
Keluar dari kabin pesawat, Erick menghirup nafas dalam, merasakan udara segar tanah airnya kini setelah kurang dari seminggu berada di london. pria bertubuh kekar itu membuka kacamata hitamnya dengan gaya keren, membuatnya menjadi pusat perhatian saat ini dengan banyaknya lirikan genit para perempuan yang menatapnya.
"Elena, aku kembali," gumamnya dengan penuh semangat dan perasaan lega. Ia seperti di lahirkan kembali, tak ada lagi perasaan cemas dan depresi seperti minggu lalu.
Ternyata dengan hanya perkataan dan satu nasihat bisa membuat seseorang merubah pola pikirnya dan itulah yang terjadi padanya.
Ia pikir, akan mulai melakukannya lagi dari awal. Yang terpenting saat ini adalah mengetahui di mana keberadaan sang istri dan menjemputnya kembali ke sisinya.
"Sampaikan pada sekretaris saya, Zidan. Saya menunggu nya di airport." titahnya pada sang utusan yang menemaninya dalam perjalanan kembali.
"Baik, tuan." urusannya itu mengangguk lalu menjalankan perintah.
...***...
Di mansion. Mona tanpa tedeng perasaan malu mengajak Vicky saat orang tuanya sedang tak ada. Kesempatan, pikirnya. Apalagi saat ini ketidakhadiran sang kakak semakin mempermudah kannya menyusupkan Vicky ke dalam mansion, tepatnya ke kamarnya.
Vicky yang baru pertama kali memasuki istananya para kolongmerat, menatap takjub dengan semua yang ada di dalam mansion. Dia tertawa senang dalam hati, merasa sangat di berkahi. Sudahlah menikmati tubuh Mona dengan gratis ia juga jadi kecipratan kekayaan wanita itu, ini sangat menguntungkan nya, Vicky tak perlu lagi merasakan mual saat terpaksa harus menjadi simpanan tante girang demi mendapatkan uang mereka karena ia yang malas kerja namun ingin terus hidup foya-foya.
Tapi sekarang, itu tak di butuhkan lagi, dengan hanya mengeluarkan sedikit pesonanya saja bisa membuat wanita muda haus belaian seperti Mona takluk di bawah kungkungan nya.
"Wow, mansion mu benar-benar sangat spektakuler, baby. Boleh dong aku tiap hari mengunjungi atau jika mau tinggal di sini selamanya, menemanimu." celetuk Vicky, mendaratkan bokongnya di kasur empuk kamar Mona.
__ADS_1
"Tidak, kau sudah gila?!" Mona mendesis. "Aku bisa matti jika begitu." ia melotot kaget.
"Memangnya kenapa sih?" Vicky santuy saja meski sudah tahu jawabannya.
"Kau mau kita di penjara? saat ini kakak ku sedang memburu mu, ini saja aku membawa mu karena dia sedang tak ada di rumah." ungkap Mona, sebenarnya ia agak takut dengan membawa Vicky kesini seolah sedang menantang nyawanya sendiri. Namun apa daya sebulan mereka menjalani hubungan Mona seolah tak pernah puas untuk melakukan hubungan inttim bersama Vicky, ia selalu tersiksa saat jauh dari pria itu. Mona selalu ingin lebih dan lebih jika di samping Vicky. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini, hanya dengan pria itu Mona sampai rela melakukan hal senekat ini.
"Hufft, sebenarnya pelet apa yang di gunakan si Vicky itu sampai aku bisa seperti ini ya?" batin Mona bermonolog sendiri, menatap pria itu.
"Tentu karena dia tampan dan juga bisa memuaskan ku." pikirnya lagi lalu mengangguk-angguk setuju dengan opininya tersebut.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri kaya gitu sayang?" Vicky mengajukan pertanyaan melihat tingkah wanita di hadapannya.
"Tidak ... tidak ada." Mona cepat-cepat menelengkan kepalanya.
"Wah, benarkah?" mata keranjang Vicky berbinar terang.
"Ugh, jika begitu aku tak sabar untuk bercinnta dengan mu sayang ku," ucapnya tanpa rasa malu lagi.
Mona tertawa-tawa senang, ia mengangguk seperti anak anjing yang patuh.
Lalu mereka melakukan perbuatan serong itu dengan sangat panas nya, bersama Vicky, Mona semakin berpengalaman dengan aktivitas di atas ranjang, begitupun Vicky yang selalu terpuaskan dengan tubuh seksssi Mona.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, karena terlalu asyik dan hanyut dengan aktivitas bercinnta mereka, Vicky dan Mona lupa untuk mengunci pintu kamar, akibatnya tanpa keduanya ketahui saat ini ada yang tengah mengintip di cela pintu dengan pupil mata membesar dan tubuhnya yang bergetar.
"A- apa yang kulihat ini?" suara salah satu maid yang semula hanya lewat rapi setelah mendengar suara dessahan di kamar nona nya itu membuat ia tak sadar melihat semakin jelas apa yang tengah mereka lakukan.
Otak maid itu seakan ngeblank seketika lalu sekian detik kemudian ia tersadar, mengambil ponsel yang ada di kantong celemek yang di pakainya lalu mengarahkan kamera ponselnya tersebut, merekam kejadian yang ada di dalam sana.
"Nona Mona sangat jahat kepada nyonya muda, aku akan melaporkan perbuatan nya ini ke tuan Erick agar dia di hukum." pikirnya tanpa panjang lebar lagi.
Maid bernama Nafisah itu sangat tahu dan menjadi saksi bisu atas kemalangan yang terjadi pada Elena di mansion ini.
Selama Elena ada di sini, nyonya muda nya itu sangat baik padanya dan maid yang lain, setidaknya dengan ini Nafisah bisa membongkar kebusukan orang- orang yang telah menganiaya nyonya mudanya itu di mansion ini.
Tanpa maid itu duga, ia menubruk seseorang ketika berbalik setelah berhasil mendapat video yang telah di rekam nya.
"P- pak Zidan." maid itu segera tersadar melihat orang yang tak sengaja bertubrukan tubuh dengan nya.
Alih-alih ikut terkejut Zidan justru menyeringai penuh makna.
"Kau terlalu fokus merekam sampai tidak menyadari kehadiran ku ya?"
Mata Nafisah membeliak. "P-pak Zidan melihat? maafkan saya!"
__ADS_1
"Ssstt! kecilkan suara mu, mereka bisa mendengar!" Zidan terlihat santai saat menaruh telunjuk di bibir.
"Hhmm ... bolehkah aku meminta rekaman mu itu?" ujar Zidan kemudian dengan seringai yang kembali ia tujukan membuat Nafisah menatap ngeri padanya.