
"Ini kamar tuan muda dan nyonya muda. Saya akan panggil kan pelayan untuk mengemasi baju ganti nyonya muda. Anda tunggulah di sini."
"Baik." sahut Dea, setelah itu pak Pandu meninggalkannya.
Kedua netra Dea berbinar menyapu ke sekeliling ruangan megah tempat kini Elena tinggal.
"Kau benar-benar beruntung sahabat ku, bisa menikahi seorang kolongmerat yang menjamin kehidupan mu." gumam Dea, ia telah menjadi saksi atas begitu banyak kesakitan yang di alami Elena dulu, itu sebabnya ia mengucapkan banyak syukur sahabat nya yang kini sudah bahagia.
Saat asyik melihat ke sekitar, tiba-tiba ada yang menyenggol bahu Dea dari belakang membuat gadis itu terhenyak, refleks menoleh.
"Hei, enak banget ya bisa curi-curi pandang di mansion ku." Mona dengan kedua tangan bersidekap, memandang angkuh pada Dea saat ini.
Namun justru Dea mengerutkan kening nampak aneh melihat Mona. "Maaf siapa ya? aku gak kenal."
"What's! kau bilang gak kenal aku?!" Mona menggeram kesal.
"Hei kumuh, ingat ini. Aku adalah Mona terra Davidson, adik dari Erick davidson, pemilik mansion megah yang sedang kau pijak saat ini, ingat itu baik-baik." tukas Mona seraya menghadang wajah Dea dengan telunjuknya.
"Kau boleh memperkenalkan diri dengan secara baik-baik, tapi tidak dengan nada menghina seperti itu," pungkas Dea dengan mengibas telunjuk Mona dari wajahnya membuat warna muka gadis itu memerah padam.
"Kau!!"
"Ada apa ini nona muda?" seruan dari pak Pandu menghentikan aksi Mona.
"Tidak apa-apa pak Pandu. Hanya saja tolong peringati wanita kumal ini untuk menghormati ku."
"Maaf jika teman nyonya muda menganggu anda," ucap pak Pandu.
"No problem pak Pandu, bukan salah mu." mendadak sikap Mona yang semula slengean berubah drastis menjadi sok elegan.
"Aku memang sudah menduga gadis- gadis pinggiran kota seperti mereka itu memang tidak punya sopan santun, huh." Mona melongos dengan mencebik.
Dea menggertak gigi kesal. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Oh ya kau mau mengambil baju ganti si kumuh itu kan?"
"Jangan memanggil sahabat ku si kumuh. Dia punya nama dan dia adalah kakak ipar mu." desis Dea memperingati sekaligus terkejut dengan perilaku adik Erick yang sangat jauh dengan ekspetasi nya.
"Yayaya, apapun itu." Mona memutar bola mata. "Pak Pandu bilang pada pelayan untuk mengemasi baju kakak ipar ku ... " Mona menekankan kata terakhirnya.
"Di kemasi semua nona muda?" tanya pak Pandu terkejut.
"Yap. karena sebentar lagi dia juga akan di tendang dari mansion."
Dea melongo tak percaya dengan apa yang di ucapkan Mona, gadis itu kemudian pergi dengan senyum sarkastik sambil berlenggak-lenggok, meninggalkan Dea dengan masih keterkejutannya.
__ADS_1
...***...
Atas perintah Mona, semua baju-baju Elena di kemasi di dalam koper. Pak Pandu sendiri pun tak berdaya jika itu menyangkut keinginan anak bontot davidson, karena selalu apa yang di ucapkan Mona tak pernah bisa untuk di bantah.
Dea menatap sedih saat melihat semua pakaian Elena di keluarkan dari lemari untuk di pindahkan dalam koper.
"Orang- orang kaya itu, mentang- mentang mereka mempunyai kekuasaan bisa memerintah seenaknya." gumam Dea berang.
"Maaf ya nona Dea. tadi nona muda sudah mengultimatum untuk semua pakaian nyonya muda di kemasi, saya tidak punya kuasa untuk menolak," lirih pak Pandu.
"Tidak apa-apa ini bukan salah bapak. Saya tahu pak Pandu juga tak berdaya. Tapi ... saya ingin bertanya, apa semua orang di mansion ini selalu memperlakukan Elena dengan buruk? apa mereka tidak menerima Elena dengan tulus."
Pak Pandu hanya bergeming. "Maaf nona, saya tidak punya kuasa untuk menjawab pertanyaan anda."
Dea membuang nafas kasar, melihat sikap Mona sebenarnya. Jadi membayangkan bagaimana jika ia di posisi Elena. Jika benar sikap mereka seperti itu kepada sahabatnya ia benar-benar sangat menyayangkan.
...***...
Di rumah sakit. Entah sejak kapan, Elena kini ikut berbaring di samping tubuh Erick yang masih terbujur kaku bersama alat-alat yang kini menopang kehidupan nya.
