Gejolak Cinta Tuan Erick

Gejolak Cinta Tuan Erick
GCTE | Bab 38


__ADS_3

Pada akhirnya, Erick tak bisa lagi berdebat dengan sang istri lalu menyetujui untuk mereka kembali ke mansion.Meskipun masih ada keraguan dalam hatinya di karenakan begitu cepat ayahnya berubah pikiran, seperti ada firasat buruk yang coba untuk meruntuhkan dinding kepercayaan nya.


Namun ketika melihat Elena begitu senang dan excited karena mungkin mengetahui ia sudah bisa di terima oleh keluarga Davidson, berhasil membuat Erick mengesampingkan sejenak rasa curiganya.


Minggu ini, segera pasangan suami-istri tersebut bertolak dari apartemen ke mansion Davidson. Dengan memerlukan waktu yang lumayan jauh, sampai di sana ada begitu banyak para maid yang berjejer di selasar teras utama, menyambut kedatangan mereka.


Tak lama pak pandu, kepala maid berjalan ke arah tepat kendaraan roda empat milik Erick berhenti. Berdiri hormat menyambut kedatangan tuan muda dan nyonya muda mereka.


Erick yang mengenakan pakaian kasual membuka kacamata hitamnya mendongak ke atas menatap kembali kegagahan mansion davidson yang selalu nampak terlihat angkuh sejauh mata memandang.


Tepat ketika dua bilah daun pintu besar itu terbuka perlahan menimbulkan derit yang lumayan keras, di sana berdiri gagah tuan Rey davidson, lalu nyonya Sarah davidson dan putrinya nya muncul beriringan.


Tiba-tiba perut Elena terasa di aduk, tak menyangka ini akan menjadi situasi yang cukup menegangkan, di mana kini tuan Rey sedang beradu pandang dengan putranya. Elena takut jika terjadi perseteruan lagi kali ini.


Namun dugaan nya terbukti salah, terhempas begitu saja ketika melihat tuan Rey yang kini menuruni undakan tangga dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, pria paruh baya itu tersenyum kemudian memeluk Erick dengan binar bahagia terpancar di mata tuanya.


"Akhirnya kau kembali putra kesayangan ku."


Sementara yang di dekap nampak membeku. Erick seperti nya masih tak menyangka ayahnya akan bersikap demikian setelah ia lebih memilih pergi untuk mempertahankan wanitanya.


Tentu, kaca-kaca nampak berkilat di kedua netra pria itu, Erick tetap membisu untuk beberapa saat, lalu akhirnya ia balas merentangkan kedua untuk kemudian mendekap bahu sang ayah lebih erat.


Keharuan terjadi, seperti reuni kembali yang membahagiakan setelah perseteruan yang sempat terjadi pada ayah dan anak tersebut. Nyonya Sarah dan Mona ikut turun, merasakan keharmonisan kembali keluarga mereka.


Kemudian tuan Rey melepaskan pelukannya, kini menatap Elena yang masih berdiri kaku tak jauh dari tempat nya berada. Lalu pemilik properti terbesar di negaranya tersebut nampak melangkah menghampiri sang menantu, yang dulu sempat tak ia anggap dan caci maki.


"Selamat datang nak. Menantu perempuan ku ... "

__ADS_1


Elena merasa sangat tersanjung, matanya sudah berkabut karena terharu.Pak Rey menangkup kepala Elena dan melabuhkan kecupan hangat di kening sang menantu.


"Maaf jika dulu sikap papa sangat buruk padamu." Bahkan kini perkataan pria berdarah asli Australia itu nampak begitu lembut. Berbeda ketika pertama kali Elena datang untuk meminta restu.


Elena segera menggeleng, dengan sedikit keraguan mengenggam kedua tangan sang ayah mertua.


Erick melihatnya tersenyum bahagia.


Tak terkecuali kedua orang wanita yang tanpa sepengetahuan mereka, mencebik nampak tak suka.


"Akting daddy mu bagus juga ya,sayang." bisik nyonya Sarah pada putrinya.


"Tentu. Mona yang ngajarin." jawab gadis blesteran itu, asal. Memicing sinis menatap pemandangan yang sangat memuakkan untuknya.


"Setelah ini, kita bisa leluasa untuk menyiksa wanita kampungan itu," ucap nyonya Sarah.


