
"Inilah maksud dari perkataan tuan Erick, jika nyonya Sarah telah berselingkuh dengan pria muda yang lebih pantas di sebut sebagai putra nya, dan salah satu dari pria itu adalah Vicky." terang Zidan pada semua yang hadir.
Erick geleng-geleng kepala. "Aku tak menyangka jika Vicky juga termasuk dalam list pria berondong yang menjadi simpanan mu, miris." tukas pria itu dengan tatapan jijik.
"Brengsekk kau Erickson. Ini semua karena dirimu!" Sarah berteriak frustasi, sudah tak tahu harus bagaimana lagi membela dirinya, dia seperti telah kehilangan kewarasannya.
"Diam kau jallang siaalan!" Rey memotong, ia menggeram penuh amarah besar yang berapi-api menoleh menatap Sarah dengan keji, membuat Sarah ciut seketika.
"Sarah advika, aku menceraikan mu, mulai detik ini kau bukan isteri ku lagi!"
Duar! bagai tertimpa reruntuhan besar, Sarah terhuyung seketika setelah mendengar keputusan Rey yang tiba-tiba menceraikannya.
"Tidak, aku tidak mau. Jangan ceraikan aku, ku mohon." Sarah bersimpuh di bawah kaki Rey, enggan untuk di ceraikan apalagi dengan cara terhina seperti ini.
"Lepaskan aku! aku jijik di sentuh oleh mu!" Rey menghempaskan tangan Sarah dengan kasar. "Kau bukan hanya mengkhianati ku, bahkan telah menjual sebagian saham perusahaan tanpa sepengetahuan ku, itu sama seperti mencuri. Aku tak menyangka kau akan sebejat ini!"
Dea geleng-geleng kepala melihat tingkah Sarah di hadapannya. "Lucu sekali, dia yang dulu selalu meneriaki menuduh sahabat ku selingkuh, malah dia sendiri yang selingkuh di belakang suaminya. Mana dengan para berondong lagi, dasar tak bermoral!" kecam Dea, ikut merasa kesal.
"Ssst! Dea." Elena yang mendengar menyenggol lengan Dea, memperingati nya, takut jika omongan Dea sampai terdengar ke yang lain.
"Apaan sih, Len. memang benar kan dia tuh mak lampir otak dari segala otak dari prahara yang sedang terjadi ini, jahat banget tuh mak- mak tua!" desis Dea lagi, seolah sedang meluapkan emosinya juga.
"Nanti ada yang dengar, gak baik ngomong gitu." tukas Elena, kembali memperingati.
Namun naas meskipun mereka berbisik-bisik, tapi Sarah bisa mendengar jelas apa yang Dea ucapkan, hal itu semakin menyulut amarahnya.
Sarah yang kalap dan tak terkendali, netra nya menangkap sebuah pisau untuk memotong buah yang tertancap di atas buah apel di dalam keranjang atas meja, tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ketika semua orang tengah lengah Sarah segera berlari dengan segenap kekuatannya, mengambil pisau itu dan langsung mengarahkan pada leher Elena dari belakang.
Kejadiannya yang begitu cepat membuat semua orang kalah tangkap. Elena memekik ketika ia rasakan Sarah di arah belakang tiba-tiba menodongkan pisau ke lehernya, pun yang terjadi dengan Dea karena syok ia menjerit keras tersungkur karena Sarah yang berhasil mendorongnya.
Semua menjadi tak terkendali, Mona dan Clarissa kontan saja memundur kan langkah ke belakang, Rey, Erick dan Zidan mendelik langsung bergerak waspada dengan memasang kuda-kuda.
__ADS_1
"Sarah apa yang kau lakukan, kau sudah tak waras?!" pekik Rey, tak menyangka Sarah akan melakukan hal senekat itu.
"Ya aku memang sudah tak waras dan itu semua karena kalian!" jerit melengking Sarah seperti orang kesetanan.
"Apa yang coba kau lakukan pada istriku? lepaskan dia!" ujar Erick mendelik tajam, ingin maju namun saat ia melangkah kan kaki Sarah justru semakin menekan pisau di leher Elena.
"Berhenti di sana. Atau pisau ini akan langsung menggoorok leher istri mu!" peringat Sarah dengan misuh-misuh.
"Sarah, lepaskan gadis malang itu. Dia tak salah apa-apa," ujar Rey berusaha membujuk dengan perkataan penuh pengertian. "Ku mohon kendalikan dirimu. Jangan sakiti dia."
