Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 49


__ADS_3

Pagi ini hari yang di nanti Mona dan ibunya. Erick sudah pergi meninggalkan mansion untuk kontrak tanda tangan kerjasama di luar kota, selama tiga hari atau bisa lebih dari itu jika memiliki kendala.


Dan siang ini. Elena terlihat sendiri saja di mansion. Meski hari biasa pun seperti itu karena Erick di kantor, tapi kali ini berbeda karena Erick benar-benar tak ada di sekitar wanita itu.


Mencuri pandang pada Elena yang sedang menyibukkan diri membuat kue di dapur, Sarah dan Mona segera menelpon seseorang dari balik tembok tempat mereka mengintip.


"Ini saatnya." Hanya itu di katakan Sarah pada seseorang yang ia telepon. Mona terlihat sangat senang di samping, berharap rencana ini akan berjalan mulus.


***


Elena terlihat begitu terlena dengan apa yang ia lakukan. ia mengaduk adonan kedua untuk kue kering yang akan ia buat. Begitu banyak bahan yang tersedia di sana, dukungan Erick pada hobinya ini membuat Elena semakin kuat untuk mengembangkan potensinya tersebut.


Elena ini bisa dikatakan wanita serba bisa, ia manusia yang tak bisa diam, setiap saat ada saja ide atau sesuatu yang ingin ia kerjakan. Hidupnya benar- benar produktif.


Sampai ketika ia hendak mengangkat panggangan dari oven yang sudah berdenting menandakan kue yang di buatnya telah matang. Elena menjeda gerakannya ketika menyadari ponsel yang berada di saku apron yang di kenakannya berdering.


Elena kemudian melepas sarung tangan nya dan melihat siapa yang menelpon, wajahnya mengkerut dalam ketika tahu nomor tidak di kenal yang tertera di layar, kontan saja ia menekan ikon merah dan menaruh kembali ponselnya, karena menurutnya tak penting, dan bisa saja itu adalah penipuan yang sedang marak akhir-akhir ini.


Namun suara dering ponselnya tak kunjung berhenti. Berusaha mengabaikan tapi akhirnya karena kesal juga di rundung penasaran ia mencoba mengeceknya. Jika memang penipu dia akan langsung memblokir nomor tersebut.


"Halo ... " suara serak di sana menyapa. Elena memicing dengan air muka berubah berang.


"Untuk apa kau menelpon ku?!" desisnya.


"Bisakah kita bicara sebentar, Elena. Ku mohon." Yang menelpon adalah Vicky.


Elena sama sekali tak mengerti bagaimana bisa Vicky mendapatkan nomor barunya ini.


Sementara di balik tembok tak jauh dari tempat Elena berdiri. Sarah dan putrinya menunggu dengan was-was juga berdebar-debar.

__ADS_1


"Mom, apa si Vicky itu bisa meyakinkan Elena untuk pergi?"


"Kita coba lihat dulu, kalau tidak bisa kita pakai opsi cadangan." Wanita berusia 61 tahun itu memang mempunyai banyak rencana jahat. Tak mengherankan, Sarah memang terkenal licik sejak dulu. Bahkan ia tega merebut Rey Davidson ketika sahabatnya sedang berjuang untuk melahirkan putra pria itu. Benar-benar peran antagonis dalam sebuah film sangat cocok di sematkan untuknya.


"Eh, lihat si kumuh itu pergi mom." seru Mona terlonjak.


"Yes. Berarti si Vicky berhasil membujuknya." Sarah bersorak kecil.


"Lalu apa selanjutnya mom."


"Sekarang biarkan Vicky yang melakukan tugas nya. Kita kembali, jika berhasil dia akan mengirimkan foto nya pada kita." Sarah menyeringai penuh sirat.


...***...


"Maaf jika aku harus memaksa mu dulu hingga kita bisa bertemu." Vicky terlihat tak enak hati.


"Jangan basa-basi. Apa yang kau inginkan?" Elena nampak acuh. Jika saja Vicky tidak mengancam di telepon akan nekat datang ke mansion untuk menyusul nya, Elena tak akan mungkin mau menyetujui untuk bertemu pria itu. Yang di khawatirkan nya adalah, Vicky merupakan pria yang nekat, ia sangat tahu itu, takut jika Vicky sampai berbuat macam apalagi sampai nanti lelaki itu bertemu Mona dan ibu mertua nya, Elena tak mau mereka jadi salah paham.


