ku ajarkan sejak dini, akan berdampak baik untuk kehidupan masa depannya, tapi ternyata itu juga yang mendatangkan dampak buruk untuk psikisnya."
"Jadi Erickson sudah mengalami anxiety sejak dulu?" sahut Clarissa ketika hening cukup setelah Rey bercerita.
__ADS_1
"Ya. Erickson adalah kebanggaan uncle, Clar. Di adalah masa depan cerah the Davidson's company dan keluarga ini. Uncle terlalu memberi banyak beban padanya, Erickson tak pernah mengeluh, tapi justru diamnya itulah yang menjadi boomerang untuk kesehatan mentalnya."
"Yang terjadi saat ini mungkin bukan karena urusan pekerjaan atau apapun. Hanya karena seorang wanita, tapi itu sanggup membuat putraku hingga seperti ini." Rey mengenggam tangan Erick yang tengah tertidur.
"Ya tentu saja uncle ... Elena setengah jiwa Erickson. Ketika setengah jiwa itu di rebut paksa dari tubuh, hanya kegilaan yang terjadi."
"Bagaimana pun sekarang, kita harus membawa Erick pergi dari negara ini, untuk terapi bersama psikolog pribadi nya untuk menghilangkan rasa sakitnya."
"Uncle benar. Apapun yang terbaik yang harus di lakukan."
Rey menoleh menatap Clarissa. "Kau selalu bersama Erickson dan berada di sampingnya, untuk itu uncle mengucapkan banyak terimakasih."
"Tidak perlu. Bagaimanapun aku mencintainya uncle, meski dia tidak bisa membalas cintaku, Erickson akan selalu menempati posisi penting di hatiku."
Rey memandang sendu merasa kasihan, cinta putri sahabatnya untuk putranya ini memang sangat tulus. Tanpa meminta imbalan ataupun berharap pembalasan cinta yang sama. Sayang, cinta memang tak bisa untuk di paksakan.
***
Kijang Innova keluaran terbaru milik Marvin berhenti mulus di pekarangan panti asuhan. Elena duduk di samping kursi kemudi, lagi-lagi dengan tatapan kosong. Ketika Marvin menoleh untuk melihatnya, pria itu mengesah sesaat.
"Hei, kita sudah sampai ... " Marvin menjettikan jarinya di depan wajah Elena, hingga gadis yang semula tengah melamun itu tersadar.
Marvin mengulas senyum. "Iya, makanya kamu jangan melamun terus."
"Maaf ... " lirih Elena pelan.
Marvin tak menanggapi lagi, "Ayo kita keluar. Kamu pasti sudah merindukan anak-anak kan?"
Elena mengangguk, mereka keluar dari mobil dengan membawa begitu banyak bingkisan hadiah, ritual yang selalu Elena lakukan dulu ia mengingat bagaimana senyum ceria anak-anak panti saat menerima hadiah darinya, dan ia merindukannya.
Saat baru menginjakkan kaki ke jalan kecil menuju halaman pengurus panti melihat kedatangan Marvin dan Elena, kebetulan anak-anak di sana sedang berkumpul.
"Eh, lihat siapa yang datang?"
Mendengar seruan pengurus panti, sontak anak-anak manis itu menoleh, wajah-wajah polos dan lugu itu nampak sumringah seketika.
"Wahh!" mereka berseru bersamaan, bersorak ria heboh lalu berduyun-duyun menghampiri Elena dan Marvin.
"Hei, kalian apa kabar?!" Marvin menyalami mereka lebih dulu, mengusap satu persatu wajah penuh riang itu.
__ADS_1
"Masih ingat kakak kan? jangan bilang cukup lama gak berkunjung kalian jadi lupa."
"Enggak dong! kita ingat sama kakak dokter!" sorak mereka bersama.
Marvin tersenyum senang. "good!"
"Dan ini ... " Marvin melihat ke samping. "Elen, kamu tidak ingin menyapa mereka?" melirik gadis bertubuh mungil di sampingnya yang lagi-lagi terlihat melamun Marvin menyenggol lengannya.
"Oh ya ... " Elena tersadar. "Halo, bagaimana kabar kalian?" Elena melambai tangan pada anak-anak itu.
"Baik kakak Elena!" mereka menyahut kompak, Elena tersenyum kecil.
"Nah, kakak berdua kesini, bawa banyak hadiah untuk kalian!" seru Marvin kepada anak-anak itu.
Sementara mereka terlihat sibuk, Elena justru merasa hampa. Ia seakan terjebak dengan dunianya sendiri, nampak sangat ia hanya menatap kosong.
Tiba-tiba saja ada yang menarik ujung gaunnya.
"Kakak ... kakak!" seorang bocah perempuan kira-kira berusia 6 tahun mendongak padanya, gadis cilik berkuncir dua itu nampak sangat menggemaskan.
"Temani Nayna main ayunan di sana mau tidak?" bocah yang menamai dirinya Nayna itu nampak sedang membujuk Elena menunjuk taman bermain tak jauh dari panti asuhan ini.
Awalnya Elena bergeming, mimik wajahnya menunjukkan kebingungan dan keraguan, namun Marvin segera mendorongnya.
"Pergilah," ujar pria itu. Akhirnya Elena tak punya pilihan lain, saat ia mengangguk gadis cilik itu sudah menarik tangannya menjauh dari kerumunan yang lain.
...***...
"Yeah!" seru Nayna riang, saat Elena mendorong ayunan yang ia naiki.
"Lebih tinggi! lebih tinggi!" Nayna bertepuk tangan. Elena bisa tersenyum karena melihatnya.
Ah, ini mengingat kan Elena kenangan bersama neneknya dulu. Tanpa terasa, matanya berkaca-kaca mengenang kebersamaan singkatnya bersama sang nenek, sebelum Tuhan mengambilnya ketika Elena masih berusia 9 tahun saat itu.
Sampai tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya dari belakang, membuat Elena berjengit kaget, kontan ia menoleh.
"Elena ... " seseorang menyebut namanya.
"Kau?"
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukan mu." orang itu tersenyum.