"Benar sekali, mom. Wanita lusuh itu tidak tahu saja jika sebenarnya ini semua bagian dari rencana kita. Dia tidak tahu ketika dia menyetujui untuk datang kesini, sama saja dengan dia secara suka rela masuk ke kandang singa."


"Uuu,mommy tidak sabar untuk mengerjainya agar dia tak betah dan menderita lalu meninggalkan Erickson."


"Sama seperti mommy, aku juga sangat menantikannya. Kita akan menunjukkan pada wanita itu tempat dia yang sebenarnya."


...***...


"Selamat datang di rumah sebenarnya, putraku dan juga menantu ku." tuan Rey tak henti-hentinya memberi sambutan, seakan laki-laki itu tengah sangat berusaha meyakinkan keduanya apalagi Erick, jika dia sudah berubah dan menerima pernikahan mereka dengan lapang dada.


Erick tentu tak semudah itu percaya, namun mencoba untuk membuat semuanya mengalir seperti seharusnya. Ia bahkan masih ingat bagaimana raut amarah murka sang ayah dan saat menamparnya. Itu mungkin kali kedua ayahnya memberikan kekerasan fisik ketika dulu terakhir kali Erick merasakan tamparan itu ketika ia gagal memenangkan olimpiade sains di London dulu. Walaupun saat itu ia tetap membawa piala juara 2, ayahnya tetap tak merasa senang. Rasa ambisiusnya itu yang lalu menurun pada Erick di kemudian hari. Dan Erick benci harus mengakui fakta itu.

__ADS_1


**


"Silahkan tuan muda, nyonya muda. Kamar kalian sudah di bersihkan dan persiapkan dengan sempurna." pak Pandu mempersilahkan kedua pasutri itu menuju kamar mereka.


Meski bukan pertama kali menginjakkan kaki ke kamar Erick, namun kali ini ia harus memuji kamar itu di modifikasi dengan sangat sempurna. Lebih bagus dari sebelumnya, dan tentunya ada beberapa set tambahan seperti ruang ganti baru juga meja rias yang di tujukan untuk nya.


Dua maid berseragam persis, datang membawa dua koper keduanya, tadinya Elena hendak membantu mengambil alih namun segera pak Pandu melarangnya.


"Tidak, nyonya muda. Biarkan mereka melakukan tugasnya," ucap pak Pandu terdengar tegas. Pria berusia 60 tahun itu sudah lebih dari 3 dekade telah mengabdi pada keluarga davidson, itu sebabnya ia cukup di segani di wilayah mansion ini, pembawaan yang kalem namun tegas membuat Erick pun terkadang tak bisa berkutik.


Ah, Elena sejujurnya belum siap dengan kehidupan para kolongmerat ini. Namun bagaimanapun ia harus bisa beradaptasi.


"Baiklah." Elena lalu berlalu untuk melihat seisi ruangan yang hampir seluruhnya telah di rombak. Kecuali koleksi beberapa lukisan kuno juga benda antik milik Erick masih terpanjang cantik di sana. Juga kepala rusa yang di awetkan dan di hiasi sedemikian rupa, adalah hewan pertama yang berhasil Erick dapatkan sebagai aksi pertama nya dalam berburu, kini masih berada di tempatnya dan tak ada yang berani mengusiknya.


"Kenapa?" tanya Elena, setelah semua pelayan pergi. Laki-laki itu masih nampak diam saja dengan wajah mendung seperti sedang banyak beban pikiran yang membuat ekspresinya tertekuk dalam.


"Aku masih tak yakin dengan semua ini ... " gumamnya keras. Elena menggelengkan kepala sekilas sambil mendesah pelan, kemudian menghampiri sang suami mencoba meyakinkan nya kembali.


"Ayolah ... apakah kamu belum bisa memaafkan perlakuan papa dulu?"


"Tidak." Erick menjawab cepat.


"Jadi kenapa kamu terlihat ragu? cobalah untuk mempercayai, semuanya akan baik-baik saja. Seperti kamu yang selalu mengatakan itu padaku."


Erick membuang nafas panjang,ia kemudian mendekat, mendekap Elena dalam pelukannya menghidu aroma vanilla dalam-dalam di ceruk tengkuk leher sang istri, mengecup lama seolah mencari kedamaian yang paling aman di sana.


Sejujurnya Elena, aku tak yakin keluarga ini menerima mu dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2