
Elena duduk termenung di kursi tunggal dekat dengan jendela yang kini tengah menampilkan keadaan suasana hujan di luar, seakan-akan tengah menggiringi kesedihan yang saat ini ia rasakan.
"Elen ... " Dea menepuk pundaknya dari belakang, otomatis Elena menoleh, gadis itu menarik sudut bibirnya tipis ketika sang sahabat mengambil tempat di hadapannya.
"Jangan terus melamun, tak baik," ucap Dea, mengusap lengan Elena seakan menyalurkan kekuatan untuk wanita itu.
"Apa semuanya memang harus berakhir seperti ini Dea?" lirih Elena, kedua mata indahnya masih memusatkan perhatian di setiap titik embun di kaca jendela akibat hujan yang semakin menderas.
"Tak ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan Elena ... mungkin dengan semua yang sudah terjadi, akan ada hikmah di baliknya, ucap Dea, sejujurnya ia tak yakin ucapannya bisa menenangkan hati Elena yang saat ini gundah gulana, karena ia tak pandai untuk merangkai kata. Meski demikian, Dea tak ingin sahabatnya terus terjebak dalam kesedihan.
Gadis bermata kuyu itu kembali menatap kosong, tak ada lagi sepatah katapun yang di ucapkan setelah Dea berbicara. Dea jadi khawatir melihatnya.
"Makan dulu yuk ... kamu kan masih harus minum obat." Dea membujuk, Elena terkesiap sesaat menatap Dea, lalu ia mengangguk.
Dea akhirnya bisa tersenyum lega, kembali mengusap-usap lengan Elena. "ayuk ke meja makan ... "
"Tunggu!" entah kenapa saat Dea hendak beranjak Elena malah menahan tangannya, Dea kembali memutar tubuh balik menatap.
"Ada apa?"
"Bisa duduk dulu sebentar."
Firasat Dea jadi tak enak, penasaran akhirnya ia duduk kembali. Kali ini di bibir mungil Elena menerbitkan sebuah senyum, amat manis dan terlihat tulus.
"Selama ini kamu telah banyak membantu ku Dea, aku tak tahu harus dengan apa aku membalasnya. Kamu selalu ada dalam masa-masa sulit ku, tapi sekarang aku tak ingin merepotkan mu lagi ... "
"Tunggu, apa maksud mu?" perasaan Dea jadi bergemuruh tak menentu. Ia takut Elena mengutarakan sesuatu hal yang tidak-tidak.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku jadi takut." gadis itu malah bergurau.
"Aku serius Elena." Dea menekankan. "Apa maksud dari perkataan mu."
__ADS_1
Elena mengesah pelan, ia menegakkan pundak dan mulai menatap serius.
"Aku tahu tentang rencana mu yang akan segera menikah," ucapnya membuat Dea tertegun.
"Jangan kamu pikir bisa menyembunyikan kabar bahagia ini dari ku hanya demi untuk fokus kepadaku. Kamu jangan mengorbankan dirimu sendiri untuk ku De," ujar Elena sekilas terlihat kaca-kaca di mata indahnya.
"Rizal memberitahukan ku tadi pagi, dia mengatakan kalian hendak menunda rencana pernikahan karena kamu ingin fokus untuk merawat ku ... itu tidak adil." perlahan setitik air mata terjun mengenai pipinya, sebisa mungkin Elena menahan isak.
"Jangan karena diriku kamu mengesampingkan kebahagiaan mu, aku tak ingin membuat diriku sendiri menjadi beban untuk orang lain."
Raut wajah Dea meredup, embun perlahan memburam kan penglihatan, kedua gadis itu akhirnya membagi tangis bersama, Dea segera menghambur merengkuh tubuh Elena, dalam pelukannya Elena menangis terisak-isak.
"Pergilah raih kebahagiaan mu, aku sudah cukup merepotkan mu selama ini."
"Tidak, jangan katakan itu." Dea menggeleng. "Kita bukan orang asing hingga kau bisa mengatakan hal seperti itu, ingat kita adalah sahabat bahkan lebih dari saudara. Apa gunanya aku sebagai sahabat mu jika tak berada di samping mu saat masa-masa terpuruk mu."
