
Happy reading 🌹🌹🌹
"Ini gawat!" Erick berjalan masuk ke dalam ruangan inap setelah pembicaraan singkat nya bersama Zidan. Pria itu bolak-balik seperti setrikaan, pria itu seolah sedang berfikir keras kentara dari raut wajahnya yang menegang, Elena yang melihat pun ikut khawatir.
"Ada apa?" tanya Elena.
"Ternyata banyak yang telah terjadi selama aku tengah memulihkan kondisi," ucap Erick yang tak di mengerti Elena.
"Memangnya ada apa? apa terjadi sesuatu?!"
"Elena, aku harus kembali ke kantor segera," sergap Erick cepat. "Perusahaan sangat membutuhkan saat ini."
"Jelaskan dulu padaku,apa yang Zidan laporkan pada mu? apakah situasinya sangat genting?!"
"Bukan hanya genting tapi ini kacau! yang pasti saat ini kita harus siap menghadapi masa-masa sulit. Kau tahu, terjadi masalah internal dalam perusahaan dan penyebabnya adalah nyonya Sarah, ibu tiri ku. Sementara dia sendiri baru saja di nyatakan bebas dengan bantuan orang dalam. Benar-benar kapparat!"
Elena syok, saking terkejutnya ia sontak menutup mulut dengan telapak tangannya. "Jadi nyonya Sarah di bebaskan begitu saja? bagaimana bisa, sementara kejahatannya sangat lah banyak dan fatal."
"Itu dia! ck, ini tak bisa terus di biarkan. Aku akan menyelidiki nya. Selama itu kita mungkin tak akan bertemu untuk beberapa waktu, ku mohon jaga dirimu saat aku tak ada di samping mu ya."
Elena shocked! ucapan Erick terdengar tak mengenakkan di telinga nya, pasti masalah yang timbul saat ini sangatlah kacau dan di luar perkiraan mereka.
Elena mengangguk. "Baiklah. Semoga semuanya cepat beres."
Erick pun balas mengangguk. "Semoga!"
Laki-laki yang sudah berganti pakaian berubah menjadi setelan jas parlente dengan dasi rapi tersebut hendak pergi namun sesuatu menahannya, Erick pun berbalik lagi.
Cup!" dengan gerakan yang tanpa aba-aba, Erick menarik lembut kepala Elena dan melabuhkan kecupan di kening gadis itu.
"Ku mohon jaga diri mu baik-baik, jika sesuatu terjadi segera lapor pada ku atau Zidan." pesan Erick, bagaimana pun harus ada antisipasi karena kini Sarah sudah bisa berkeliaran bebas lagi dan takut akan menyakiti istrinya.
Bagaimana pun kelemahan terbesar seorang Erickson adalah Elena-nya. Dan mungkin Sarah sudah mengetahui itu dan akan membuat rencana licik lagi.
Erick sedikit menekan kepala Elena, untuk sejenak mereka berdua bersitatap, Elena seperti merasakan perlindungan luar biasa dari mata pria itu, membuatnya terhipnotis lalu ia mengangguk.
"Mmm ... kau tak usah cemas, aku akan menjaga diriku dengan baik."
Erick menarik sudut bibir sekilas. "Good girl." lalu ia segera berbalik untuk pergi.
Elena mengeluarkan nafas berat saat menatap punggung Erick yang semakin menjauh bersamaan pula dengan kedua bahunya yang berubah layu.
__ADS_1
"Semoga semua masalah yang terjadi bisa cepat terselesaikan."
...--------Oo--------...
"Tuan. Saat ini para petinggi dan para pemilik saham sedang menunggu kehadiran anda di ruang rapat, mereka terlihat semakin tak sabaran. Saya sedikit cemas, sekarang anda di mana?"
Zidan bertanya lewat sambungan telepon, pria itu menepi di pojok ruangan yang nampak sangat mencekam saat ini, atmosfer di sekitar seolah sedang membawanya ke dalam wahana rumah hantu, menakutkan.Apalagi kini kericuhan mulai terjadi saat satu dua mulut sedang saling melempar argumen lalu berakhir dengan cekcok.
"Aku akan sampai lima menit lagi, tolong atasi dulu keadaan. Aku sedang berjalan ke sana sambil membaca laporan, kau tunggu saja," ucap Erick ia terlihat sangat sibuk ponsel ia tekan di antara telinga dan bahunya, sementara tangan dan matanya sama-sama sibuk menelaah laporan masalah yang terjadi di dalam dokumen yang di berikan belum lagi dua orang karyawan kini tengah saling mengungkapkan pemikiran dan solusi dan Erick harus mendengarkan penjelasan mereka satu-satu.
Saat tiba di pintu ruang rapat.
Dreeet! ketika pintu setengah kaca Erick buka, semua hening seketika, semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arahnya serempak.
"Akhirnya yang di tunggu datang juga," ucap salah satu investor yang menanam saham di perusahaan ini cukup besar.