Dengan air mata yang kembali menganak sungai, dadanya terasa sesak saat melihat sang suami yang saat ini berjuang antara hidup dan mati.
"Mas ... kumohon bukalah matamu, aku mohon ... " Elena tak bisa lagi untuk sekedar melanjutkan ucapannya, tenggorokan nya terasa tercekat.
Sampai tiba-tiba mata Erick yang terpejam perlahan terbuka. Elena terlonjak, tangan besar Erick kemudian mengambil alih tangan nya mengenggam erat.
Air mata Elena kembali luruh satu-satu. Ia sangat bahagia ketika Erick menolehkan kepalanya, menatapnya dengan senyum penuh binar cinta.
"I- i love you." suara Erick yang lemah hanya terlihat gerakan mulut pria itu yang menyatakan cinta untuk Elena.
Elena tersenyum penuh haru. "I love you to ... i love you to."
Namun naas semua itu hanya delusi mimpi semata.
Elena terbangun dengan peluh membanjiri keningnya, menyapu ke sekitaran ia masih ada terbaring di atas brankar Erick, di samping sang suami, namun Erick sama sekali tak bergerak.
Suara denyut melengking dari monitor elektrokardiograf di sampingnya membuat Elena terlonjak kaget.
Ia segera bangkit, keterkejutannya semakin bertambah saat melihat garis grafik di layar EKG berubah lurus, Elena yang panik segera memencet tombol yang tersedia di atas brankar.
"Dokter ... Tolong dokter!"
***
"Bagaimana keadaan putra saya dok? apa yang terjadi?" tanya tuan Rey cemas. Setelah di beritahukan kondisi Erick, ia segera buru-buru datang. Ada Mona juga dan Sarah yang juga ikut gelisah.
__ADS_1
Untuk sesaat dokter menghela nafas panjang.
"Semuanya sudah kondusif, pasien hanya mengalami sedikit kejutan, sekarang kondisinya sudah stabil."
Mereka akhirnya bisa bernafas lega.
***
"Ini semua pasti gara-gara lo ya kan?" Mona menuding Elena, memojokkan gadis itu hingga punggungnya terbentur tembok.
"Seharian ini lo yang ada di ruangan ICU, jangan- jangan lo mau bikin kakak gue mati iya? biar bisa nguasain semua harta nya, iya?!"
"Apa-apaan ini? kenapa kau menuduh sahabat ku hah?" Dea berang saat melihat Elena di pojokan, ia datang langsung menjadi tameng.
"Ini lagi si kumuh dua. Kalian berdua memang sama aja!" Mona lalu pergi dengan bersungut-sungut.
"Kamu gak apa-apa Elen?"
"Aku gak apa-apa." jawab Elena menggeleng lemah.
"Syukurlah." Dea bernafas lega.
"Makan dulu, yuk isi perut kamu." ajak Dea.
"Gak. Aku mau menemani mas Erick, De."
"Tapi kamu juga perlu asupan Elen. Sejak kemarin yang kau lakukan hanya duduk menanti Erick sambil menangis. Itu juga akan membuatnya sedih."
Elena tak menggubris perkataan Dea, gadis itu berlalu masuk kembali kedalam ruangan Erick di rawat. Dea hanya bisa mendesah kasar, percuma berkoar-koar karena Elena keras kepala.
Hingga malam kembali datang. Orang yang setia menanti Erick di sampingnya hanya Elena.
Sementara itu, tuan Edward dan putrinya Clarissa datang setelah mendapat kabar jika Erick di rumah sakit.
Sarah dan Mona menyambut kedatangan Clarissa dengan lembut dan ramah, mereka saling menumpahkan resah tentang keadaan Erick saat ini.
Awalnya Clarissa ingin melihat keadaan Erick di ruangan namun begitu tahu ada Elena di dalam nya, ia mengurungkan niat.
Lain halnya Elena, ia hanya bisa mendengar percakapan keluarga Erick dengan Clarissa di luar. Di dalam sudut hatinya ia merasa iri tentang bagaimana keluarga suaminya itu sangat begitu baik menyambut Clarissa dan ayahnya.
"Cepatlah sadar, sayang. Aku membutuhkanmu," Isak Elena mengenggam tangan Erick, mengecupnya Berkali-kali.
Hingga keajaiban terjadi, Elena terhenyak saat merasakan tangan Erick di genggamnya perlahan bergerak. Dan membuat nya semakin yakin, saat kedua mata sang suami terbuka perlahan.
Ia hendak memberitahukan kabar gembira ini, namun saat ia bangkit, seluruh tubuhnya mendadak ringan dan kepala terasa berat. Elena tak bisa mengingat apa-apa lagi ketika kedua matanya terpejam sempurna.
__ADS_1