Elena merasa sangat terharu, beruntung Tuhan mengirimkan Dea pada kehidupannya, untuk menjadi sahabatnya.
"Tak apa, kamu tak perlu melakukan apa-apa lagi, semuanya sudah cukup untuk De ... pergilah raih kebahagiaan mu sendiri, katakan pada Rizal bahwa kau sudah siap menikah, jangan menunda-nunda sesuatu hal yang baik."
...***...
"Jika kamu merindukan ku, cukup pandangi langit saat hujan turun, rasakan lah setiap titik air hujan yang mengenai wajah mu, maka itu adalah aku ... Elena mu akan selalu bersama mu."
Dengan tatapan sengitnya dan mata memerah seolah menyimpan banyak kepedihan yang ia tahan selama ini, Erick kembali mengingat perkataan Elena juga kenangannya akan wanita itu.
"Ini akan menjadi terakhir kali aku mengingat mu Elena ... " ia bergumam membiarkan wajahnya di terpa angin dingin di sertai titik embun air hujan yang jatuh membasahi permukaan kulitnya.
"Erickson ... "
Mendengar seruan seorang wanita di belakangnya, pria itu menoleh.
__ADS_1
"Kamu sudah siap? penerbangannya di mulai besok pagi, Visa dan paspor mu sudah di setujui dan Zidan yang mengurusnya. Semua sudah di persiapkan baik oleh asisten mu itu," ucap Clarissa, ia celingukan lalu wanita itu mendudukkan bokongnya di sofa sisi balkon.
Menunggu, namun Erick tak kunjung meresponnya membuat Clarissa mengembuskan nafas perlahan.
"Kau tak mau menepi, hujan semakin deras nanti kamu sakit," ujar Clarissa lagi saat Erick seakan abai untuk mendengarkannya.
"Ingat, kamu harus menjaga kesehatan tubuh mu untuk penerbangan besok." imbuhnya kemudian.
"Ya." hanya satu kalimat itu yang terucap, lugas dan terdengar tak minat. Erick berbalik, tubuh atletisnya tercetak jelas di balik kaos hitam yang di kenangannya, wajahnya yang menunjukkan kekelaman dan suram justru semakin menambah daya tariknya hingga di mata Clarissa saat ini laki-laki itu terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.
Deg! deg! ada yang tak biasa dengan detak jantung Clarissa saat ini. Ia merasa gugup, dan gelenyar aneh yang tiba-tiba muncul.
"Apa kau juga akan ikut menemani ku?" tanya Erick, mengambil handuk kecil untuk mengelap wajahnya.
"Tentu saja."
"Kau tak perlu melakukan itu."
"Kenapa?" intonasi Clarissa sedikit meninggi seolah protes dengan apa yang Erick ucapkan.
"Kau punya kehidupan sendiri untuk di lakukan, jangan sia-siakan waktu mu hanya karena diriku."
"Tak ada yang sia-sia menurutku ... aku melakukannya karena aku mencintaimu Erickson."
Sejenak mereka saling tatap, kali ini Clarissa lebih berani untuk menatap pria itu lebih dulu.
Erick mendesah singkat. "maaf Clar tapi aku tak bisa membalas perasaan mu itu."
"Aku tahu." Clarissa menjawab cepat. "Aku sudah mengetahuinya sejak dulu Erick, dan aku menyadari sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa menggantikan posisi Elena di hatimu."
"Tapi ... kumohon, ijinkan aku selalu berada di samping mu, setidaknya sebagai seorang teman, jangan pernah usir aku dalam hidup mu Erick, aku tak akan sanggup." wanita menggeleng pelan.
__ADS_1
Erick tertegun, ia kemudian menghampiri Clarissa, duduk tepat di sampingnya, Clarissa kira pernyataan nya itu akan sedikit meluluhkan hati Erick, karena di saat pria itu semakin mendekat ia menutup matanya, di rasakannya kulit pipi mereka yang bersentuhan, jantung Clarissa berdetak seperti sedang melakukan marathon.
Tapi ternyata ekspetasinya salah, itu hanya angan-angan belaka, karena Erick segera menjauhkan diri dan berdiri dari duduknya, pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.