Tenang Vicky. Kau hanya perlu mendapatkan foto mesra dengan Elena, setelah itu pergi.


"Mmm ... mau minum dulu," tawar Vicky berusaha mengukir waktu.


Elena merasa tak curiga sama sekali. Melihat penampilan Vicky yang begitu memperhatikan ia berfikir jika pria itu benar-benar mengalami hal yang sulit hingga di telepon pun pria itu mengatakan jika ingin meminta bantuannya. Elena pun menimang, mungkin tak ada salahnya percaya kali ini.


Vicky tersenyum puas ketika melihat Elena yang berhasil menengguk minuman yang ia tawarkan. Tidak tahu saja jika minuman tersebut mengandung sesuatu yang sebenarnya ia pun kurang tahu hanya mengikuti instruksi dari nyonya Sarah. Namun yang Vicky dengar dari penjelasan nyonya Sarah sekilas, minuman itu akan membuat Elena seakan mabuk, efeknya adalah pusing dan halusinasi.


"Maaf Elena. sebenarnya aku agak tak tega, tapi ini demi segepok uang yang di janjikan nyonya Sarah dan balas dendam ku pada suami mu."


"Cepat katakan lah, bantuan apa yang kau perlukan dari ku," ucap Elena setelah menandaskan setengah lemon ice tes yang di berikan Vicky.

__ADS_1


Namun sepintas ia mulai merasakan penglihatan nya yang mengabur, kepalanya terasa berat. Ada apa ini?


"Sebenarnya Elena aku ingin meminta bantuan mu ... bla ... bla ... bla."


Elena tak bisa lagi mendengar perkataan Vicky dengan jelas. Suaranya seperti tertelan oleh kebisingan yang tiba- tiba berkerumun di kepala Elena.


Bruk! gadis itu hampir saja jatuh terhuyung jika saja Vicky tidak menyanggah pundaknya.


"Elena kau tidak apa-apa."


"Aku ... aku merasa ... " akh. Elena mengerang ketika denyut luar biasa menghinggapi kepalanya.


Vicky akhirnya memapah Elena, membiarkan gadis itu yang setengah teler dan berkicau sendiri. Mungkin itu adalah efek yang di timbulkan obatnya.


Setengah hati Vicky memang merasa bersalah.Tapi bagaimana lagi? menurutnya sudah terlanjur basah sekalian saja menyelam.


...***...


Sampai pelataran sudah ada mobil taksi yang menunggu. Vicky memasukan Elena dengan sedikit kepayahan. Ia biarkan mobil taksi itu melaju karena sudah tahu tujuannya akan kemana.


Sampai di sebuah hotel. Vicky kembali memapah Elena, kali ini Elena mulai menunjukkan tanda-tanda halusinasi. Ia mengira yang menopang nya adalah Erick, suaminya.


"Mas Erick kenapa kamu ada di sini? bukankah kamu masih di luar kota untuk urusan bisnis?" perkataan melantur Elena persis seperti orang mabuk.


Vicky yang mulai gelisah. Mulai melaksanakan tugas terakhir nya dengan tergesa-gesa.


Di kamar hotel yang sudah di persiapkan. Elena di baringkan nya di kasur, dia sendiri membuka bajunya hingga menampilkan dadanya yang bertelanjang.


Vicky mulai mengarahkan kamera ponsel dan mendekatkan nya pada Elena, memposisikan nya dengan angel yang begitu dekat dan inntim, seakan mereka sedang bercumbu mesra. Di keremangan lampu redup semakin mendukung apa yang sedang ia lakukan, mengambil foto mesra sebanyak yang ia bisa.

__ADS_1


Tentu Vicky tak berani untuk berbuat lebih. Setelah beberapa foto ia dapatkan, segera pria itu memakai bajunya kembali. Dan pergi dari sana dengan meninggalkan Elena yang nampak memejamkan mata, tak sadarkan diri.


__ADS_2