"Kami meminta pertanggungjawaban anda pak Erick, sekarang perusahaan benar-benar sangat kacau!"
Erick menghela nafas, ia tahu bagaimana resiko dan apa yang harus ia jabarkan dan tanggung jawabnya atas apa yang terjadi, termasuk terkait kasus kriminal ibu tirinya yang menyebabkan masalah internal di perusahaan ini terjadi.
***
Detik demi detik menjadi menit dan jam yang terus berlalu, pada akhirnya meeting berakhir dengan skor imbang, ada dua kubu saat ini, dan keputusan masih alot untuk di berikan. Mereka memutuskan untuk menunda karena Erick meminta waktu hingga jalan keluar terbaik di temukan.
Erick keluar ruangan dengan wajah tertekuk dan tatapan horor, sementara yang lain pulang dengan raut wajah tak puas dan kesal.
Drrrt! ddrrt! tiba- tiba ponselnya bergetar, Erick berhenti untuk melihat panggilan yang masuk pun Zidan yang sedang membawa map dan berkas berhenti tepat di belakang Erick.
Nomor tak di kenal? Erick mengernyit.
"Halo siapa ini?"
"Ck. ck. kamu melupakan ibumu, Erickson putraku tercinta?" suara di seberang sana terdengar.
"Kau!" Erick sontak mendelik. "Sarah!"
"Ya, ini aku. Sarah, ibumu. Bagaimana? kau menikmati permainan yang ku ciptakan?!"
"Brengsekk! jadi ini semua karena dirimu! setelah melakukan kriminal transaksi jual-beli saham ilegal kau juga yang telah menciptakan masalah internal dalam perusahaan ku!"
"Yap. Bagaimana? kau menyukai nya putraku?"
__ADS_1
"Kapparat!" Erick mengumpat.
Terdengar suara tawa menggelegar di sana seakan penuh kemenangan.
"Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang ku terima selama ini. Kau dan Rey ayahmu yang bajjingan itu, akan merasakan kehancuran yang sama, yang telah kalian perbuat padaku dan putriku!" Sarah di tempatnya nampak berucap dengan berapi-api dan mata memerah seolah penuh luka. Lalu dia menyeringai lagi.
"Sebentar lagi kau mendapatkan kabar mengejutkan tentang ayah mu, lihat saja."
Tut! lalu sambungan terputus.
"Halo! halo! apa yang kau katakan brengsekk!" Erick berteriak kencang, Zidan pun sampai terkejut sebenarnya tak berniat menguping namun semua terdengar jelas di telinga nya.
Tak lama, suara ringtone ponsel terdengar kembali Erick mengangkat nya, seseorang di seberang sana melaporkan kabar yang berhasil membuat Erick mematung seketika.
"Apa? papa kecelakaan!"
**
Di rumah besar milik Winston.
"Rencana kita berhasil, mobil Rey Davidson yang sudah di sabotase anak buah ku kini berakhir mengenaskan di pembatas jalan setelah oleh dan menabrak sebuah truk. Aku bisa jamin Rey Davidson akan sekarat untuk beberapa waktu karena menurut laporan luka yang di alaminya cukup parah."
"Itu bagus, jika perlu matti saja sekalian. Rey pria brengsekk itu tak pantas lagi untuk hidup," ucap Sarah di penuhi dendam.
"Kau terlihat sangat membencinya, apa tak sedikit pun rasa cinta yang tersisa untuk suami mu itu, maksudku-- yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami," ucap Winston bertanya.
Sarah mendengkus. "Cinta? aku sudah muak mendengarnya, yang kini tersisa hanyalah kebencian untuknya. Setelah semua yang ku lakukan dan pengorbanan ku untuk tetap berada di sampingnya terasa sia-sia dengan hanya satu kesalahan. Rey si brengsekk itu bahkan tak pernah benar-benar menepati janjinya yang telah dia berikan untuk ku."
Winston menggeleng, prihatin. "Kau juga bodoh, kenapa mau saat Rey meminta mu menjadi yang kedua. Harusnya saat itu kau bersama ku saja dan kita akan hidup bahagia."
Sarah menatapnya. "Itu penyesalan masa lalu ku, Winston, tapi kini tak ada gunanya lagi menyesal jadi sekalian saja ku hancurkan mereka semua!"
"Lalu bagaimana dengan Mona?" ujar Winston kembali.
"Kau tahu selama ini aku sudah sangat sabar dengan menuruti permintaan mu. Tapi sekarang?" Winston menggeleng. "Tidak lagi."
"Aku ingin segera mengatakan pada Mona jika akulah ayahnya yang sebenarnya. Kau tidak bisa lagi memisahkan ku dengan putri ku."
Sementara Winston terus bicara, ada seseorang yang mendengar semua percakapan mereka di balik tembok. Orang itu membekap mulutnya erat-erat setelah mendengar sebuah kebenaran yang tak pernah ia sangka. Hingga rasanya tak sanggup ia menahan tubuhnya.
"Mom ... aku tak menyangka."
__ADS_1