"Huh, kau lebih membela dia dari pada isterimu sendiri, biadddap kau Rey! kau yang menyuruhku untuk melakukan semua konspirasi ini tapi kau malah menceraikan ku, aku tak terima!"
"Aku menceraikan mu karena kau yang ketahuan berselingkuh. Jangan salahkan Elena dalam hal ini!" pungkas Rey yang mulai kembali tersulut.
"Jangan menyalahkan nya? justru karena si Jallang inilah sumber dari semua masalah yang terjadi padaku!" Sarah mencebik kasar.
"Brengsekk kau! lepaskan istri ku!" Erick tak bisa menahan lagi, ia ingin menerjang tapi di sisi lain ia tak berdaya.
"Aaaa!" jerit ketakutan Elena begitu menyayat terdengar, nampak pisau itu telah membuat lehernya berdarrah hingga cairan pekat itu mengucur sampai ke bajunya, Erick seketika melorot melihat itu, ia menggeram menggertakkan giginya penuh amarah yang tertahan.
"Diam kalian di sana, atau wanita ini akan matti!" teriak Sarah pada semuanya, dia berniat menjadikan Elena sebagai tameng dan bisa kabur dari sini.
Rencananya yang awalnya ia kira akan berjalan mulus justru berantakan, karna tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang menarik pelatuk pistol.
Tak! dari arah samping, polisi datang, menaruh ujung pistoll tepat di kepala Sarah.
"Anda kami tangkap!"
Sontak hal tersebut membuat Sarah bergetar seketika, saat wanita itu mulai terkecoh Erick segera menerjang mengambil tindakan.
Bugh! sikut nya ia layangkan di wajah Sarah. Wanita itu seketika terjungkal ke belakang, Erick segera menarik tubuh Elena ke pelukannya dan pisau yang di genggaman Sarah terhempas jauh.
__ADS_1
Sarah mengaduh, dua polisi lain di belakang nya langsung menarik kedua lengan wanita itu, Sarah tak bisa lagi berkutik saat dua polisi itu memasangkan borgol di tangannya.
"Fyuuh! ... syukurlah tepat waktu." Zidan mengesah lega, dia lah yang sebelumnya meminta pihak polisi untuk datang kesini berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk sampai terjadi. Untunglah tebakannya akurat jika Sarah ataupun Mona bisa melakukan hal nekat saat mereka sudah terpojok.
Elena tak sadarkan diri dengan leher yang bersimbah darrah, Erick yang panik dan cemas secara bersamaan berjongkok membawa tubuh gadis itu ke pangkuannya.
"Elena! sayang, bangun lah." Erick menepuk- nepuk pipi Elena guna menyadarkan sang istri, air matanya sudah mulai membanjiri takut sesuatu terjadi pada belahan jiwa nya.
"Elena, bangunlah sayang." Erick memeluk tubuh mungil Elena yang mulai mendingin. Dadanya bergemuruh hebat, rasa takut kehilangan dengan lancang mengambil alih pikirannya saat ini hingga Erick tak bisa berfikir jernih lagi.
"Elena maafkan aku, maafkan aku sayang." kembali, Erick memeluk tubuh Elena dengan erat.
Dea menghampiri ikut melihat keadaan Elena, wanita itu terisak di tempat.
"Seperti nya nyonya muda syok berat tuan sampai tak sadar kan diri seperti ini. Lebih baik anda segera bawa nyonya kerumah sakit," ujar Zidan menghampiri mereka.
Erick yang mulai kembali berfikir jernih, mengangguk dengan usulan Zidan. Pria itu berdiri dan menggendong Elena ala bridal style.
"Siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang!" titah Erick pada salah satu ajudannya.
"Baik tuan!"
"Erick, aku ikut." sahut Dea dari belakang.
Erick menoleh pada wanita itu, lalu mengangguk. Mereka bersama membawa Elena kerumah sakit.
Sementara Sarah segera di bekuk polisi dan akan dibawa ke kantor untuk diadili.
Mona merengek pada Rey minta pengampunan.
"Kau juga harus ikut bersama mereka nona Mona untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mu," ucap Zidan.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau, dad tolong selamat aku!" rengek Mona dengan tangisan andalannya menarik baju Rey sang ayah minta di bebaskan.